6

1367 Kata
"Kak Karim sama Kak Bellen tadi siang habis dari mana aja?" tanya Khaylila sambil menuliskan angka-angka random ke buku tulis di hadapannya. Mereka berdua kini tengah berada di ruang tamu rumah Karim. Tadi sesampainya Karim di rumah, Khaylila memang sengaja memintanya untuk mengajari PR matematikanya. PR matematika itu memang nyata, tapi sebenarnya sudah pernah dibahas. Khaylila hanya menggunakan alasan itu sebagai modus agar bisa berduaan dengan Karim. Awalnya Karim menolak, beralasan lelah dan ingin istirahat. Tapi, dengan perintah Ratri dan Miko, akhirnya Karim menyerah. Setelah makan malam bersama, dengan wajah ditekuk, Karim beranjak ke ruang tamu. Khaylila melirik Karim karena tidak mendengar jawaban apapun. Cowok itu sedang asyik menekuri buku di tangannya. Khaylila tersenyum sendiri melihat Karim yang tampak lebih tampan ketika serius. Rambut hitam legamnya yang acak-acakan menarik perhatian Khaylila. Rasanya ingin sekali Khaylila merapikannya. Namun sebelum itu semua terjadi, suara Karim membuatnya mengurungkan niat itu. "Mending lo pulang aja kalo bisanya cuma bengong nggak jelas atau nanya nggak penting kayak tadi." Khaylila manyun mendengar nada dingin dan judes Karim. Tapi detik berikutnya, Khaylila sedikit mendekatkan badannya pada Karim sambil tersenyum jail. "Nanti kalo aku udah pulang, Kak Karim malah nggak bisa tidur lagi." Karim menggelengkan kepalanya lalu menggumam, "Nggak jelas." Dia kemudian kembali menekuri bukunya. Khaylila terkekeh, lalu meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Wajahnya sepenuhnya menghadap Karim. "Aku baru sadar kalo Kak Karim secakep ini diliat dari deket," pujinya. Wajahnya tampak lucu. Karim menutup buku yang dipegangnya dengan keras lalu menoleh ke arah Khaylila dengan muka garang. Khaylila sadar Karim akan mengamuk, tapi Khaylila malah tersenyum manis padanya. "Dari pada lo ngegombal nggak jelas kayak gitu, mending lo pulang sekarang." Khaylila membelalakkan mata. "Tadi itu bukan gombal kali, Kak. Tapi tulus dari hatiku yang terdalam," elakku. Karim menutup matanya. Rahangnya mengetat, beberapa saat sebelum matanya kembali terbuka. "Pulang! Gue mau tidur." Setelahnya Karim langsung berdiri dan otomatis membuat Khaylila kelimpungan. Cewek itu buru-buru menarik tangan kiri Karim, tepat sebelum dia melangkah pergi. Khaylila tidak mau ditinggal begitu saja di kencan pertama mereka. "Jangan pergi, Kak!" rengek Khaylila sambil menggoyang-goyangkan tangan Karim. Meski tampak merengek, Khaylila sebenarnya sangat senang karena bisa memegang tangan Karim. Namun kesenangan segera buyar karena Karim menarik lepas tangannya dengan kasar. "Jangan pegang gue! Bukan mukhrim!" katanya ketus lalu berjalan. Langkah Karim belum genap dua langkah, Khaylila kembali menahannya, kali ini dengan menarik celana trainingnya. Karim menggeram sambil menahan celananya yang hampir melorot. "Kalo sama aku aja nggak mukhrim, tapi kalo cewek lain kenapa jadi mukhrim-mukhrim aja?" sindir Khaylila sambil cemberut. "Lepasin, Kail!" desis Karim sambil melotot. Wajahnya memerah menahan amarah. "Aku bakalan lepasin kalo Kak Karim mau duduk lagi," tawar Khaylila. Karim merasakan giginya bergemeletuk. Dalam hati dia mengumpat berkali-kali. Mengahadapi cewek model Khaylila benar-benar menguji kesabarannya. Dia mengeha napas panjang sebelum akhirnya duduk kembali di sebelah Khaylila yang langsung terkekeh penuh kemenangan. "Buruan selesaiin PR lo. Gue ngantuk," kata Karim sambil mendorong kasar buku matematika Khaylila di atas meja. Asli, mukanya BT akut. Khaylila jadi berpikir seribu kali kalau mau menggodanya lagi. "Karim, kok kamu gitu sih sama Kay," tegur Ratri yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Karim dan meletakkan sepiring kue kering cokelat dan dua gelas s**u cokelat ke atas meja. Karim langsung menyambar segelas s**u, meneguknya sampai habis lalu menyambar tiga keping kue kering dan melahapnya dengan cepat. Sumpah, makannya sangat rakus. Mulutnya sampai penuh dengan makanan, tapi kenapa Karim masih ganteng juga? Khaylila makin meleleh dibuatnya. Khaylila segera bersikap layaknya gadis lemah lembut sambil melihat Ratri yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya. "Makasih, Tan," katanya. Ratri mengedipkan satu matanya lalu tersenyum. Khaylila tersenyum geli. Karim memutar bola mata, jengah. "Mama ngapain pake kasih suguhan ke ini bocah? Dia kan mau pulang," protes Karim sambil berusaha menelan hasil kunyahannya. Dia menatap Ratri penuh protes sementara tangannya kembali meraup dua keping kue lagi. "Ya terserah mama dong, kan Kay tamu mama." Ratri memandangku. "Ya kan, Sayang?" Khaylila mengangguk kikuk, melirik Karim yang mendengus keras lalu kembali melahap kue yang dipegangnya tadi. "Kalo gitu mama aja yang nemenin bocah ini. Dia kan bukan tamu Karim," kata Karim. Meski bicaranya tidak jelas karena sambil mengunyah, tetap saja terdengar kejam di telinga Khaylila. Harusnya Karim sadar bahwa Khaylila kemari hanya untuknya. Karim hampir bangkit seandainya Ratri tidak menahannya. "Ih, gitu aja ngambek," sahut Ratri lalu tersenyum menggoda pada Karim. "Iya deh, Khay itu tamu spesial kamu." "Apa sih, Ma?!" seru Karim tidak terima. Sejak dulu sampai sekarang, Khaylila tidak pernah menjadi spesial di mata Karim. Khaylila cuma cewek genit yang membuntutinya kemana-mana dan membuatnya risih. Karim cemberut berat melihat mamanya terkekeh. Saat menyadari Khaylila ikut terkekeh dengan pipi bersemu merah, Karim mendengus keras. Cewek genit itu pasti ke-GR-an. Dia menyambar beberapa kue lagi dan melahapnya dengan brutal. Ratri berdiri, berniat kembali ke dapur. Saat baru melangkah, dia kembali berbalik dan menatap Karim. "Besok pagi ke supermarket ya, Rim?" "Ngapain?" tanya Karim sambil memakan kue kering lagi. "Tolong beliin bahan-bahan buat bikin kue. Soalnya, besok sore Mama mau bikin kue lagi sama Kay." Hening. Karim masih asyik makan kue dan pipi Khaylila masih bersemu merah saat menatap wajah ganteng Karim. "Karim?" "Ya udah, Karim anter," sahut Karim santai. "Kamu sendiri, Sayang. Mama sama Papa ada perlu soalnya." Karim mengangkat wajahnya. Dahinya berkerut. "Karim mana ngerti, Ma. Kenapa nggak Mama sama Papa aja setelah urusannya selesai?" "Yeee, Mama sama Papa kan, mau nemuin tamu penting di rumah." Karim mendengus pelan. "Tapi kalo salah-salah, jangan salahin Karim, ya, Ma." Khaylila yang sedari tadi diam menyimak percakapan Ratri dan Karim seketika menemukan ide yang brilian untuk mengatasi dilema Karim. Dia pun angkat suara, "Kalo nggak, besok sama aku aja, Kak. Aku juga mau bantuin Bunda belanja besok." Khaylila merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Dia tidak bermaksud bohong. Tadi siang Bunda memang memintanya menemani belanja untuk keperluan syukuran sunatan Ibram, hanya saja belum tahu kapan. Tapi Khaylila janji akan memaksa Bundanya untuk membuat daftar belanjaan sekarang juga kalau Karim setuju. "Ogah! Mending gue sendirian!" tolak Kak Karim tegas. Dia menatap tidak suka pada Khaylila. Ugh! "Eh, nggak papa Karim. Kan, Kay mumpung mau belanja juga." Ratri menatap Khaylila. "Iya, Sayang. Besok kalian bareng aja. Bantuin Kak Karim juga ya, Sayang?" Khaylila baru akan mengangguk sambil tersenyum saat Karim menginterupsi. "Nggak perlu, Ma. Karim bisa sendiri. Karim tadi cuma bercanda. Karim nggak perlu dibantuin bocah ngeselin ini sama sekali." Karim menatap Khaylila penuh permusuhan. Wajahnya sama sekali tidak bersahabat. Khaylil menunduk ngeri melihatnya. Sebegitu bencinya Karim padanya. Di luar kendali, mata Khaylila memanas dan bibirnya mulai berkedut ingin menangis. "Karim, kamu tuh kenapa sih, nggak pernah bisa bersikap baik sama Kay?" tegur Ratri. Khaylila mendongak dan mendapati Karim yang masih menatapnya sama seperti tadi. Penuh permusuhan. Khaylila merasa takut sekaligus tak enak hati. "Kamu itu udah besar tapi masih aja kayak anak kecil." Ratri menghela napas. "Pokoknya besok kamu bareng sama Kay." Karim menoleh pada Ratri. "Tapi, Ma-" "Nggak ada penolakan, Karim. Kalau kamu tetep nolak bareng sama Kay, berarti fix kamu akan kuliah di kedokteran." Khaylila melongo. Ancaman macam apa itu? Khaylila juga bisa menebak kalau Karim akan dengan senang hati menolak pergi bersama Khaylila. Ancaman Ratri untuk berkuliah di fakultas kedokteran begitu menggiurkan. Tapi Karim tampaknya tidak suka dengan ancaman itu. Beberapa detik kemudian, Khaylila akhirnya tahu alasannya setelah Ratri melanjutkan ancamannya. "No pilot academy." Karim mengembuskan napas panjang dan berat. "Fine," katanya sama sekali tidak ikhlas kemudian beranjak pergi dengan ekspresi dinginnya. Khaylila terpaku memandangi Karim yang tak seberapa lama menghilang dibalik dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Dia merasakan sakit sekaligus bersalah menjalari hatinya. Karim ingin menjadi pilot, dan hampir saja kehilangan cita-citanya sejak kecil itu jika menolak untuk pergi dengan Khaylila. Hal itu membuat Khaylila merasa dirinya seperti seseorang yang kejam. "Maafin Karim ya, Khay. Dia emang minta dikerjain dikit." Ratri tertawa kecil, membuat Khaylila menoleh padanya. Khaylila tampak bingung melihat Ratri tidak tampak menyesal sama sekali. "Tan, nggak papa kok kalo Kak Karim nggak mau Kay temenin," kata Khaylila. Jujur saja baru kali ini Khaylila merasa sangat bersalah pada Karim. Ratri tersenyum. "Udah, nggak usah dipikirin. Karim tadi sok-sokan aja. Dia pasti malu soalnya besok bakalan jalan sama kamu." "Masa sih, Tan?" Khaylila mengangkat alis, tidak yakin. "Tapi tadi Kak Karim kayak marah gitu, Tan. Mana ngatain Kay ngeselin lagi." "Paling juga akting." Ratri mengangkat bahu. "Biasa, cowok kan suka sok cool gitu kalo di depan cewek yang perhatian sama dia." Khaylila terkekeh mendengar Ratri mengatai anaknya sendiri sok cool. Tapi Khaylila tetap berdoa semoga yang dikatakan Ratri benar. Karim hanya malu dan akting. Well, Setidaknya hal itu membuat hatinya kembali tenang. Tinggal merayu Bunda agar mengizinkannya kencan-ups, belanja bersama Karim besok pagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN