Headline news!
Diberikan skorsing kepada Faruk Helmian karena melakukan pelanggaran pada mata kuliah Struktur Data. Skorsing selama satu semester dan wajib mengulang mata kuliah yang sama pada semester berikutnya.
Pemberitaan itu sangat mencoreng nama baik program Ekstensi. Semua orang kaget dengan pemberitaan ini. Sangat tidak disangka-sangka. Mas Faruk adalah tipe manusia yang mengayomi. Ia memberikan penjelasan kepada dosen bahwa ia ada masalah besar dan terpaksa menukar kertas ujian demi lulus mata kuliah itu. Malam sebelumnya ia harus di rumah sakit untuk menemani adiknya yang akan operasi. Alasan ini tetap tak bisa diterima. Ia telah menyalahi aturan yang dibuat oleh universitas.
"Ran, gue ngerasa kita salah."ucap Peta dengan mata nanar. Ada penyesalan yang sangat besar. Dia begitu tega menghancurkan orang lain hanya demi nafsu sesaat. Dan tentu saja atas hasutan seorang Pangeran.
Eran tampak memikirkan hal yang sama. Walaupun perilaku Faruk salah tapi rasanya ini terlalu jahat.
"Ini semua gara-gara lo! Mulai sekarang mending kita berhenti ketemu. Gue gak mau lagi berurusan sama lo. Dan jangan pernah lagi minta bantuan sama gue."ucap Peta tegas. Tak ada balasan untuk ucapan itu. Eran terlihat sangat menyesali perbuatannya. Peta tak ingin lagi berurusan dengan Eran. Terutama untuk mencari tahu tentang hal seperti ini. Rasanya seperti mengkhianati seseorang. Sial!
Perbuatan Mas Faruk sangat berdampak bagi seluruh mahasiswa Fasilkom. Semuanya menjadi serba ketat. Peraturan baru dicanangkan demi menghindari terjadinya hal serupa. Inilah yang disebut belajar dari pengalaman. Namun, mahasiswa harus terbiasa dengan ketatnya peraturan. Peraturan yang tadinya seketat bra baru, diperketat lagi. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sesaknya jadi mahasiswa.
"Kasihan ya sama Mas Faruk. Dia itu baik banget tahu."seru Channy sambil menikmati ketoprak yang ada di atas mejanya. Wajahnya terlihat kecewa dan kasihan. Dua hal yang bercampur di dalam benaknya. Begitulah manusia yang menaruh ekspektasi begitu tinggi. Ujungnya malah kecewa berat.
"Dia salah juga sih, kenapa mesti nuker kertas ujian."balas Shava.
"Iya, apapun alasannya, tetap aja dia bersalah. Kalau hal kayak gitu dibiarin kan bahaya."balas Ammi sambil mengutak-atik laptopnya. Dia sedang mengerjakan tugas partisipasi yang harus diupload di forum SKALA. Tugas partisipasi yang akan berguna untuk mendongkrak nilai di akhir semester. Ini sih sangat membantu mahasiswa. Ya, namanya juga mahasiswa. Tetap saja ada yang berani tidak mengumpulkan tugas partisipasi. Mereka cenderung malas dan ogah-ogahan.
"Tapi gue penasaran tahu, kenapa ketahuannya sekarang ya? Padahal itu terjadi udah semester lalu."tanya Dully mempertanyakan. Seketika semua orang sadar. Mereka akan tahu kalau ada yang tidak beres.
"Dul, Dul, berarti ada yang ngadu. Iya gak sih?"sahut Channy ikut mempertanyakan.
"Iya juga. Tumben lo gak lemot Cha."ledek Dully sambil tertawa.
Mereka tak terlalu peduli tentang hal itu. Peristiwa itu cukup membuat mereka makin takut melanggar peraturan di kampus ini. Siapa tahu di fakultas ini ada mata-mata yang siap melapor jika terjadi pelanggaran. Serem juga ya. Berasa ada yang mengawasi tapi kita gak tahu siapa orangnya.
"Lo kenapa Ta, kok diem-diem bae dari tadi?"seru Channy menghentikan lamunan Peta. Tingkahnya jadi gak karuan. Lebih tepatnya salah tingkah.
"Hah? Ehm, gue gak enak badan nih."ucap Peta berbohong.
"Kalau gak bisa kuliah, pulang aja Ta. Sekali-kali bolos no problem."ucap Ammi menyarankan. Dia perhatian pada orang yang sedang berbohong level akut.
Setelah dipikir-pikir, iya juga. Sebaiknya ia bolos saja dan pulang. Rasanya penat sekali. Ia ingin berhenti memikirkan segala kekacauan ini. Lagi dan lagi, dia melakukan sesuatu yang melanggar privasi orang lain. Dia emang bikin Mas Faruk mendapat hukum yang setimpal, tapi kenapa rasanya tidak puas ya? Kenapa rasanya seperti melempar pengemis yang mengambil sedikit sisa makanan di atas meja makan yang sudah mau ditinggal? Sungguh sangat jahat.
"Iya deh, kayaknya gue balik duluan. Gue izin ya guys."ucap Peta pamit.
"Mau dianterin gak, Ta?"tawar Dully. Dully punya motor yang siap untuk mengantarnya.
"Engga Dul, thanks. Gue naik GrabCar aja."
Ia langsung pergi. Ia ingin merenungkan perbuatannya yang tak benar itu. Menyalahkan Eran juga rasanya tak berguna. Semua hal ini membuatnya ingin melarikan diri. Pergi dan tak kembali lagi. Ya, seperti saat ia di dropout dari UNRI. Jangan kaget! Meski seharusnya semua orang akan kaget mendengarnya. Peta gak mampu membayangkan gimana reaksi semua orang kalau tahu dirinya pernah di dropout.
Kelas dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Mata kuliah malam ini sangat relate dengan apa yang diperbuat Eran dan Peta. Mata kuliah Komputer dan Masyarakat yang mengajarkan tentang istilah doxing. Doxing adalah penyebarluasan ke dalam internet tentang informasi pribadi seseorang oleh suatu pihak dengan tujuan mengancam, mengintimidasi atau menghukum individu tertentu. Contoh yang paling sering ditemui adalah akun i********: Lambe Turah yang kerap share aktivitas artis-artis tanpa izin. Doxing is dangerous karena bisa melanggar privasi dan UU ITE.
Saat mendengar penjelasan itu, Eran merasa tertampar. Ia malu dan menyesal. Andaikan waktu bisa diputar, ia ingin sekali mengubah segalanya. Ya, seharusnya ia tidak minta bantuan pada Peta. Ia mencari-cari sosok Peta tapi tak ketemu. Eran langsung mengirimkan pesan w******p tapi tak dibaca.
"Lo kenapa sih? Khawatir sama gebetan lo?"seru Pinta saat melihat pesan w******p cowok itu.
"Bukan apa-apa Pin. Jangan negatif deh."
"Lo suka sama dia?"
"Engga!"
"Terus kenapa lo akhir-akhir ini nempel mulu sama dia?"
"Pin, gue jujur ya sama lo?"
Pinta mengangguk.
"Gue cuma minta tolong dia untuk ngelakuin sesuatu. Dan gara-gara gue, dia gak masuk kelas sekarang. Gue menyesal dan merasa bersalah."
Pinta mengerti. Ia tahu kalau Eran berkata jujur. Bersama begitu lama membuatnya memahami cowok itu secara utuh. Dia bisa tahu kalau cowok itu lagi bohong atau jujur. Ya, mudah saja mengetahuinya dari mimik wajah Eran.
"Lo minta tolong apa sama dia?"
"Maaf ya, gue gak bisa ngasih tahu. Nanti kalau udah waktunya gue kasih tahu deh."
Pinta setuju. Toh, Eran berkata jujur.
Syukurlah, dia gak ada hubungan apa-apa sama Peta.
Pikiran Eran masih tertuju pada kejadian-kejadian itu. Ia khawatir pada Peta. Ia juga khawatir pada hidup Mas Faruk. Cowok itu tak berpamitan sebelum benar-benar pergi. Semua orang khawatir padanya. Banyak yang mengirimkannya pesan agar cowok itu terhibur. Dia memang terkenal ramah dan bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Sosoknya seperti orang dewasa yang jadi panutan bagi teman-teman. Walau rasa kecewa menjelma, tapi tetap saja ada sisi positif yang bisa diambil dari dia. Tak heran begitu banyak yang merasa kehilangan.
Dully tampak gusar dan mencoret-coret buku tulisnya. Penjelasan dosen yang sedang mengajar membuatnya makin ngantuk. Ia memikirkan Mas Faruk, sosok yang selalu membantunya ketika mengalami kesulitan mengerjakan praktikum pemrograman Java. Dully curiga bahwa ada seseorang yang mungkin saja membocorkan kebenaran itu. Apalagi mereka sedang belajar tentang doxing. Semua tampak berkaitan.
"Al, lo kasihan gak sama Mas Faruk?"tanya Dully pada Alfa yang duduk disampingnya.
"Lah, bukannya dia pantes dapetin itu? Itu hukuman untuk orang yang berbuat salah."
"Tapi dia punya alasan kan?"
"Tetap aja salah, apapun alasannya."
"Benar sih. Tapi kalau semisal itu semua karena perbuatan seseorang, menurut lo wajar gak?"
"Maksud lo apa?"
"Sadar gak sih, itu kejadiannya udah semester lalu. Tapi ketahuannya sekarang. Berarti ada yang ngelaporin dia Al!"
Alfa terlihat berpikir. Memang tidak ada yang menyadari hal itu. Mereka hanya fokus pada kenyataan bahwa Faruk berbuat salah. Selain itu, mereka tak terlalu peduli.
"Eh, lo bener juga. Tapi siapa yang benci sama Mas Faruk?"
"Entah lah Al. Gue juga penasaran."
Dully mengambil ponselnya dan mencari kontak Mas Faruk.
"Mas, lo gapapa kan? Sabar ya, tetap semangat biar semester depan bisa kuliah. Oh ya mas, kayaknya lo harus nyari tahu siapa yang ngelaporin lo. Feeling gue, ada orang lain dibalik kejadian ini. Gue harap lo baik-baik aja."
Sent!
Dully merasa lega setelah mengirimkan apa yang ia pikirkan. Ya, mungkin saja ini hanya kecurigaan semata. Tapi tidak ada salahnya jika Mas Faruk coba untuk mencari tahu. Dully kembali mendengarkan penjelasan lebih lanjut tentang doxing.
Semakin canggih teknologi, semakin mudah seseorang untuk melakukan doxing. Asal punya skill yang mumpuni, untuk menghilangkan jejak sangatlah mudah. Rasa penasaran terkadang lebih besar daripada hati nurani. Bikin mereka melakukan apa saja untuk membongkar pribadi seseorang.