Part 12 wait me

505 Kata
"Tha, Makasih ya, buat bantuan kamu," ucapnya. "Iya. Nggak apa-apa, Dit.. Kita, kan, temen. Harus saling bantu," sahutku sambil terus melihatnya. Kondisiku memang agak lemah, tapi aku baik-baik saja. Namun di ujung ekor mataku, ada sebuah sosok yang duduk di kursi belakang. Aku menoleh pelan. Lalu kembali melihat depan dengan agak gugup. 'Perasaan tadi udh ketemu, ngapain lagi dia di sini?' batinku. 'Makasih, Aretha. Sampaikan salamku buat Radit dan Papah,' ujarnya dengan suara lembut dan membuatku merinding. Aku melirik sekilas, lalu menghilang. Kini aku menoleh sepenuhnya ke belakang. Benar, dia sudah pergi. "Kenapa,Tha?" tanya Radit heran sambil fokus menyetir. "Fendi nitip salam buat kamu sama Papa kalian," jelas ku. Kulihat wajah Radit agak berubah. Dia menoleh ke belakang dengan wajah sedih. "Andai Fendi nggak meninggal ya, Tha ... Aku bakal punya saudara. Jadi nggak kesepian lagi kalau di rumah," ucapnya membuatku iba. Kusentuh bahunya pelan, mencoba menguatkannya, karena apa yang terjadi di hidupnya memang menyedihkan. "Kamu kok ngomong gitu. Kan ada aku," kataku. "Eum ... serius?" tanyanya dengan mata berbinar. "Iyalah." "Kalau gitu kita jadian, yuk," anaknya dengan senyum lebar. Seolah sedang mengajakku main saja. "Lho kok jadian?" "Hehe.. " Dia malah cengengesan. "Ketawa lagi," gerutu ku. Sambil memukul lengannya pelan. "Tapi, serius kok, Tha. Aku... suka sama kamu." Dia mengatakan dengan tatapan tajam langsung ke bola mataku. "Eum ... Hehe." kali ini justru aku yang tertawa ragu. Bukan karena hal itu lucu, tapi karena aku bingung harus menanggapi apa sekarang. "Kok gantian kamu yang ketawa? Beneran loh, sumpah." jelasnya dengan menaikkan jari telunjuk dan tengah ke atas. Aku kembali ketawa kecil. "Memangnya kamu berani minta ijin ayah sama bundaku?" tanyaku menantangnya. "Kalau itu belum berani, Tha.. Hehehe." "Ya udah. Aku mau nerima kamu, kalau kamu mau minta ijin ayah bundaku," jawabku dengan senyum senyum. Dia kini malah menggaruk kepalanya yang kutahu tidak gatal.. "Kalau gitu, besok-besok aku lamar kamu aja sekalian, Tha," katanya lagi. "Boleh! Aku tunggu ya!" tantangku. "Deal." dia mengulurkan jari kelingkingnya padaku. Ku sambut dengan jari kelingkingku juga."deal!" "Suatu hari nanti,aku bakal lamar kamu, Tha! Pasti!" ucapnya serius. Dan hal ini membuat hatiku berdesir tidak karuan. "Aku tunggu, Dit!" Perjalanan terasa cepat, padahal aku menginginkan menjalaninya selama beberapa jam lagi. Rasanya duduk berdua bersama Radit seperti sekarang membuat hatiku senang. Tapi, aku tidak boleh secepat itu memutuskan untuk menerimanya. Ada sebuah perbedaan besar di antara kami. Dan itu cukup berat bagi kami. "Eh, Dit, kita mau ke mana sih?" tanyaku yang baru sadar kalau arah mobil Radit bukan menuju rumah. "Ke rumah sakit, kan? Kondisi kamu harus diperiksa, Tha," jelasnya sambil sesekali menoleh padaku. "Eh, ngapain?! Udah ih, pulang aja." "Loh, kok gitu? Tadi aku pamit Arden anter kamu ke rumah sakit loh," katanya tidak mau kalah dalam perdebatan ini. "Enggak mau! Pulang aja dong, Dit. Aku takut kalau ke rumah sakit. Mana ini udah malem. Pulang aja, ya. Aku nggak apa-apa kok. Beneran." Radit diam beberapa saat, ia lalu menarik nafas panjang dan mengangguk. "Ya udah, kita pulang." Akhirnya mobil Radit berbelok dan kembali ke rute sebelumnya. ________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN