Satu bulan berlalu sejak insiden penculikanku. Tomy ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penculikan dan pembunuhan. Ia terbukti telah membunuh Friska secara tidak sengaja. Tomy memang menaruh hati pada Friska, tetapi Friska lebih tertarik pada Billy. Hal itu yang membuat emosinya memuncak. Mayat Friska dikuburkan di halaman belakang rumahnya. Hal ini membuat heboh satu sekolah juga lingkungan tempat tinggal Tomy. Orang tua Tomy sangat malu atas perbuatan anaknya. Bahkan sang ayah tidak pernah mau mengunjungi putranya selama di tahanan.
"Eh ... Nanti ke rumahku dulu ya. Aku belum bawa sepatu sama seragam basket," pinta Radit sedikit memaksa.
Sore ini jadwal Kak Arden, Radit, Doni, Dedi dan Ari latihan basket. Kami pun mengiyakan ajakan Radit. Dan ini juga hal yang kutunggu, karena aku belum pernah berkunjung ke rumahnya.
Kondisi Radit sudah lebih baik dari sebelumnya. Alhasil setelah pulang sekolah kamu ikut Radit ke rumahnya. Aku memang merengek minta ikut, karena bosan di rumah sendirian. Kedua orang tuaku sedang pergi ke luar kota. Sedangkan Kiki, jangan tanya mengapa ingin ikut mereka latihan basket di sekolah. Tentunya karena ada Doni. Danu dan Dion juga memang aktif basket, sama seperti Kak Arden, Radit, Doni, Dedi, dan Ari. Dengan menaiki dua mobil, kami berpencar. Satu mobil ke rumah Radit, satu mobil ke rumah Doni. Karena hanya mereka berdua yang belum membawa perlengkapan latihan.
Sampai di rumah Radit, semua sedikit takjub dengan pemandangan di depan kami. Kecuali Kak Arden. Rumah Radit terbilang cukup mewah. Pintu gerbangnya tinggi, dengan halaman yang sangat luas, lebih luas dari halaman rumah Kiki, tetapi tidak denganku. Ia malah merasa tidak nyaman saat melihat rumah ini. Ada sesuatu yang lain.
"Melongo aja," sindir Dion padaku yang duduk di sampingnya, bersebelahan juga dengan Danu, sedangkan kursi depan ditempati oleh Kak Arden. Aku hanya melotot ke Dion yang biasa usil.
"Kalian masuk dulu. Aku langsung ke kamar ya," kata Radit, melepas sabuk pengaman, turun dari mobil. Ia berlari kecil masuk ke dalam meninggalkan kami.
"Yuk, masuk. Gerah di sini," ajak Kak Arden turun lebih dahulu.
"Kak ..." panggilku lalu menyusul langkah kakakku dengan melingkarkan tangan di lengannya.
"Kenapa? "tanya Kak Arden santai.
"Kakak udah pernah ke sini sebelumnya?"
"Udah. Kenapa? Ada yang nggak beres ya?" tanya Kak Arden serius sambil menatap gelagatku yang aneh sejak sampai.
Itulah Kak Arden, dia bisa bersikap seperti manusia normal pada umumnya jika tidak ingin menggunakan kemampuannya. Kak Arden bisa mengatur sesuai keinginannya. Kapan ia ingin melihat makhluk astral atau tidak. Kak Arden bisa merasakan aura gelap di sekitarnya yang ditandai dengan demam di tubuhnya, tetapi hanya jika aura itu sudah terasa gelap pekat. Sedangkan aku bisa langsung tahu dan merasakan jika ada makhluk gaib di suatu tempat.
"Aku belum yakin sih, Kak. Cuma gimana ya. Aku nggak suka di sini," ucapku makin mengeratkan pelukannya di lengan kakakku.
"Ya udah, lagian kita di sini cuma sebentar aja, kan?"
Sampai di ruang tamu yang pintunya terbuka lebar, kami masuk dan hanya berdiri menatap beberapa furnitur yang memang antik di ruangan ini. Dion mengamati setiap sudut ruangan, lalu terpaku pada sebuah lukisan seorang wanita. Wanita dengan memakai pakaian adat Jawa yang terlihat sangat cantik. Setiap detail warnanya seperti hidup. Hal ini pula yang membuatku terkesima dan menjajari Dion.
"Keren ya, Tha," cakap Dion dengan menatap takjub lukisan di hadapan kami.
Aku mengulurkan tangan, menyentuh lukisan itu. Namun, hanya dalam hitungan detik, langsung aku menarik kembali tangan. Dahiku berkerut. Menatap lukisan ini aneh. Seperti ada sengatan listrik dengan siluet gambaran sebuah kejadian. Sebuah p********n yang masih buram. Tidak jelas siapa korbannya dan siapa pelakunya.
Rumah Radit memang banyak lukisan dan patung ukiran. Sepertinya orang tua Radit sangat menyukai seni. Ada juga guci-guci besar dan mewah, yang pasti harganya cukup mahal. Hal ini menambah kesan horor di rumah Radit. Patung sangat tidak direkomendasikan untuk keluarga kami. Bunda tidak suka dengan pajangan seperti itu. Bahkan untuk lukisan dan foto juga sangat sedikit di rumah kami.
"Kenapa, Dek?" tanya Kak Arden yang melihat ku aneh.
Aku menggeleng pelan, karena tidak yakin dengan apa yang kulihat barusan.
Radit yang sudah siap dengan seragam basket pun, heran melihat aku. Dia mendekat. Seperti yang lain yang kini mengerubungiku.
"Kamu kenapa?" tanya Radit bingung. Semua akhirnya ikut menatap lukisan itu. Kalau aku atau Kak Arden bertingkah aneh, mereka pasti langsung curiga kalau ada sesuatu yang tidak beres.
"Kamu dapat lukisan ini dari mana, Dit?" tanyaku terus menatap lukisan ini dengan perasaan tidak nyaman.
"Oh itu, Papaku dapat pas lagi ke Bali. Baru sebulan di sini. Kenapa, Tha?" tanya Radit menyelidik.
"Nggak apa apa ... Yuk kita langsung ke sekolah," ajakku lalu segera berjalan ke depan diikuti yang lain. Walau ada rasa yang masih mengganjal, aku berusaha menepis semua itu agar teman-teman tidak khawatir, terutama Radit.
Sampai di sekolah, segera kami ke ruang basket. Di sana sudah ada Kiki dan Doni yang makin mesra saja. Suasana sekitar juga sudah ramai oleh beberapa anak yang akan bermain basket.
===
Latihan basket pun dimulai. Ini juga ajang tanding antar tim. Aku dan Kiki duduk di tempat duduk paling atas. Ada beberapa penonton juga di sekitar. Sehingga pertandingan sore ini cukup ramai.
"Eh, Tha, lihat tuh cewek yang bertiga di sana," tunjuk Kiki dengan mengangkat dagunya.
"Kenapa?" tanya ku santai. Dengan mata terus mengikuti pergerakan pemain.
"Risma kan naksir berat sama Radit," bisik Kiki sengaja mengatakan hal itu.
"Terus? Masalahnya apa buat gue?" tanya ku santai sedikit sinis, namun mataku melirik ke arah Risma. Aku penasaran dan memperhatikan tiap detail gadis di seberang dengan tatapan tidak suka.
"Yaelah, Aretha! Nggak usah sok cuek deh. Gue tahu elu naksir Radit," ujar Kiki ceplas-ceplos.
"Kata siapa, ngawur!" elakku lalu fokus melihat pertandingan basket.
"Hmm, gue kenal elu itu berapa lama sih, Aretha? Apa sih yang gue nggak tahu dari elu, hah?" tanya Kiki dengan nada sinis.
"Ya biar aja lah, Ki. Lagian aku sama Radit juga nggak ada hubungan apa-apa," ujarku dingin.
Latihan basket selesai diakhiri dengan tepuk tangan dari pelatih dan para penonton. Aku pun sangat antusias memberikan aplous pada mereka.
Tim Kak Arden mendekat ke tempat aku dan Kiki duduk. Tas mereka memang ada di sini karena kami selain menjadi penonton juga sekaligus penjaga tas mereka. Cukup berguna juga, kan. Aku menyodorkan botol air minum ke Kak Arden. Kak Arden langsung meneguk air itu hingga tandas.
Sementara itu, Risma mendekati Radit yang sedang mencari sesuatu di tasnya. Dengan keringat yang masih mengalir di sekujur tubuh. Bahkan bajunya juga sudah basah sebagian. Ia tidak memedulikan keringat yang mulai menetes jatuh ke lantai.
"Radit ... Nih aku bawain kamu jus. Pasti kamu haus, kan?" tanya Risma yang tiba-tiba saja sudah ada di antara kami. Dan cukup memberikan kebingungan pada kami, dengan saling melempar pandang satu sama lain.
"Nggak usah. Gue nggak minum es kalau abis latihan baskset."
Radit melirik ke arahku sambil meneguk air minum yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Semua orang melirik ke arah Risma dan Radit lalu beralih kepadaku yang agak salah tingkah melihat Radit didekati Risma. Entah kenapa aku mulai gerah. Risma sedikit mati kutu mendapat penolakan dari Radit, tetapi usahanya tentu tidak hanya sampai di sini.
"Dit, nanti pulang bareng yuk. Rumah kita kan searah," ajak Risma sedikit manja.
"Maaf, aku balik sama Aretha nanti."
Radit menatapku tajam, Aku melotot, dan kaget dengan pernyataan Radit barusan. Radit mengedipkan sebelah matanya kepadaku tanpa diketahui Risma. Dan aku mengerti maksud perkataannya.
"Bukannya Aretha pulang sama Arden, ya?" Risma melirik ke arahku, sinis. Sepertinya ia tidak ingin gagal dalam menarik perhatian Radit.
"Aku mau pergi sama Dedi nanti, jadi Aretha pulang sama Radit," kata Kak Arden berkomplot dengan rencana Radit. Kompak sekali mereka, ya. Risma agak kesal, tetapi mampu ia tutupi agar tidak terlalu kentara.
"Oh ya udah, lain kali aja deh, Dit. Aku balik sama Angel aja," ujarnya lalu berlalu pergi meninggalkan Radit yang masih cuek.
Kami lantas hanya menanggapi dengan senyum kecut melepas kepergian dua wanita tadi.
"Ya udah sono, pada pulang duluan," suruh Kak Arden melirik kepadaku dan sahabatnya.
"Kakak mau ke mana sama Dedi?" tanyaku penasaran.
"Biasa, urusan cowok," sahut Kak Arden santai. Aku mengerucutkan bibir, lalu menarik tangan Radit.
"Ciee," canda Danu lalu tertawa bersama yang lain.
"Eh! Jangan iseng ya!" ancam Radit sambil mengulum bibirnya dengan wajah sedikit memerah.
"Wooo! Seneng juga!"
Sampai di parkiran, Radit menahan tangan ku lalu menatap kedua bola mataku lekat-lekat. Sejak tadi aku hanya terus menarik tangan Radit dengan mulut terkunci.
"Tunggu sebentar. Kamu kenapa?" tanya Radit padaku yang berdiri di hadapannya. Aku sadari, kalau Sikap ku sedikit lebih manja dari biasanya dengan terus menekuk wajah dan menatap kaki sendiri yang terus digesek-gesekkan ke tanah. Tak menjawab pertanyaannya Radit, dia malah mengacak-acak rambut ku sambil tersenyum tipis. "Aretha ..." panggil Radit lagi karena tidak mendapat respon dariku.
"Enggak apa-apa," sahutku akhirnya buka suara sambil memalingkan wajah ke arah lain. Radit terdiam. Dia terlihat bingung. "Ya udah, yuk aku anter pulang."
Saat Radit berbalik dan menggandeng ku menuju mobil, Aku malah menahan tangan tangan Radit yang berjalan di depan. Ada seseorang di dalam mobil Radit. Wanita dalam lukisan tadi. Ia sangat cantik dengan tatapan mata yang tajam dan dingin.
Radit berbalik. "Ada apa?"
"Eum .... " Aku tergagap dan bingung bagaimana harus menjelaskan ke Radit. Aku sangat gusar. Beberapa kali melihat ke arah mobil Radit yang terparkir tak jauh dari kami, dan itu pasti disadari oleh Radit.
Radit mendekatkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku. "Hei ... Ada apa? Kamu lihatin apa?" tanyanya sambil menoleh ke mobil. Ia sadar ada hal aneh yang dilihat ku tadi. Aku menunduk lalu menatap wajah Radit sambil menelan ludah berkali-kali. Saat aku menoleh lagi ke dalam mobil Radit, sosok itu hilang. Aku menyapu pandang ke sekeliling, dan tidak ada siapa pun di sekitar kami.
"Nggak apa-apa. Yuk, pulang," ajakku lalu masuk begitu saja ke mobil. Radit hanya garuk-garuk kepala melihat tingkahku yang memang suka aneh. Aku yakin dia berpikiran demikian.
Sepanjang perjalanan Radit ngoceh ngalor-ngidul. Sementara Aku hanya diam mendengarkan. Aku masih penasaran dengan sosok wanita tadi. Bagaimana bisa sosok wanita itu sangat mirip objek di lukisan itu. Apakah wanita itu keluar dari dalam lukisan? Ini terdengar aneh jika diutarakan.
"Radit."
"Iya, Tha?"
"Mmm ... Kamu selama tinggal di rumah sendirian ... nggak takut?"
"Takut? Takut apaan?" Radit malah balik bertanya.
"Ya apa gitu, setan ... misalnya," ucap ku memelankan nada bicara, sambil melihat jalanan sekitar.
Radit diam sejenak. Seperti ada yang hendak ia ceritakan namun masih ragu.
"Mmm ... Kenapa kamu nanya gitu? Kamu lihat sesuatu di rumahku?"
Aku menatap Radit dalam, "Entahlah, Dit. Aku kurang nyaman aja sama rumah kamu," jelas ku lalu beralih menatap keluar jendela.
"Mungkin kamu harus sering-sering ke rumah aku deh."
"Ngapain?"
"Ya ... Ngapain kek gitu. Main kelereng kek, atau main petak umpet," ujar Radit terkekeh mendengar jawabannya sendiri.
Aku tak menanggapi, dan hanya melipat kedua tangan di depan d**a. Kami terdiam beberapa saat. Tak lama setelah itu aku meraba tengkuk. Dan menoleh ke belakang. Rupanya, sosok wanita tadi sedang duduk di jok belakang. Wajahnya pucat, diam tanpa ekspresi. Aku sontak melihat ke depan lagi dengan makin gusar. berusaha mengabaikannya, menganggap sosok itu tidak ada. Hanya saja, sikapku berbanding terbalik dengan pemikiranku. Sosok tadi mulai mempermainkan emosiku dengan meniup pelan di bagian telinga. Radit ikut memegang tengkuknya lalu menoleh ke belakang. Lalu kembali melihat ke arahku yang makin salah tingkah. Aku terus menatap keluar menghadap jendela, namun demikian bayangan Radit di kaca tampak jelas. Bukan hanya itu saja, suara berdecak mulut yang sedang mengunyah terdengar berisik sekali.
Dari ujung ekor mata ku, aky melihat sosok itu memuntahkan apa yang dia kunyah, diiringi bau anyir yang cukup menyengat. Muntahannya berupa gumpalan daging yang berwarna merah darah. Aku tidak kuat lagi. "Berhenti!" teriakku. Radit seketika menghentikan laju mobil. Aku segera keluar. Kejadian tadi berhasil membuat ku memuntahkan seluruh isi perut. Radit ikut turun dari mobil lalu menghampiri ku yang masih muntah-muntah. Ia memijat tengkuk ku dengan lembut. "Kamu sakit, Tha?" tanyanya.
"Jangan, Dit. Kamu ke sana aja dulu," pintaku dengan kondisi tubuh yang mulai lemas. Aku tidak nyaman jika Radit melihatku dalam keadaan seperti ini.
"Enggak apa-apa kok," kata Radit lembut dan terus menemaniku.
Setelah semua isi perutnya keluar, Aku mencoba duduk di sebuah kursi bambu terdekat. Radit kembali ke mobilnya, mengambil minyak angin untuk memijat kepalaku . " Gimana? Mendingan nggak?"
Aku yang sudah lemah hanya mampu mengangguk.
"Ya udah, kita pulang. Biar kamu bisa istirahat," kata Radit lalu menggandeng tanganku. Namun, saat sampai di dekat mobilnya, aku kembali menahan tangan Radit. Radit sadar, memang ada yang tidak beres dengan mobilnya. Ia menoleh,"Kenapa, Tha?"
"Itu, Dit. Di mobil kamu ..." ucapku berbisik.
Radit memincingkan mata, melihat ke dalam mobil. Seketika matanya membulat, ia mundur satu langkah, lalu berbalik menghadap padaku dengan wajah pucat." Jadi itu yang kamu lihat?" tanyanya pelan. Aku mengangguk menanggapinya. Radit menarik napas dalam. "Nanti juga dia pergi kok,udah biasa," tutur Radit. Seolah hal seperti ini sudah biasa terjadi. Beberapa menit berlalu, Aku kembali melihat mobil Radit yang sudah kosong. Akhirnya kami bisa pulang juga, kondisiku juga sudah lebih baik. Namun, sikap Radit yang kini aneh.
=====
Suara pintu yang diketuk dengan kasar dan terburu-buru, membangunkan tidurku. "Siapa sih yang datang malam-malam gini," batinku sambil melirik jam beker yang berada di meja nakas.
"Astagfirullah!" Aku terkejut saat melihat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku diam sesaat sambil menajamkan pendengaran. Rupanya memang pintu rumah sedang digedor-gedor seseorang. Pasti ada tamu yang datang dengan urusan yang sangat penting.
Aku segera beranjak keluar kamar dengan kesal. Saat sudah di luar, Aku melihat Kak Arden yang juga terganggu dengan tamu tengah malam itu. "Siapa ya, Kak?" tanyaku.
Kak Arden mengangkat kedua bahunya dan terus menatap ruang tamu. Kami berdua tampak enggan membuka pintu. Tak lama ayah dan bunda juga keluar dari kamar.
"Siapa sih itu? Coba dilihat dulu! Kok malah pada bengong," perintah ayah.
"Takut tamu tak kasat mata, Ayah," sahutku sambil menutup mulut yang terus menguap menahan kantuk.
"Masa masih takut sama yang kasat mata."
"Emang Ayah nggak takut?"
"Sedikit."
Aku melirik tajam ayah, yang ditanggapi senyum tipis pria empat puluh tahun itu.
Kak Arden berjalan menuju pintu dengan perlahan dan rasa was-was, disusul bunda. Saat pintu telah terbuka, kami semua terkejut melihat Radit berdiri di luar dengan wajah pucat pasi. Kak Arden segera menarik tangan Radit masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya duduk di ruang tamu. Sedangkan aku bergegas mengambil air minum ke dapur.
"Ada apa, Dit ?" tanya Kak Arden cemas. Melihat sahabatnya terlihat ketakutan. Radit masih diam dengan tatapan kosong. Kuulurkan segelas air minum padanya. Dia menerima lalu segera meneguknya.
"Kamu kenapa, Dit ?" tanya bunda yang ikut cemas melihat sikap Radit aneh. Mirip orang yang habis melihat setan.
"Kena sawan kali dia," sahut bunda menyikut ayah tanpa melepaskan pandangan dari anak laki-laki di depannya.
"Malam ini aku nginap di sini boleh?" tanya Radit lirih, menatap penuh harap satu per satu penghuni rumah ini. Kami semua mengerutkan kening mendengar ucapan Radit barusan.
"Emangnya ada apa di rumah kamu, Dit ?" tanyaku penasaran sambil ikut duduk di pinggir sofa.
"I ... Ituu, Tha. Yang tadi ada di mobil. Dia terus muncul di mana-mana. Aku takut," kata Radit frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
Bunda menatap Radit lalu mendekat dan duduk di sampingnya, "Nak Radit, bisa ceritain pelan-pelan, mungkin Tante bisa bantu." Radit menatap bunda beberapa saat, kemudian menceritakan semua kejadian yang ia alami di rumahnya. Sampai-sampai ia juga menceritakan kalau ia pernah melihat sendiri wanita itu keluar dari lukisan. Itu sebabnya ia tidak pernah betah berada di rumahnya sendiri.
Setelah mendengar penuturan Radit barusan, bunda terlihat diam dan berfikir sejenak,"Ya sudah, Nak Radit tidur di sini aja dulu sama Arden, besok pagi kita lihat keadaan rumah Nak Radit, ya."
"Makasih, Tante."
Malam semakin larut, akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing dan Radit tidur di kamar Kak Arden. Kami yakin makhluk itu tidak akan datang ke rumah ini. Bunda termasuk orang yang paling rajin di rumah untuk membentengi bangunan ini dengan bacaan ayat al quran setiap malam. Sehingga jin dan syetan tidak akan masuk ke dalam rumah kami.
Paginya Aku bersemangat membantu bunda menyiapkan sarapan pagi. Kebetulan ini adalah hari Minggu. Rencananya setelah sarapan, kami akan ke rumah Radit sesuai rencana semalam.
"Orang tua kamu pulangnya berapa minggu sekali, Dit ?" tanya ayah di sela-sela sarapan bersama.
"Nggak tentu, Om. Kadang sebulan sekali, kadang juga setahun sekali," jawab Radit sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Kalau Radit butuh teman atau bosan di rumah, main ke sini aja," ucap bunda ramah.
Kak Arden langaung melirik padaku sambil berdeham. Sedangkan aku melotot melihat tingkah jail kakakku. Ayah yang melihat polah tingkah kami ikut berdeham, sebagai peringatan sarapan kami belum habis. Kami lalu tersenyum ke arah ayah, lalu melanjutkan makan.
Setelah semua selesai sarapan, kami bergegas menuju rumah Radit. Dalam perjalanan, ayah dan bunda banyak bertanya tentang keluarga serta keseharian Radit. Aku tampak acuh, tetapi sebetulnya ikut menyimak obrolan ini. Sementara Kak Arden menyumpal telinganya dengan headset lalu memejamkan.
Sesampainya di rumah Radit, bunda langsung merapatkan tubuh ke ayah. Sepertinya bunda sudah merasakan keanehan yang terjadi. Sama seperti saat aku menginjakkan kaki pertama kali di rumah ini.
"Masuk Om, Tante ..." ajak Radit yang sudah berjalan di depan sambil membuka pintu.
Kami semua masuk ke dalam, dan begitu masuk, bunda langsung menuju lukisan wanita yang Radit maksud. Padahal banyak lukisan lain di rumah ini, dan Radit bahkan belum memberitahukan lukisan mana yang telah mengusik malamnya selama ini. Seolah magnet, bunda langsung menemukan penyebab masalah di rumah ini.
"Gimana, Nda ?" tanya ayah sambil merangkul bunda.
Bunda menyentuh lukisan tersebut, "Masyaallah," pekiknya lalu mundur beberapa langkah.
"Kenapa, Nda?" tanya ayah lagi.
"Coba kalian raba lukisan ini. Ada yang aneh sama lukisan ini," pinta bunda kepada kami semua. Tanpa menunggu dikomando kedua kali, kami menyentuh lukisan itu bersamaan. Saat ayah merabanya, ia tidak merasakan keanehan apa pun. Karena sikapnya biasa saja. Begitu juga dengan Kak Arden. Bahkan Kak Arden sampai menutup kedua bola matanya, agar lebih fokus. Ia masih penasaran atas apa yang bunda lihat. Kemudian saat Aku dan Radit yang merabanya secara bersamaan, jari kami bersentuhan sejenak, karena posisi kami berdiri cukup dekat. Sontak kami terkejut, seperti ada sengatan listrik dan kemudian muncul beberapa gambaran siluet seperti kemarin. Aku seketika melirik Radit. Laki-laki di sampingku tampak agak trauma, napasnya tersengal-sengal.
"Ini sama kayak apa yang aku lihat kemarin pas ke sini, tapi bayangan tadi lebih jelas, terutama saat tanganku kena tangan Radit," jelas ku seolah tak percaya.
"Kamu, Dit?" tanya bunda.
"Ada bayangan perkelahian gitu, Tante."
"Itu juga yang kamu lihat, Nduk?" tanya bunda yang ditanggapi anggukan dariku. Bunda tampak berpikir keras, lalu memandang aku dan Radit bergantian.
"Kalian coba lagi, tapi ... coba sambil tangan kalian bergandengan satu sama lain."
Kali ini kami berdua lebih fokus melakukannya sesuai saran bunda. Tangan kanan Radit meraih tangan kiri ku, lalu kami menyentuh lukisan ini bersamaan sambil memejamkan mata.
Siluet kejadian tadi kembali terlihat makin jelas. Seorang wanita yang wajahnya sama seperti yang ada di lukisan sedang dianiaya oleh seorang pria, kepala wanita tersebut dibenturkan ke tembok sampai darahnya mengucur deras. Tubuh wanita tersebut terkulai lemah, hingga akhirnya wanita tersebut meninggal dalam keadaan mata yang masih terbuka. Pria tersebut yang mulai panik menyeret mayat tadi ke gudang rumahnya. Ia terlihat sangat tertekan dan menyesal, tetapi kemudian netranya melirik sebuah kapak tak jauh darinya. Ia meraih kapak tersebut lalu memotong kaki mayat wanita itu dengan brutal. Tak ada lagi belas kasih, yang ada hanya kekhawatiran jika ia tertangkap telah membunuh wanita tadi. Potongan kaki itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah plastik besar, diikuti potongan tubuh lainnya. Ia menaikkan mayat yang sudah dimutilasi itu ke dalam bagasi mobilnya. Sementara ia menunggu keadaan di luar sepi, darah mayat tadi terus menetes hingga akhirnya ia menampungnya dalam ember cat ukuran sedang. Saat tetangga di sekitar rumahnya sudah tidak terlihat, pria tadi menutup garasi mobilnya dan segera membawa mayat tadi pergi.
Ia kembali di saat keadaan sudah gelap. Masuk ke garasi mobil, lalu segera menutupnya dengan gerak-gerik mencurigakan. Ember berisi darah tadi, ia bawa ke ruangannya. Ruangan tempat dia melukis dan membuat hasil karya seni yang indah. Ia terlihat frustrasi dan terus terbayang wajah wanita yang telah ia bunuh tadi. Kuas ia raih dan mulai membuat sketsa wajah dan tubuh wanita tadi. Ia juga menggunakan darah wanita itu sebagai campuran cat dalam lukisan ini. Rasa sengatan listrik tadi terus terasa makin kuat. Karena tidak tahan, aku melepaskan tangannya, begitu pula Radit.
"Kalian kenapa?" tanya Kak Arden penasaran.
"Aku lihat, perempuan yang di dalam lukisan itu dibunuh. Terus ...."
"Darahnya dipakai buat melukis lukisan ini," sambung Radit.
"Bener, Dek?" tanya ayah padaku. Aku mengangguk dengan menatap lukisan itu nanar.
"Masyaallah!" pekik mereka bertiga bersamaan.
"Terus baiknya gimana, nih? Lukisannya kita buang aja apa gimana, Bun?" tanya Kak Arden.
"Kita bawa aja ke rumah Pakde Yusuf."
Kami mengangguk menyetujuinya. Pak de Yusuf memang yang paling bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
"Oh iya, Dit. kalau bisa, ini sih sekadar saran aja. Kurangin deh, patung dan hiasan dinding yang bergambar makhluk hidup," ucap bunda menunjuk beberapa lukisan dan patung di sekitar kami.
"Iya, Tante, nanti Radit izin ke Mama dan Papa dulu. Lagian juga Mama Papa jarang di rumah kok."
=======
"Gimana, Kak? Kakak bisa, kan? Bantu Nisa. Nisa nggak tahu harus gimana," terang bunda, setelah menceritakan semuanya. Pria bersorban putih di depan kami diam sambil menatap lukisan di tangannya.
"Ya udah, tinggalin aja lukisannya di sini. Biar Kakak yang urus, tapi sebisa mungkin, kalian cari tahu siapa pelukisnya. Karena ini termasuk tindakan kriminal. Mungkin malah jenazahnya tidak dikuburkan dengan layak," kata Pakde Yusuf.
"Iya, Pakde, nanti Radit bakal tanya ke Papa siapa pelukisnya," jawab Radit agak sungkan dengan menundukkan kepala.
______
POV author.
Setelah kejadian itu, Radit menyuruh kedua orang tuanya pulang. Bahkan terkesan memaksa. Tiga hari setelahnya, orang tua Radit sudah kembali. Papa Radit terlihat sangat kaget dengan kejadian yang menimpa putranya.
"Papa nggak sangka kalau Pak Made melakukan hal itu."
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kematian Pak Made, Pa?" tanya Mama Radit yang kini tengah duduk di samping putranya sambil membelai punggung Radit lembut.
"Kematian Pak Made?"
"Pak Made, pemilik lukisan ini belum lama ini meninggal, Dit," tutur papanya dengan sorot mata dingin. "Dia bunuh diri lompat ke sumur di belakang rumahnya. Pak Made memang membuka galeri untuk lukisan-lukisannya, dan dia lebih sering di sana," sambung pria berjenggot tipis itu.
"Bunuh diri?"
"Dan, di sumur itu, ditemukan beberapa tulang belulang manusia."
"Jangan-jangan ... tulang belulang itu milik ...."
"Sepertinya polisi sedang mengidentifikasi kasus ini lebih jauh, dan Papa dengar, tulang-tulang yang ditemukan di sumur itu segera diautopsi dan pasti akan dikuburkan dengan layak nantinya."
Dengan bantuan Yusuf, lukisan berdarah itu tidak lagi menganggu Radit. Papa Radit juga telah memastikan mayat wanita dalam lukisan itu segera dikuburkan dengan layak. Kasus ini ditutup karena pelaku juga telah meninggal. Yusuf menyimpannya di ruangan pribadi dengan beberapa koleksinya yang lain.
======