7

1616 Kata
"Kay, buruan Sayang!" Khaylila bergegas keluar dari kamar mandi setelah selesai berhajat kecil. Pintu kamarnya kembali digedor beberapa kali, bersahut-sahutan dengan suara teriakan Bunda yang melengking, menyuruhnya agar cepat keluar kamar. Khaylila membuka kamarnya dengan kesal. "Bunda nggak usah teriak-teriak, bisa? Kay denger, kok," gerutunya saat berjalan mendahului Bunda ke ruang keluarga. Bunda nyengir sambil mengusap punggung Khaylila sebelum akhirnya duduk di sebelah Ayah. Bunda menyandarkan kepalanya ke d**a Ayah lalu menyodorkan secarik kertas ke udara. "Nih, Mbak, daftar belanjaan yang nanti harus dibeli." Khaylila meraih kertas di tangan Bunda, membacanya seksama. Banyak juga yang harus dibeli. Semalam Khaylila terlalu bahagia karena Bunda mengizinkannya untuk belanja bersama Karim hingga lupa menanyakan sebanyak apa belanjaan yang harus dia beli. Sekarang dia menyesal karena lupa bertanya. Khaylila mendengus pelan sambil mengangkat kepala, hendak pamit. Namun melihat Ayah yang tampak mengusap kepala Bunda dengan sayang membuatnya memutar bola mata. Kedua orang tuanya memang selalu berhasil membuatnya iri dengan kemesraan mereka. Kapan Khaylila bisa seperti itu juga dengan Karim? Tin! Tin! Khaylila terkesiap mendengar bunyi klakson mobil barusan. Itu pasti Karim. Khaylila segera berpamitan pada kedua orang tuanya kemudian berjalan keluar rumah. Di depan rumah, Karim sudah menunggu dalam Toyota Rush hitamnya. Kaca bagian kemudi yang terbuka memunculkan sosok Karim yang sedang menatap Khaylila garang. Khaylila membalasnya dengan cengiran lebar sebelum berlari dan masuk di kursi penumpang bagian depan. "Maaf, Kak, agak lama." Karim tak menjawab dan langsung menjalankan mobil setelah Khaylila memasang sabuk pengaman. Sesaat setelah mobil melaju, Khaylila melirik Karim yang fokus ke jalan. Karim tetap tampak ganteng meski hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana cargo tiga perempat berwarna hijau army. Gaya rambutnya masih sama seperti biasanya, sedikit acak-acakan. Khaylila tidak bisa menahan senyumnya. "Kak Karim tadi udah nunggu lama banget ya?" tanya Khaylila mencoba memecah keheningan. Bukannya menjawab, Karim malah meraih ponsel dan earphonenya di atas dashboard, lalu memasang earphone itu ke telinga. Tangan kirinya begitu lihai mengotak-atik ponsel dan beberapa detik kemudian, dia kembali menyetir dengan tenang. Khaylila manyun karena diabaikan. Dia menatap ke depan sambil bersedekap. Hm, sebenarnya Khaylila sudah kebal dengan kecuekan Karim selama ini. Tapi ini kan kencan pertama mereka—menurut Khaylila, setidaknya mereka perlu ngobrol untuk mencairkan suasana, bukannya malah saling cuek satu sama lain. Khaylila tampak berpikir, mencari cara agar Karim mau berbicara dengannya. Dia segera menoleh pada Karim saat sebuah ide jail muncul di kepalanya. Sreg! Dalam satu gerakan, Khaylila berhasil mencabut earphone di telinga kiri Karim. Dia nyengir lebar saat perkiraannya sedikit meleset. Karim menoleh padanya. Tapi tidak sambil tersenyum seperti dalam bayangannya, tapi dengan wajah galaknya. "Lo apa-apaan sih?" omelnya. Khaylila terkekeh. "Kakak dengerin apaan sih, serius banget? Kay kan juga pengen ikutan denger," katanya sepolos mungkin. Dia kemudian memasang earphone yang dipegangnya itu ke telinga tanpa peduli gerutuan Karim yang kembali melihat depan. Eh? Khaylila mengerutkan kening. Tapi mana suaranya? Khaylila menoleh pada Karim dan menatapnya sengit. Jadi Karim hanya menyumpal telinganya agar tidak mendengar suara Khaylila. Asli, itu jahat. Ini kencan pertama, lho. Kencan pertama. Karim melirik Khaylila sejenak sebelum akhirnya melepas paksa earphone di telinga Khaylila. "Nggak usah protes!" "Aku nggak protes," sahut Khaylila, berusaha tak acuh namun bibirnya tetap mengerucut. Dia tidak bisa menahan kesalnya apalagi ketika melihat Karim hanya mengedikkan bahu tak peduli. "Kak Karim jahat!" Karim justru semakin tidak merespon. Khaylila semakin manyun sambil memalingkan wajah ke jendela. "Kak, ngomong dong!" rengek Khaylila tak lama kemudian. Kepalanya menoleh ke arah Karim sepenuhnya. Karim hanya membalas, "Berisik!" Hiks. Kejam sekali, bukan? Tapi Khaylila tidak akan menyerah. "Nggak berisik kali Kak kalo ngobrolnya romantis," sahutnya dengan nada dibuat-buat. Karim memijit pelipisnya. "Kak? Ngobrol romantis, yuk." Karim masih memijit pelipisnya sambil merem-melek berulang-ulang. Wajahnya mulai memerah. Sepertinya Karim Kayaknya dia mulai gemas. "Kak Karim bobo ya?" "Lo bisa diem, nggak?" desis Karim. Khaylila tertawa senang karena berhasil membuat Karim berbicara lagi. "Gitu dong, Kak. Kalo kakak mau ngomong, kan, jadi lebih manusiawi." Karim menatap sebal Khaylila lalu kembali melihat depan. Mobil terhenti karena lampu merah. Karim langsung membenamkan wajahnya di antara dua tangannya yang terlipat di atas roda stir. Dia mendengus keras sekali. Khaylila tersenyum geli membayangkan Karim akan mengalami susah tidur sepulang kencan nanti. "Kak?" Khaylila menggoncang pelan bahu Karim. Cowok itu mengangkat kepalanya dan menatapnya kesal. "Lampunya bentar lagi ijo." Karim mendengus lalu mengalihkan pandangan ke depan. Dia langsung tancap gas begitu lampu berubah hijau, dua detik kemudian. Khaylila menggeleng pelan sambil menahhan geli. Karim tetap terlihat imut dan lucu walau sedang kesal. Tak sampai lima belas menit, mereka pun sampai di supermarket. Karena parkir di dalam penuh, Karim terpaksa memarkirkan mobilnya di parkiran pinggir jalan. Setelah membayar biaya parkir, mereka pun berjalan beriringan ke dalam supermarket. Sayangnya, tanpa bergandengan tangan. Kencan yang hambar, pikir Khaylila. *** "Apalagi, Kak?" tanya Khaylila pada Karim yang tampak kebingungan mencari-cari sesuatu di rak. Mereka sedang berhenti di rak yang memuat bahan untuk membuat kue. Khaylila mendorong pelan trolinya yang hampir penuh lalu berhenti tepat di sebelah Karim. "Baking soda," sahutnya cuek sambil mengedarkan pandangannya ke area agar-agar. Jelas saja dia tidak akan menemukan baking soda di sana. Khaylila yang cukup mengerti bahan-bahan kue, akhirnya berjalan menyusuri rak dan berhenti di rak paling ujung setelah melihat baking soda terletak di salah satu rak. Khaylila mengambilnya satu, kembali menghampiri Karim yang masih sibuk cari baking soda—masih di area agar-agar—lalu mencolek bahunya. Karim menoleh dan menaikkan alisnya saat Khaylila menyodorkan baking soda padanya. "Baking soda udah. Apalagi, Kak?" tanyanya sambil berjalan melewati Karim menuju trolinya. Tak ada sahutan, membuat Khaylila menatap Karim. Cowok itu masih berdiri di tempat yang sama dan menatap Khaylila dengan tatapan yang aneh yang belum pernah dilihat Khaylila. "Kenapa, Kak?" Karim terkesiap lalu melempar baking soda ke dalam troli. Tiba-tiba saja dia langsung merebut troli dan berjalan mendahuluinya. Khaylila heran melihat keanehan Karim. Sejurus kemudian, dia mengedikkan bahu dan berjalan di belakang Karim. Mungkin Karim ingat sudah meninggalkan sesuatu di rumah. *** Selesai berbelanja, Karim dan Khaylila segera kembali ke parkiran dan memasukkan semua belanjaan mereka ke bagasi mobil. Khaylila meringis ngeri melihat sebagian besar bagasi mobil Karim terisi oleh belanjaannya. Dia yakin akan segera angkat tangan sendainya disuruh belanja sendirian. "Kak, makan dulu ya?" pinta Khaylila setelah Karim menutup bagasi, sedikit kasar. Khaylila tidak terlalu peduli karena perutnya keroncongan. Karim memegangi perut. Khaylila hampir berpikir kalau Karim juga lapar jika tidak melihat keanehan di wajah gantengnya. Karim celingukan ke kanan kiri sambil meringis. Dia lalu menunjuk salah satu warung kelontong terdekat. "Lo tunggu di warung itu bentar. Gue ke toilet dulu." Karim langsung melipir, meninggalkan Khaylila yang melongo. Tak seberapa lama, cewek itu terkikik geli teringat wajah lucu Karim yang menahan mulas. Dia menggeleng pelan lalu berjalan menuju warung kelontong yang tadi ditunjuk Karim. Brum! Brum! Sebuah bus b****k lewat dan mengepulkan asap hitam yang cukup tebal. Ini yang tidak Khaylila suka waktu parkir di pinggir jalan. Asap dan debu tidak akan bisa dihindari. Khaylila buru-buru menutup hidung sebelum mabuk karena kebanyakan menghirup timbal. Warung kelontong tujuan Khaylila hanya tinggal sepuluh langkah, namun tiba-tiba Khaylila merasa bahunya ditepuk dari belakang. Lalu, semuanya terasa ajaib. Khaylila tahu-tahu berada di depan sebuah ruko yang pintunya tertutup rapat dan tubuhnya digoncang-goncang pelan oleh seseorang yang dia kenal. "Kak Agas?" Khaylila mengedip beberapa kali, memastikan bahwa yang di hadapannya benar-benar Agas. Seniornya yang menyebalkan itu . "Ya, Kay ini gue." Suara Agas terasa kabur dan tidak nyata. Khaylila merasa ada yang aneh dengan dirinya. Seperti orang linglung yang baru bangun tidur karena kaget. "Khaylila! Hei!" Agas menjentikkan jari lalu bertepuk tangan dengan cukup keras di depan wajah Khaylila. Cewek itu mengerjap beberapa kali hingga perlahan-lahan dia merasa normal kembali. Khaylila celingak-celinguk kebingungan setelahnya. "Khaylila, lo udah sadar?" tanya Agas sambil memegang kedua pipi Khaylila. Raut khawatir memenuhi wajah cowok itu. Melihat Khaylila yang tidak merespon, Agas kembali menggoncang bahu Khaylila. "Kay, lo udah sadar, kan?" Tiba-tiba Agas mengangkat empat jarinya ke depan wajah Khaylila. Dia masih tampak khawatir sekaligus ingin tahu. "Ini berapa, Khay?" Khaylila menepis tangan Agas dan memukul lengannya dengan kesal. Apa-apaan Agas itu? "Bodohku nggak separah itu! Aku tahu angka empat!" Agas menghela napas lega mendengar semprotan Khaylila. Dia menepuk-nepuk bahu Khaylila lalu mengusap-usap kepalanya. Wajahnya yang tadi keliatan panik kini mulai tenang. Khaylila bingung dengan sikap Agas. "Kok Kak Agas ada di sini? Terus kenapa Kak Agas tadi tepuk-tepuk pipiku?" tanya Khaylila penasaran. Agas menghela napas pelan. Tatapan matanya sendu. "Lo habis kena hipnotis, Khaylila." "Hipnotis?!" seru Khaylila heboh. Dia kemudian tertawa sambil meraba tasnya. "Kak Agas pasti bercanda kan? Mana mung—" Khaylila refleks menunduk saat tak berhasil menemukan tasnya. Dia terbelalak menyadari tasnya raib. Tidak mungkin jika dia terhipnotis. Mungkin tasnya hanya tertinggal di mobil Karim. Tapi yang dia ingat, dia belum sempat masuk dalam mobil setelah meletakkan barang tadi. Astaga, apa benar Khaylila dihipnotis? "Gue serius, Kay. Lo emang habis kena hipnotis," ulang Agas. Otak Khaylila seketika memutar kejadian sejak keluar supermarket. Dia dan Karim ke parkiran meletakkan barang; Karim yang mulas dan meniggalkannya; Asap bus b****k waktu mau jalan ke warung kelontong; Lalu tiba-tiba— "ASTAGA! Ada yang nepuk bahuku dari belakang!" Khaylila mendesah berat, namun belum cukup mencegahnya dari kepanikan. Dompet dan ponselnya hilang. Dia bingung harus bilang apa pada Ayah dan Bunda nanti. Tiba-tiba, tubuh Khaylila menegang. Wajahnya pucat pasi. Sebuah kekhawatiran lain muncul di benaknya. Dengan gerakan cepat Khaylila memegangi kepala, meraup wajah, meremas bahu lalu lengan. Penampilannya tidak berubah sejak berangkat tadi. Bajunya masih rapi dan celana jeans yang dipakainya juga masih terkancing rapat. Meski begitu, refleks tubuhnya benar-benar luar biasa. Khaylila bergidik ngeri. Kakinya mendadak terasa lemas dan akhirnya tubuhnya merosot ke tanah. Bayangan-bayangan ngeri langsung memenuhi otak Khaylila yang kelebihan daya imajinasi itu. Mata bulatnya itu berkaca-kaca. Aku bener-bener masih perawan, kan? Hueee... Agas yang dari tadi melihat Kay dengan khawatir refleks jongkok di depannya dan memegang kedua bahunya yang bergetar. "Khaylila? Hei, jangan nangis!" "K-kak Agas, Kay takut...." Tangisan Kay making kencang. Dia sesenggukan dan air matanya mengalir deras. Lalu, dalam satu tarikan napas berikutnya, dia bisa merasakan aroma harum yang menguar di hidungnya. Agas memeluknya. "Lo tenang, ya. Lo nggak papa, Kay." Agas makin mengeratkan pelukannya yang hangat sambil menepuk-nepuk bahu Kay, menenangkannya. Kay sama sekali tidak bisa memikirkan apapun. Dia cuma bisa menangis bahkan saat kepalanya yang ditarik merapat ke d**a bidang Agas yang terbalut kaos coklat gelap. "Ssst.... Lo tenang, oke? Ada gue di sini." Suara Agas begitu lembut mengalun menenangkan Kay yang masih sesenggukan. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN