Kebingungan Reihan

1117 Kata

Di gazebo taman belakang rumah, Reihan sedang duduk termenung seorang diri. Matanya menatap ke dalam kolam yang berada tak jauh darinya. “Kenapa jantungku berdebar kencang saat dekat dengannya. Debar yang sudah lama nggak pernah aku rasakan, meskipun saat bersama Lily,” lirih Reihan sambil memegang dadanya yang masih terasa berdegup kencang. Pemilik mata tajam itu benar-benar telah buta, hingga dia tidak sadar jika rasa untuk Ana sebenarnya masih ada. Di hatinya ternyata nama Anastasia Wijaya masih tersimpan dengan indah. Namun, dendam yang tidak jelas muaranya telah menghancurkan semuanya. Apakah masih kurang jika lelaki itu disebut tidak memiliki otak yang waras? “Menyia-nyiakan berlian demi batu kerikil yang banyak berserakan di pinggir jalan,” gumam Reihan kembali mengulang perka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN