KERESAHAN HATI

1085 Kata
“Pah, papah udah bilang sama Helena belum kalau kita mau ke Jogja?” tanya Ayu pada Leon ayah Helena. “Astaga mah, papah lupa.” “Gimana to pah, kan kemarin mamah udah bilang sama papah untuk memberitahu Helena kalau kita akan pergi ke Jogja.” “Iya-iya mah, maafin papah ya. ya udah kalau gitu aku telpon Helena sekarang.” Leon langsung mencoba untuk menghubungi Helena putri semata wayangnya. Namun, untuk beberapa saat panggilan suaranya tidak di jawab oleh Helena. “Kenapa pah?” tanya Ayu yang melihat Leon menutup ponsel miliknya. “Helena gak mengangkat panggilanku mah,” jelas Leon “Tumben, Helena tidak langsung mengangkat panggilan suara dari kedua orang tuanya. Apa dia masih ada kegiatan di kampus ya pah?” “Ya udah mah gak apa-apa, mungkin Helena baru sibuk jadi dia tidak bisa berbicara dengan kita. Nanti saja kita kasih tau Helena waktu kita sudah sampai di Jogja,” jelas Leon pada Ayu. “Ya udah kalau gitu gak apa-apa sih Pah. Ya udah yuk kita berangkat sekarang, udah jam Sembilan ini, kalau kita gak segera berangkat nanti kita telat lho pah ke acara pernikahan teman papah” “Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang.” . . “Len, kenapa kamu gak angkat telepon dari Papah kamu?” tanya Eljo pada Helena yang tidak mengangkat panggilan dari orang tuanya. “Bagaimana bisa aku berbicara dengan kedua orang tuaku dengan kondisiku yang seperti ini Jo. Aku takut Jo, aku takut berbicara dengan kedua orang tuaku.” “Len, aku tau kalau hal ini memang sulit untuk di bicarakan dengan kedua orang tuamu, tetapi sampai kapan kamu akan menyembunyikan berita kehamilanmu ini dari kedua orang tuamu?” “Entah Jo, aku juga tidak tahu sampai kapan aku harus menyembunyikan kebenaran ini dari kedua orang tuaku. Aku hanya takut kalau aku akan membuat kedua orang tuaku tersakiti dengan tingkah lakuku yang seperti ini. aku anak semata wayang di keluargaku dan aku memikul harapan yang begitu berat dari kedua orang tuaku, mana bisa aku menghancurkan harapan mereka padaku,” jelas Helena sambil ia memegang kepalanya yang terasa begitu berat.  “Ya udah kalau gitu kamu beristirahatlah dulu, aku akan berbicara dengan dokter kandunganmu.” “Eljo, terima kasih ya untuk bantuanmu. Aku akan selalu mengingat bantuanmu.” Eljo hanya tersenyum sambil ia menganggukan kepalanya kepada Helena yang sedang rebahan di tempat tidurnya. Di dalam hati Eljo berjanji kalau ia akan selalu menjaga Helena dan ia merasa kalau hal buruk yang menimpa Helena ini adalah faktor dari dia juga, karena melalui dirinya Helena bisa berkenalan dengan Yoga pria b******k yang tidak tahu malu. Eljo juga menyesal kenapa ia dulu mengenalkan Helena dengan Yoga yang ia kira akan menjaga Helena dengan begitu baik. Jika saja waktu itu Eljo tidak menuruti permintaan Yoga untuk mencarikannya pacar maka hal buruk ini tidak akan menimpa Helena. Mungkin saja saat ini Helena masih bisa bersenang-senang dengan kehidupannya sebagai mahasiswi, ia masih bisa tersenyum, tertawa, bahkan ia masih bisa mengejar mimpinya tanpa rasa takut akan kehilangan mimpi besarnya itu. “Eljo … kenapa kamu harus mengenalkan Helena pada Yoga? Kenapa kamu melakukan hal itu? Kamu memang bodoh Jo! Kamu menghancurkan kehidupan sahabatmu sendiri,” sesal Eljo sambil ia menjambak rambutnya karena ia merasa sedih dengan keadaan Helena. “Apa yang harus aku lakukan untuk meringankan beban Helena? Yoga sialan! Kenapa kamu harus lari seperti ini? apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Helena wanita yang selama ini kamu gaungkan kalau kamu begitu mencintainya?” gumam Eljo yang merasa kesal dengan tingkah laku Yoga yang lari dari tanggung jawabnya. Sedangkan di dalam ruang perawatan Helena tidak bisa tidur karena ia memikirkan keberadaan Yoga saat ini. ia ingin sekali untuk bertemu dengan Yoga dan membicarakan permasalahan ini dengan kepala dingin. Ia ingin mencari jalan keluar bersama dengan Yoga, tetapi bagaimana cara Helena bisa berbicara dengan Yoga kalau semua akses komunikasi dirinya dengan Yoga telah terputus. “Yoga … kamu itu dimana? Kenapa kamu pergi begitu saja meninggalkan aku dengan benih yang kamu tatam di dalam rahimku? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku dan perasaan anak kita? Kenapa kamu pergi begitu saja? kamu itu seorang pria, dimana seorang pria itu harus berani bertanggung jawab dengan apa yan telah ia lakukan,” ucap Helena sambil ia terus mencoba untuk menghubungi Yoga dan berharap Yoga akan datang untuk menemuinya. . . “Bro, kamu gak pulang? Udah hampir satu minggu lho kamu disini,” tanya salah satu penjaga tempat billiard pada Yoga. “Ah gak dulu mas, aku masih mau bermain billiard disini,” ucap Yoga sambil ia bangun dari tempat duduk. “Kamu ada masalah? Apa kamu di usir dari kosanmu jadi kamu ngungsi disini,” ucap pelayan tersebut kepada Yoga. “Ya enggak lah mas. Aku ini Yoga, anak salah satu pengusaha kepala sawit terbesar di Indonesia. Mana bisa aku di usir dari kosan ku ngaco aja kamu itu mas,” ucap Yoga dengan nada yang mulai meninggi. “Aduh .. ampun boss. Ya udah sih, bebas aja kamu mau tidur dimana aja, yang penting kamu tetap bayar. Ya udah ya good luck,” ucap pelayan tersebut sambil ia pergi meninggalkan Yoga dengan segudang pemikiran yang buruk. “Asli .. ini gila banget. Kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu tanpa pengaman. Yoga! Kamu itu udah di atas dua puluh tahun dimana kamu harusnya lebih berhati-hati lagi dengan apa yang telah kamu lakukan. gila!” ucap Yoga dengan ia mondar mandir kesana kemari mencoba untuk mencari solusi untuk permasalahannya. Ia tidak mungkin akan menghindari Helena terus, karena ia juga mempunyai kehidupan di kampus yang sama dengan Helena. Tetapi ia juga belum siap bertemu dengan Helena. Ia takut kalau ia akan di mintai pertanggung jawaban oleh Helena. Yoga yang saat itu masih ber usia dua puluh tiga tahun merasa dirinya belum siap untuk menjadi seorang ayah. Ia masih ingin bersenang-senang dengan dunianya sebagai seorang mahasiswa yang memiliki banyak uang dan power. Ia tidak mau kalau kesenangannya harus hilang begitu saja karena masalah seperti ini. ia belum siap kehilangan semua kesenangan yang diberikan oleh kedua orang tuanya, ia juga mempunyai mimpi yang begitu besar dan hal itu membuatnya tidak ingin permasalahan yang sedang menghadapinya akan membuat mimpinya hancur. Yoga mulai mencari cara untuk menyelesaikan permasalahanya dengan Helena. Ia mulai menimbang-nimbang setiap keputusan yang akan ia ambil. Ia tidak ingin mengambil keputusan yang salah dan hal itu akan menghancurkan kehidupannya sebagai seorang mahasiswa yang cukup terkenal di lingkungan kampusnya. Dan ia pun mendapatkan sebuah ide yang cukup gila, tanpa menunggu lagi ia pun langsung mulai mengeksekusinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN