Bab 6. Satu Kamar Denganmu

1159 Kata
Rhey bangun lebih dulu dari Meisha. Lelaki itu tak langsung bangkit dari tempat tidur. Ia melirik wajah wanita yang telah sah menjadi istrinya. Meisha masih terlelap. Dengan seulas senyum, Rhey memerhatikan raut wajah Meisha. Wajah yang sangat cantik tanpa cacat sedikit pun. Sebelah tangan Rhey terangkat, ingin membelai pipi Meisha. Namun, ia urung melakukan. Rhey mengubah posisi tidur. Bertelentang menatap langit-langit kamar hotel. Impiannya ingin menikah dan memiliki seorang istri yang nyaris sempurna secara fisik dan akademik telah terwujud. Akan tetapi, ia belum memiliki cinta istrinya. Sungguh mengenaskan. Rhey mengusap wajah, menyibak selimut, turun dari ranjang perlahan-lahan. Ekor mata Rhey melihat jam dinding, baru pukul empat dini hari. Rhey berjalan ke toilet, membersihkan diri dan berwudhu. Ia ingin bermunajat pada Tuhannya. Berdoa dan memohon ampun. Rhey juga meminta pada Tuhannya, agar hati Meisha dapat melupakan cintanya pada lelaki lain dan hanya mencintai Rhey yang tak lain suaminya. Hanya itu yang bisa dilakukan Rhey. Meisha menguap, merentangkan kedua tangan. Sesaat, ia lupa kalau sekarang sudah memiliki suami dan tidur satu ranjang dengan lelaki yang bukan mahrom. "Astaghfirullah," pekik Meisha, yang tertidur masih mengenakan hijab. Ia merasa malu membuka hijab di depan Rhey padahal Meisha tahu hukum dan tahu kalau Rhey berhak melihat semua auratnya. Meisha terkejut, menyibak selimut, melirik ke samping, tak ada Rhey. Lalu, Meisha hendak turun dari ranjang, kedua matanya terpaku pada sosok pria yang duduk di atas sajadah membelakangi. Meisha tertunduk lesu, ia melihat jam dinding sudah pukul 04.45 WIB. Meisha berdehem, berjalan ke toilet. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah suara memanggilnya. "Mei?" "Iya, Kak?" "Kita salat Subuh jamaah. Aku tunggu." Meisha mengulas senyum tipis, menganggukkan kepala, lalu bergegas masuk ke dalam toilet. Untuk pertama kalinya, Rhey menjadi imam salat bagi istrinya. Pada rokaat terkahir, Rhey bersujud cukup lama. Tanpa terasa, air mata menetes. Usai selesai salat berjamaah, Meisha mendekati Rhey, mengulurkan sebelah tangan. Ia ingin mencium tangan Rhey. Lelaki itu mengerti, menyambut uluran tangan Meisha. Hati Rhey berdesir ketika punggung tangannya dikecup Meisha. Debaran jantungnya sulit ia kendalikan. Rhey tetap bersila, berdzikir dan memohon ampun atas segala kesalahannya sebelum menikah. Meisha melipat mukena setelah memanjatkan doa-doa. Ia bergegas ke dapur kecil. Melihat isi kulkas, ternyata isinya cukup penuh. Keluarga Rhey memang sengaja membooking kamar hotel ini selama tiga hari atau satu Minggu. Terserah Meisha dan Rhey mau berapa hari tinggal di hotel. "Kamu mau ngapain, Mei?" tanya Rhey sambil melipat sajadah. "Mau bikin sarapan." "Oh. Tapi, aku hari ini gak sarapan. Gak apa-apa kamu sarapan sendiri?" Gerakan tangan Meisha terhenti. Ia menoleh, menatap suaminya lekat. Rhey memalingkan muka, berjalan ke sofa dan menyalakan televisi. "Kenapa? Apa kamu masih marah?" tanya Meisha yang tiba-tiba sudah duduk di samping Rhey. "Aku gak marah." "Lalu, kenapa gak mau sarapan bareng aku?" Rhey merunduk, menarik napas panjang. Sebenarnya ia tak ingin mengatakannya, tapi Rhey juga tidak mau kalau Meisha salah paham. "Aku puasa." "Puasa?" Meisha terkejut, keningnya mengkerut. "Iya." Meisha tercenung sejenak. Mengingat kalau hari ini hari Minggu. "Kamu puasa apa hari Minggu? Apa kamu punya qodho puasa ramadhan?" selidik Meisha menatap Rhey dari samping. Rhey jadi bingung. Wajah cerianya seketika berubah. Semalam Rhey lama di Masjid bukan karena ketiduran, tapi ia berzikir dan membaca Al-Quran. Rhey berusaha introspeksi diri. Selama ini ia berusaha menjadi manusia yang baik. Meski di sekelilingnya banyak orang-orang yang bergaya hidup hedon. Suka clubbing dan bergonta-ganti pasangan. Namun, Rhey tidak demikian. Meski dirinya seorang prefecionis, tetapi ia dapat menjaga diri dari pergaulan yang merusak dan merugikan tubuhnya. Rhey terbiasa hidup sehat dan bersih. Dia selalu melakukan apapun secara sempurna. Tidak pernah setengah-setengah. "Enggak. Aku puasa untuk menahan diri. Jujur, Mei. Aku baru kali ini tinggal satu kamar dengan wanita. Kamu juga tau, aku lelaki normal. Kalau enggak aku bentengi dengan puasa, aku bisa lepas kontrol. Meskipun misalnya lepas kontrol, akan menjadi ladang pahala buat kita. Tapi ya ... kamu tau kan alasanku enggak mau menyentuhmu?" Rhey membeberkan alasannya menjalankan ibadah puasa sunnah. Seketika Meisha merasa bersalah. Ia juga merasa kejujurannya itu suatu kesalahan. Harusnya Meisha tak mengatakan bahwa dirinya mencintai laki-laki lain. Rhey beranjak, meninggalkan Meisha yang sibuk dengan pikirannya. Rhey mengambil koper di atas lemari, memasukkan semua pakaiannya dan Meisha dari lemari ke dalam koper. Meisha tersentak, ia menoleh ke belakang. Melihat Rhey sibuk mengemasi pakaian. "Kamu mau pergi?" tanya Meisha berdiri di samping suaminya. "Bukan cuma aku yang pergi, kamu juga. Sekarang kamu sarapan dulu. Setelah itu, kita pulang. Tapi, Mei ... aku ingin kita pulang ke rumah mamahku dulu, ya? Supaya kamu nanti gak kesepian. Bagaimana?" Hati Meisha bersedih. Ia sungguh menyesal karena sudah mengatakan kejujuran itu. Meisha duduk di tepi ranjang, termenung. Air matanya lolos, membasahi kedua pipi. "Kamu jangan nangis terus, Mei. Apa yang kamu tangisi?" Rhey duduk di sisi istrinya. Ingin memeluk, tapi Rhey tak berani. Ia justru merasa ada jarak diantara keduanya. Meisha menyeka air mata dengan kasar. "Aku gak apa-apa. Kamu duduk aja, biar aku yang kemasi semuanya." Meisha melanjutkan mengemasi pakaian. Rhey terdiam, merunduk, dan mengusap wajahnya kasar. Pukul sembilan pagi, keduanya keluar dari hotel. Mereka berjalan beriringan, menuju area parkir. Di dalam mobil, sepanjang jalan Meisha dan Rhey tak ada yang bicara. Mereka bergelut pada pikiran masing-masing. Rhey sendiri malas berbicara pada Meisha. Ia tak tahu juga apa yang harus dibicarakan. Rhey tidak jadi pulang ke rumah orang tuanya. Ia justru mengajak Meisha ke rumah miliknya sendiri. Rumah yang dia beli hasil kerja kerasnya selama bekerja dan memimpin perusahaan Nich Xander Group. Perusahaan yang kini bergerak dalam bidang foody, property, advertising dan tekstile. Semua itu berkat kerja keras Rhey. Awalnya perusahaan Nich Xander Group hanya bergerak dalam bidang property dan tekstile saja. Seiring berkembangnya zaman, Rhey memberanikan diri membuka cabang perusahaan makanan ringan dan minuman teh kemasan. Siapa sangka, ide Rhey membuahkan omset yang sangat fantastis. Tidak hanya itu, satu tahun membangun pabrik makanan, Rhey merambah di bisnis periklanan. Tander yang mereka tangani selalu berhasil. Hanya saja, Rhey menolak produksi rokok. Dia tidak mau mengiklankan produk rokok merk apapun. Daniel dan Melani selaku orang tua sangat bangga memiliki anak tunggal seperti Rhey. Kini ia memiliki kerajaan bisnis yang disegani banyak orang apalagi Rhey tidak pernah tersandung masalah besar. Memasuki halaman rumah yang super megah, Rhey menghentikkan kendaran. Mengajak Meisha turun dan memasuki rumah bak istana. Rumah ini sudah lama tidak ditempati Rhey. Ia mau menempati rumah ini jika sedang berlibur bersama teman-temannya atau tim kerja. Bi Sarnih dan Mang Dadang, pasangan suami istri yang menjaga rumah Rhey menyambut kedatangan pengantin baru itu. Sebelum keluar hotel, Rhey menyempatkan menelepon Bi Sarnih kalau ia dan istrinya akan tinggal di rumah Bintaro. "Kak, kok sepi? Orang tuamu mana? katanya mau tinggal sama mereka dulu?" tanya Meisha heran. Pandangannya mengitari sekeliling. "Gak jadi tinggal di sana. Tadi waktu aku tanya, kamu gak jawab. Aku pikir kamu gak mau tinggal bareng orang tuaku. Ini rumahku, Mei. Kamu gak usah takut. Meskipun kita tinggal hanya berdua, aku enggak akan macam-macam. Di rumah ini juga banyak kamar. Kamu tinggal pilih, mau tidur di kamar mana?" "Aku mau tidur satu kamar denganmu, Kak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN