Tanpa mendengar balas ucapan dari Alena, Reynard telah menghisap kembali bibir sang Nyonya muda Permana itu. Setelah tadi Rey, menghirup nafas panjang dan mulai bergulat dengan bibir ranum Alena.
Tentunya, wanita itu juga tidak tinggal diam. Semakin Rey menghisap kenikmatan itu, Alena juga menggilai permainannya. Saling mendekap tubuh dengan erat, sentuhan panas yang perlahan memuncak, Rey mencoba menuntun sang istri untuk mudur kebelakang.
Bibir yang saling menyatu dalam pugatan, tak sedikitpun terlepas. Lelaki itu, bak sang dominan dalam suasana penuh gairah. Tidak ingin di kalahkan oleh sang istri yang sama gilanya soal ranjang, Rey seolah ingin melumpuhkan Alena di tempat tidur yang sudah lama tak tersentuh oleh keringat klimaks itu.
Langkah kaki Alena yang perlahan mundur, kini terhenti di sisi ranjang mereka. Perlahan, Reynard menuntun Alena merangkak di atas tempat tidur. Tangannya yang kekar, menaruh kepala sang istri di atas bantal persegi panjang yang dibaluti sarung berwarna coklat muda itu.
Pengait blonde Alena yang belum sempat ia buka di kepalanya itu, di lepaskan oleh Reynard. Rambut berwarna coklat, tergerai lemas di atas bantal.
Rey kembali menghentikan sejenak bermain dengan bibir Alena. Netra miliknya menatap tegas pada wanita yang berada dalam kukungannya saat ini. Matanya yang indah bermanik kecoklatan, hidung berbatang tinggi, wajah oval, dan bibir... Ah, bibir wanita itu mulai bengkak karena ulahnya. Tapi, masih sangat menggiurkan.
Dada Alena tampak kembang-kempes. Akibat udara yang berada di rongga dadanya, terkemas habis saat hisapan itu bermain.
"Kau gila, Rey! Bibir ku sampai bengkak. Aku hampir saja kehabisan napas, akan permainanmu," celetuk Alena. Ia merasa gairah lelaki itu benar-benar membuat Alena kewalahan. Hampir saja, ia tidak bisa mengimbangi lelaki itu.
"Aku tidak ingin melewatkan tubuhmu sedikitpun Alena! Termasuk bibir punyamu ini, sayang. Aku sangat mendambakannya," ucapan Reynard dengan hawa penuh kehangatan sangat membuat Alena menggelitik penuh hasrat.
Alena tersenyum merekah, tangannya kembali melingkar pada leher lelaki itu. Rey yang masih belum puas, kembali mendekam bibir Alena. Namun, tidak dalam waktu lama.
Kini ciuman itu perlahan turun dari bibir Alena. Menelusuri dari dagu, lalu turun ke leher, kemudian d**a Alena yang sudah tersingkap dua buah kancing baju. Reynard berhenti di sana. Tangan Reynard bergerak untuk membuka satu persatu buah kancing baju.
Setelah terbuka semuanya, baju Alena di buang kesembarangan arah oleh Reynard. Begitu hal yang masih melekat di tubuh wanita itu yang kini berserakan di bawah sana.
Rey kembali mencengkram tangan Alena. Lelaki itu tampak tidak sabar untuk melanjutkan menggauli istrinya kembali.
"Aaaahhh..." Erangan penuh nikmat Alena semakin membuat Rey membuncah. Mencium gunung tak bertulang Alena, serta meremasnya.
Dengan sigap Rey menghentakkan keris pusakanya. Hanya sekali ... ya, hanya sekali hentakan keris tajam itu menembus pertahanan Alena di bawah sana.
Wanita itu semakin melenguh, matanya terpejam rapat menikmati setiap gesekan dari keris tajam nan tumpul itu.
"Aku tidak tahan lagi, Alena!" Seru Rey. Dia yang sudah bergelora, tidak sanggup lagi untuk menahan larva panas itu.
"Aaaahhh..." Rey pun tumbang di sisi Alena. Membalikan tubuhnya yang di penuhi keringat panas kenikmatan dunia itu.
Nafas mereka saling tersenggal-senggal. d**a mereka yang kembang-kempis itu saling berebut udara di ruang kamar.
"Kau memang paling bisa membuatku bahagia Reynard ..." Alena memeluk badan Atletis Lelaki itu yang berbaring di sisinya. Dengan tatapan penuh kasih yang di buat-buat.
Reynard mencium kening sang istri."Kau juga, sayang," Rey memandang istrinya dengan penuh kelembutan, kasih sayang tidak ada batasannya.
"Maaf kan aku, aku membuatmu pulang sendirian. Tanpa di jemput pengawal sayang," titah Reynard. Memandangi sang istri dengan wajah sendu.
Tangan Alena menarik hidung Reynard."Tak apa, yang penting aku sudah di sini bersamamu sayang."
"Kau akan memiliki waktu lama, kan, untukku di sini?" sambungnya.
Betapa Reynard ingin wanita itu berada di dekatnya. Jika memang kepulangan Alena bakalan lama kali ini, Reynard akan mengambil waktu untuk selalu menemani Alena kemanapun yang ia butuhkan. Bahkan Reynard akan menyerahkan urusan kantor sementara di hendel oleh sekretaris.
Hidup seorang diri, dan tidur di kamar sendirian tanpa ada istri di sisinya, itu sungguh lebih berat dari pada sebuah pekerjaan dalam mengejar untuk memenangkan tender.
"Tidak, Rey," sanggah Alena."Aku pulang untuk beberapa hari saja. Dan ada ajang peragaan busana di Seoul, Korea. Dan aku di pilih untuk memperagakan busana dari designer ternama di negara itu. Aku yakin, kau pasti dukung aku 'kan sayang?"
Seketika Rey membungkam. Ia bergeming. Ucapan sang Mama kembali terngiang di telinganya. Wanita paruh baya itu meminta kehadiran cucu di tengah keluarga Permana. Tapi, Reynard juga tidak tega, jika dia mematahkan keinginan sang istri.
"Apa itu sangat penting, sayang?" tanya Reynard. Suaranya terdengar lirih. Bagaimana caranya ia menyampaikan maksud baik sang Mama pada Alena? Agar ia bisa menerimanya dengan baik. Tapi ... Ah, lidahnya di buat kelu seketika.
"Humm ..." Alena mengangguk."Aku udah lama mengincar ini Rey, setidaknya aku juga bakal di kenal dinegara sana."
Entah mengapa, Rey sama sekali tidak bisa melarangnya. Tapi, tentu saja ditinggalkan oleh sang istri bukan hal pertama kali bagi lelaki itu. Sudah menjadi hal biasa.
"Mmm ... Bolehkah aku berbicara sesuatu?" tanya Rey, menimang-nimang kata yang akan ia lontarkan. Ia tahu ini akan tidak mudah di terima oleh Alena. Belum juga pertanyaan itu tersampaikan, Reynard sudah merasakan gugup lebih dulu.
Alena mengadahkan kepala melihat sang suami, saat tangan Rey menjadi alas kepalanya."Apa itu, sayang?"
"Setelah kau selesai dengan acara itu, bagaimana kalau ... kita fokus untuk memiliki bayi? Maksudku, udah waktunya kita memiliki seorang anak sayang. Kau tak perlu khawatir, aku pasti memenuhi segala keperluan hidupmu dan anak kita," titah Reynard. Masih memandangi wajah istri, serta tangannya yang mengusap lembut kepalanya.
Alena masih bergeming. Diamnya Alena, membuat Rey tidak sabar mendengar tanggapan sang istri. Berharap bahwa sang istri juga sejalan dengan keinginannya. Tiba-tiba ... Gelak tawa Alena berderai.
"Hahahaha... Rey!" tegas Alena. Ia menggeleng cepat. Alena menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur."Apa kau bercanda? Posisiku saat ini berada di atas sayang. Mana mungkin aku menyia-nyiakan ini semua. Kau 'kan tahu, betapa aku sangat menginginkan semua ini?"
"Kau ini, ada-ada saja!!" sambungnya.
Reynard yang berharap Nyonya muda Permana itu menyanggupi permintaannya, ternyata dia mendapat jawaban penolakan. Dan yang anehnya, wanita itu menganggap perkataan Reynard hanya sebuah candaan.
Rasa kecewa yang menelusup di hati Reynard, hanya memandang sang istri dengan wajah dingin."Aku tidak bercanda, Alena. Aku serius! Kau tahu Alena, mama akan mengadakan konferensi tentang pernikahan kita. Itu suatu hal baik bukan, untuk pernikahan kita?!"
Gelak tawa yang memenuhi ruangan itu, seketika teredam dari bibir Alena. Ia kembali melirik Reynard yang kini juga bersandar di tempat tidur. Tanpa kedipan. Namun, sorotan matanya memanah tajam pada Reynard.
"Kau mencoba mengingkari semuanya, Rey?! Dari awal sudah aku katakan, aku tidak akan mundur dari karirku. Dan kini, kau memintaku untuk meninggalkan semuanya, Ha...? Tidak, Rey!!" bentak Alena." Aku tidak akan setuju!!"
"Apa yang kau cari, Alena? Kau mencari uang 'kan? Aku bisa memberimu itu. Tanpa kau bekerja di luar sana. Aku sanggup menghidupimu. Kau hanya perlu di rumah, masak untukku, merawat dirumah dan menunggu aku pulang." Reynard menghirup nafas, untuk memenuhi rongga dadanya yang mulai sesak. Ia mencoba untuk tetap mengontrol diri." Menghadirkan bayi di tengah keluarga kecil kita, Alena."
"Cukup, Rey!" Hardik Alena, mengarahkan jari telunjuknya pada Reynard."Apapun yang kau katakan, aku akan tetap meneruskan karirku. Jika kepulanganku hanya meminta untuk mundur dari karirku, mendingan aku balik sekarang juga!"
Alena beranjak dari tempat tidur. Memilih melangkah ke kamar mandi dengan selimut membelit tubuh Alena.
Namun, terhenti saat tangan kekar Reynard menahan Alena.
Lelaki itu langsung mendekap sang istri pada pangkuannya." Maafkan aku, sayang. Aku janji, tidak akan membahas itu lagi. Kejarlah karirmu, dan pulanglah ketika selesai dengan pekerjaanmu, Alena!"
Inilah kelemahan Reynard. Ia tidak mampu untuk memaksakan keinginan pada sang istri. Lagi, dan lagi dia hanya bisa menuruti. Selalu begitu pada akhirnya ia tetap akan mengizinkan Alena pada karirnya.
Alena yang tadi tersulut emosi, menerbitkan senyuman menyeringai di bibir seksinya. Senyuman itu tersamarkan saat Reynard menarik tubuhnya dari dekapan itu.
"Jangan marah lagi ya, sayang, aku hanya mencintaimu, membutuhkanmu dalam hidupku. Karena aku tidak sanggup tanpa kehadiranmu di sisiku Alena." Ucap Reynard, menangkup wajah sang istri dengan tangannya. Lalu memberi kecupan pada kening Alena.
Alena perlahan tersenyum, menganggukkan kepalanya. Reynard mendekatkan wajahnya pada Alena. Mengecup kembali bibir wanita itu. Sehingga gairah yang meredam, kembali bangkit di atas tempat tidur.
Bersambung...