"Assalamu'alaikum...." salam Khaylila lemas sambil menutup pintu rumah tanpa minat.
"Lho, Bram, Kamu kenapa?!"
Khaylila baru akan melepas sepatu saat terdengar seruan bunda yang cukup heboh dari ruang keluarga. Buru-buru Khaylila melepas sepatunya dan melesat ke ruang keluarga. Ayah dan Ibram tengah duduk bersebelahan di atas sofa, dan bunda kelesotan di lantai.
Khaylila mendekat, mencium tangan Bunda dan Ayah bergantian. Dia melihat jam tangannya sekilas lalu menatap heran pada ayah. Ini belum jam lima sore dan ayah sudah pulang. "Ayah tumben udah pulang?"
Ayah hanya tersenyum lalu mengusap kepala Ibram yang menunduk dengan anteng. Tumben sekali Ibram bisa sediam itu. Apa ada sesuatu?
Penasaran, Khaylila duduk di samping Bunda dan memperhatikan adik tengilnya. Tiba-tiba saja Ibram mengangkat kepalanya dan memandang Khaylila dengan cemberut serta mata yang keliatan bengkak seperti habis menangis.
"Apa sih, Mbak?" bentaknya galak, merasa risih karena dilihati Khaylila seolah dirinya adalah alien. Khaylila hampir menertawai wajah jelek adiknya saat matanya menangkap ekspresi Ibram yang sedang meringis sambil memegang sarungnya. Tunggu, sejak kapan celana sekolah Ibram berubah jadi sarung?
"Sshh..." desis Ibram sambil meringis, membuyarkan semua analisa Khaylila tentang sarung sebagai seragam baru Ibram. Cewek itu lantas menatap khawatir pada Ibram yang tampak begitu kesakitan. Ibram kenapa?
"Sakit banget ya, Bram?" tanya bunda pada Ibram. Muka bunda bener-bener khawatir dan berhasil membuat Khaylila penasaran. Ibram sakit? Sakit apa?
"Lo kenapa sih, Dek?" tanya Khaylila pada akhirnya. Ibram malah menanggapi pertanyaan Khaylila dengan memonyongkan bibirnya. Khaylila mencibir lalu berpaling pada ayah. Harusnya dia langsung bertanya pada ayah saja. "Ibram kenapa, Yah?"
Sambil senyam-senyum, ayah melirik Ibram yang geleng-geleng kepala kepada ayah. Khaylila memicing curiga.
"Ibram abis sunat, Mbak," sahut bunda yang langsung dihujani tatapan dingin oleh ayah dan Ibram. Khaylila menertawai bunda yang tampak kebingungan dengan tatapan dingin ayah dan Ibram. Ah, Ibram rupanya mau menyembunyikan kenyataan kalau dia baru saja disun—
"Eh." Khaylila tersentak saat baru tersadar sesuatu. "IBRAM ABIS SUNAT?!" serunya heboh dan tanpa sadar memukul paha Ibram dengan cukup kencang.
"ADUHH!!!"
"Khay!!!"
"Khaylila!!!"
Teriakan dari tiga manusia yang ada di ruangan itu berhasil membuat Khaylila menunduk sambil meringis merasa berdosa. Apalagi pada Ibram yang teriakannya paling kencang. Ya ampuun... padahal dia tadi benar-benar tidak sengaja. Pukulan barusan hanya refleks karena saking kagetnya dengan berita yang mengejutkan barusan.
Ya siapa yang nggak kaget, sih? Tidak ada angin atau ada hujan, tiba-tiba saja Ibram sunat aja. Terlalu mengejutkan.
"Nggak papa, Bram?" tanya ayah pada Ibram.
"Bram?" suara bunda jelas terdengar khawatir setengah mati.
Khaylila mengangkat kepala perlahan-lahan. Takut-takut, dia melirik bunda lalu ayah bergantian, keduanya masih memperhatikan Ibram yang... hmm... Ibram sekarang sedang menatapnya penuh dendam. Khaylila mengangkat kedua jari tangannya yang membentuk "V" ke dekat pipi, sembari nyengir lebar pada Ibram.
"Sorry, Brotha, nggak sengaja. Suer!" katanya yang malah mengundang tatapan dingin ayah dan bunda bergantian. "Diih, kan aku udah minta maaf... " protesnya pada ayah dan bunda sambil mencebik.
Kini Ibram yang tampak sangat tersiksa menarik lengan ayah hingga ayah menoleh pada Ibram. "Kenapa, Bram?"
Tiba-tiba sebulir air mata meluncur di pipi Ibram. "Yah..." Suara Ibram berubah serak. "Please... Ibram nggak mau disunat lagi.... " Air matanya lalu meluncur semakin deras.
Khaylila dan bunda melongo. Ayah yang awalnya melongo lalu segera mengangguk mantap.
"Iya, Bram. Ayah bersumpah, ini pertama dan terakhir kalinya kamu disunat." kata Ayah sambil menahan tangan kanannya yang terangkat di udara.
"YA IYALAH!!!" seru Khaylila dan Bunda berbarengan sambil melempar bantal yang tadi mereka pegang ke arah ayah yang langsung tergelak. Untung bantal-bantal itu tidak menyenggol Ibram. Detik berikutnya, Ibram menepuk jidatnya dan ikut tergelak bersama Khaylila dan Bunda, menertawai ke-oon-an Ibram.
"Ibram khilaf, hahahaha... " ujar Ibram seraya tertawa yang membuat tawa tiga orang di sebelahnya semakin menjadi.
***
"Aku sekarang cowok macho, Mbak!"
Khaylila yang duduk kelesotan di lantai kontan melempar pandangan penuh cibiran pada Ibram. Bocah itu sedang asyik makan jeruk yang dikupas Khaylila sambil selonjoran di sofa ruang televisi. Katanya, itu sebagai hukuman karena sudah membuatnya menderita tadi siang.
"Machonya dari mana coba?" tanya Khaylila penuh sindiran. Matanya masih asyik melihat acara kartun di televisi. Malam minggu memang surga. Tidak perlu belajar, bisa nonton tv sepuasnya. Sayangnya masih ada yang kurang. Kekasih. Khaylila tersenyum-senyum sendiri karena pemikirannya barusan.
"Kan aku udah sunat mbak. Ya berarti udah cowok beneran. Aku udah bisa goda-godain cewek di sekolahan, Mbak."
Khaylila hampir tersedak biji jeruk gara-gara mendengar kalimat ngaco Ibram. "Heh, jangan suka isengin cewek-cewek lo!" omel Khaylila. Ibram cuma mencibir sambil melihat tv.
"Suka-suka aku lah Mbak. Lagian ya mbak, cewek-cewek di sekolahan aku, tuh pada banyak yang naksir sama aku."
Kali ini Khaylila hampir tersedak kacang yang baru masuk mulutnya. Dia meneliti Ibram dari ujung kepala hingga kaki. Bocah itu memang tampan, tapi sikapnya menyebalkan sekali. Khaylila bergidik geli. Kasihan sekali cewek-cewek yang naksir Ibram.
"Yang naksir lo pasti pada rabun!" ledek Khaylila tidak terima. "Lagian lo baru sunat aja udah songong banget," lanjutnya berapi-api.
"Sirik aja mbak. Nggak laku-laku, sih." Ibram terkekeh lalu menutup mulutnya dan menatap kakaknya prihatin. "Liat aja, Bang Karim aja nggak mau sama, Mbak."
"Ibram!" seru Khaylila sambil bangkit dari duduknya. Dia siap menjitak kepala Ibram, namun menahan diri saat bocah tengil itu siap berteriak pada Bunda atau Ayah. Hidung Khaylila kembang kempis menahan amarah. "Tau ah! Gue sebel sama lo!" serunya kesal lalu kembali duduk di lantai. Dia kembali menyaksikan kartun dengan muka ditekuk.
"Cieee... ngambek nih, yeee...." Ibram tertawa kecil lalu menoel-noel pipi Khaylila dengan jari kelingkingnya. Khaylila segera menepis tangan Ibram. Dia sebal setengah mati dengan adiknya itu. Dia jadi ingat kata-kata Paula tadi siang.
"Munkin lo ngerasa hati lo emang udah terikat sama Kak Karim, tapi kalo Tuhan maunya hati kak Karim terikat sama hati kak Bellen, lo bisa apa?"
Ya ampun, bagaimana kalau yang dikatakan Paula tadi benar? Itu artinya Khaylila tidak punya kesempatan untuk bersama dengan Karim. Bibir Khaylila mengerucut saat dadanya seolah ditusuk dengan jarum berkali-kali. Matanya terasa memanas. Tiba-tiba ia berdiri, berniat pergi ke kamar dan meratapi nasibnya sendiri di sana.
Khaylila baru beranjak saat bajunya ditarik oleh Ibram. Mau tak mau dia menoleh dan langsung memelototi adiknya itu. "Lepasin baju gue!"
"Mbak mau kemana?" Ibram balas bertanya dengan wajah memelas.
Khaylila mendecak. Wajahnya berubah galak. "Lepasin baju gue, Bram!"
"Mbak Khaylilaku yang cantik jelita, maaf. Sekarang duduk lagi, dong. Jangan tinggalin Ibram sendiri," pinta Ibram sambil mengeratkan pegangannya di baju Khaylila. Wajah Ibram makin memelas, namun justru membuatnya terlihat bodoh. "Ibram nggak bisa apa-apa tanpa Mbak Kay."
Khaylila yang tadinya kesal, menahan diri untuk tidak tertawa mendengar gombalan Ibram yang norak itu.
"Mbak," Ibram kembali menarik baju Khaylila, membuatnya mengedikkan dagu. "Duduk lagi ya, Mbak. Maafin Ibram."
Khaylila mengembuskan napas berat, kemudian duduk kembali ke tempat semula. Dari ujung matanya, Khaylila bisa melihat Ibram tersenyum super lebar. Khaylila tersenyum geli. Ya, meski Ibram sering sekali membuatnya geregetan, tapi Khaylila tetap sayang padanya.
Tak lama kemudian, Ibram menodongkan tangan ke depan wajah Khaylila. Dia tersenyum lebar. "Kacang lagi dong, Mbak!" pintanya sambil mencolek-colek pipi Khaylila.
Khaylila memutar bola mata sebelum akhirnya meraih segenggam kacang tanah yang tadi sudah dia pisahkan dari kulitnya, lalu menyerahkannya ke telapak tangan Ibram dengan kasar. Bocah itu cengar-cengir melihat Khaylila meliriknya kesal.
"Makasih Mbakku yang cantik jelita," katanya genit sambil mencolek dagu kakaknya. Khaylila pura-pura muntah lalu kembali menonton tv sambil tersenyum geli. Ibram terkekeh jail. "Tadi kelingking Ibram kena liur lho, mbak. Haha...."
Khaylila menoleh ke belakang dengan cepat. Matanya melotot. "Lo jorok banget sih, Bram!"
Ibram tertawa ngakak melihat Khaylila dengan kasar mengusap-usap pipi dan dagunya yang dicolek-colek Ibram. Mendengar tawa Ibram yang begitu puas, Khaylila menggeram dan berniat untuk menuntut balas. Lalu, satu ide bagus muncul di kepalanya. Khaylila berdiri, dan menatap Ibram yang kini makan makan kacang sambil menaik-turunkan alisnya. Senyumnya culasnya muncul.
"Gue juga baru inget kalo telunjuk gue tadi abis gue pake ngupil, Bram," kata Khaylila sambil tersenyum manis.
Ibram berhenti memainkan alisnya dan mulutnya seketika menganga lebar. Yuhu! Satu sama! Khaylila menjulurkan lidah ke arah Ibram kemudian melenggang pergi dari ruang tv, meninggalkan Ibram yang teriak-teriak tidak terima dengan perbuatannya.
"Sukurin lo, Bram. Iseng sih," kata Khaylila di tengah tawanya saat berjalan menuju kamarnya. Dia butuh mencuci bekas tangan jorok Ibram yang ada di wajahnya.
Khaylila baru akan membuka pintunya saat bel rumahnya berdenting. Khaylila berhenti dan meneriaki Ibram. "Buka pintunya, Bram! Tamu tuh!"
"Aku kan lagi sakit, Mbak. Nggak boleh jalan jauh," balas Ibram kembali berteriak.
Khaylila menghela napas, mencoba sabar dengan mengingatkan diri kalau Ibram dalam masa penyembuhan setelah disunat. Seandainya Ibram tidak dalam masa itu, Khaylila akan menyemprotnya habis-habisan karena sifat malasnya. Khaylila berjalan ke pintu depan.
"Eh, Tante Ratri," sapa Khaylila dengan wajah bersinar ketika melihat Ratri, mama Karim, berdiri di depan pintu rumahnya sambil tersenyum ramah.
"Hai, Sayang," sapa Ratri dengan suara kalemnya yang menyejukkan jiwa. "Bunda kamu, ada?"
Khaylila menoleh ke belakang sebentar. "Ada, Tan, di teras belakang. Mau Kay panggilin?"
"Oh, nggak usah, Kay. Tante cuma mau nganter ini." Ratri mengangkat satu toples bening berisi kue kering yang sedari tadi dibawanya lalu menyodorkannya pada Khaylila. "Kebetulan Tante tadi kue cokelatnya bikin banyak."
Mata Khaylila melebar takjub. Dia ambil toples itu dan membukanya. Aroma khas kue kering itu langsung menyebar di hidungnya. Hmm, haruuum....
"Makasih banyak ya, Tante," katanya ceria. Dia menggandeng lengan Ratri setelah menutup kembali toples berisi kue itu. "Ayo masuk dulu Tante, biar Kay bikinin minuman."
"Nggak usah, Kay. Kayak sama siapa aja." Ratri terkekeh kecil sambil menepuk pelan punggung tangan Khaylila. "Lagian, Tante musti balik dulu. Tadi ninggalin kue yang lagi dipanggang."
"Oh, masih manggang lagi. Kirain udah selesai."
"Belum, Sayang. Pesenan teman sekantor papanya Karim banyak banget soalnya."
"Oh gitu." Khaylila mengangguk lalu melepaskan tangan Ratri. Dia jadi ingin membantu. Ya, sekalian bertemu Karim. Barangkali setelah membantu Ratri, dia bisa berduaan dengan Karim. Khaylila tersenyum-senyum sendiri. "Mm... Tan, Kay boleh bantuin?"
Ratri tersenyum menggoda. "Mau bantuin apa mau ketemu Karim?"
Khaylila cengar-cengir. Dia tidak akan bisa menyembunyikan modusnya dari Ratri. Perempuan seumuran bundanya itu memang sudah tahu kalau Khaylila naksir berat pada Karim. Dan sepertinya Ratri tidak pernah keberatan. "Dua-duanya, Tante."
Ratri tertawa kecil dan menepuk pelan bahu Khaylila. "Ya udah. Tapi izin ortu kamu dulu. Tante tunggu di sini."
Khaylila mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Tak sampai lima menit dia kembali mengahampiri Ratri dan menggandengnya pergi dengan ceria. Mereka berdua berjalan sambil membicarakan orderan kue Ratri yang semakin hari semakin banyak. Khaylila tidak heran karena kue kering buatan Ratri memang enak dan bebas bahan pengawet.
"Kak Karim tadi lagi ngapain, Tante?" tanya Khaylila pada Ratri yang berjalan di depannya menuju pintu rumah.
"Karimnya masih di luar, Kay. Paling bentar lagi pulang," jawab Ratri seraya membuka pintu depan rumahnya.
Khaylila berhenti melangkah. Jadi Karim belum pulang dari tadi. Ini malam minggu, dan mengingat bagaimana kedekatan Karim dan Bellen tadi sore, mungkin sekali jika mereka sebenarnya sedang kencan. Mungkin mereka sekarang masih nonton romantis berdua atau mungkin makan suap-suapan di pinggir jalan. Khaylila mendadak lemas memikirkan kemungkinan itu. Pikiran seketika kacau.
"Kay?"
Khaylila tersentak. Konsentrasinya masih belum sepenuhnya kembali ketika menyahut, "Y-ya, Tan?"
"Kok berdiri di situ aja. Yuk, masuk!" ajak Ratri di depan pintu yang setengah terbuka.
Khaylila rasanya ingin kembali pulang saja. Sepertinya dia tidak akan sanggup melihat Karim lagi. Dia takut akan menangis nantinya. Tapi dia sudah terlanjur berjanji untuk membantu Ratri. Akhirnya, mau tidak mau, dengan langkah tersaruk, Khaylila memaksa tubuhnya yang lemas itu untuk berjalan menyusul Ratri.
Aroma harum kue yang sedang di panggang menyerbu indera penciuman Khaylila begitu dia dan Ratri menginjakkan kaki ke dapur rumah ini. Di atas meja makan yang ada di sana, tersusun rapi beberapa toples dari ukuran kecil hingga besar berisi aneka jenis kue. Toples-toples itu diberi hiasan pita warna-warni hingga mempercantik tampilannya. Ratri mendekati ovennya dan tampak mengecek kue, sementara Khaylila hanya berdiri di dekat meja makan sambil mengamati Ratri yang kini mengeluarkan loyang dari oven, dan meletakkan loyang demi loyang ke atas meja makan.
"Sabar, ya, Kay. Karim bentar lagi pulang, kok," kata Ratri sambil menggoyangkan loyang yang dipegangnya. Dalam sekejap kue kering di dalamnya bergerak dari loyang. Ratri menatap Khaylila sambil tersenyum penuh arti.
Khaylila tersenyum, meski dipaksakan. Ratri yang menyadari hal itu lantas bertanya, "Kamu kenapa sih, Kay? Kok kayaknya sedih gitu."
Khaylila terkesiap. Apa benar jika dia terlihat sedih? Padahal dia sudah berusaha tersenyum. Khaylila menggeleng pelan lalu kembali tersenyum simpul. "Nggak papa kok, Tan."
Ratri mengamatinya agak lama, membuat Khaylila salah tingkah dan mengalihkan tatapannya ke lantai. Tak lama kemudian, Ratri mengusap rambut Khaylila dengan sayang dan berhenti ketika Khaylila mendongak. Ratri tersenyum lembut.
"Apa perlu Tante telponin Karimnya biar kamu nggak cemas?"
Khaylila kaget lalu segera melambai-lambaikan tangan tidak setuju. "Nggak usah Tante. Siapa tau Kak Karim emang masih di jalan." Khaylila nyengir.
"Oke deh. Kalo gitu bantuin Tante nyusun kuenya dalam toples aja ya?"
Khaylila mengangguk kemudian beranjak menuju wastafel untuk mencuci tangan. Khaylila menerima sarung tangan plastik dari Ratri dan memasangnya dalam diam. Dia kemudian mengambil toples kosong yang ada di sana, lalu memperhatikan Ratri yang mulai menata kue dalam toplesnya sendiri.
Tangan Ratri begitu cekatan dan hasil tatanan kuenya begitu rapi. Khaylila menatap Ratri yang tampak menikmati pekerjaannya.
"Tante," panggilnya. Tiba-tiba saja dia ingin bertanya sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Ya, Sayang?" sahut Ratri sambil menoleh pada Khaylila sejenak.
"Kak Karim punya pacar ya, Tan?"
Ratri menghentikan kegiatannya dan menatap Khaylila dengan dahi berkerut. "Pacar?" Khaylila mengangguk. Ratri tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kayaknya enggak, deh."
Khaylila hampir bersorak gembira mendengarnya. Namun, sekian detik berikutnya Ratri berhasil membuat Khaylila kembali murung dengan lanjutan kalimatnya.
"Tapi Tante nggak tau juga sih. Bisa jadi Karim emang punya pacar tapi belum dikenalin sama Tante." Ratri mendadak pasang tampang penasaran. "Emang kenapa kamu tiba-tiba nanyain ini? Kamu liat Karim jalan sama seorang cewek?"
Khaylila mengangguk. Saat Ratri terkesiap, Kay mengerucutkan bibirnya. "Kay tadi liat dia jalan sama temen sekelasnya, Tan."
"Siapa itu? Kamu tau namanya? Orangnya gimana? Baik nggak? Cantik nggak? Pinter nggak?"
Khaylila hampir terserang migrain mendengar pertanyaan beruntun dari Ratri. Khaylila menarik napas dan membuangnya. "Ya, Tante, anaknya cantik, pinter, dan kayaknya baik hati. Namanya, Bellen, Tante."
Kerutan-kerutan di dahi Ratri perlahan-lahan menghilang. Wajahnya yang begitu penasaran, kini berangsur-angsur berubah geli. Sudut-sudut bibirnya bergetar dan lama-lama meledak dalam kekehan geli. Khaylila bingung sekaligus kecewa melihatnya. Sepertinya Ratri senang mendengar segala kebaikan yang dimiliki Bellen. Lalu jangan-jangan Ratri akan memberi restu pada Karim dan Bellen untuk pacaran. Oh, tid—
"Jadi dari tadi kamu sedih tuh karena ini?"
Khaylila mengangguk ragu lalu menunduk. Ratri makin terkekeh.
"Kamu nih ada-ada aja, Kay. Tante kira Karim beneran punya pacar."
Khaylila mengangkat kepala. Wajahnya begitu sedih. "Mereka deket banget, Tan."
Ratri berusaha menghentikan kekehannya lalu memandang Khaylila dengan senyum tenangnya. "Bellen itu sepupunya, Karim, Sayang. Mereka nggak pacaran, tapi emang deket dari kecil, kayak saudara kandung."
Khaylila mengerjap sekali. "Sepupu?"
Ratri mengangguk. "Iya, mereka sepupu dekat. Anak adiknya Om Miko. Itu lho, yang rumahnya sekarang ditebengin Karim."
Khaylila hampir menangis bahagia mendengarnya. Namun, dia segera menahan diri agar tidak terlihat norak. Yang jelas, sekarang Khaylila tahu kalau Karim dan Bellen tidak punya hubungan asmara. Ratri geleng-geleng kepala saat melihat Khaylila mulai menata kue sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Kamu mau Tante ajarin bikin kue favorit Karim nggak, Kay?"
Tanpa berpikir dua kali, Khaylila mengangguk dengan semangat. Mana mungkin Khaylila menolak penawaran menarik dari calon mertua sebaik Ratri?
Ratri tersenyum. "Ya udah, besok aja, gimana?"
"Boleh Tante!" kata Khaylila cepat. Ratri tertawa anggun lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Khaylila juga ikut melanjutkan menyusun kue ke dalam toples sambil tersenyum lebar.
***