Barra berada dikamarnya, setelah pengakuan Afifah beberapa jam yang Lalu, menyambar nalurinya paling dalam. Rasa sesak sesal merenggut setengah jiwa yang seakan rapuh Tak berdaya lagi. Darimana Afifah saat itu, hanya air mata yang bisa dilihatnya. Entah air mata kemarahan atau justru telah memaafkannya. Hancur.. Ya.. kehancuran lah yang Barra dapat, selama alasan yang begitu menyakiti Afifah justru menerka dirinya. Pantaskah Barra masih disisinya. Barra berpikir bahwa kebahagiaan Afifah memang bukan bersamanya. Mungkin pilihan untuk bercerai terbaik, tapi.. bagaimana rasa sakit yang Afifah tahan sendiri. Barra akhirnya memutuskan untuk bicara bersama Afifah, Karena kebungkamannya tidak akan menyelesaikan masalah. Justru membuat keadaan semakin tidak nyaman. Lelaki itu melangkah menu

