"Lo yakin Kay?" Kay mengalihkan perhatiannya dari Kasir yang masih mengutak-atik komputer, pada Karim. Cowok itu terlihat khawatir. "Aku nggak pernah seyakin ini." Kay menepuk-nepuk bahu Karim, menenangkan sambil tersenyum jemawa. "Kak Karim percaya aja sama aku." "Tapi dia kayaknya udah jago banget." Karim memindai Kay dari atas sampai bawah, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue nggak yakin lo bakal berhasil kalahin dia." Kay mendecak lalu menatap Karim sinis. "Harusnya Kak Karim semangatin aku. Bukannya malah bikin down." Karim menyeringai tak enak hati. "Permisi, kembaliannya." Suara penjaga kasir itu mengalihkan perhatian keduanya. Kay menerima kartunya kemudian mereka berjalan menuju arena permainan yang sejak tadi diincar Kay. Kay segera memasang wajah penuh p

