Bab 17 : Perasaan Daffin.

1919 Kata

Hari telah berganti, sinar mentari tidak pernah ingkar janji, selalu datang meski mendung dan hujan menghampiri. Safira menatap rintik hujan dari balik jendela kamar apartemennya, merenungi setiap jengkal kisah yang telah ia lewati. Hujan ini selalu mengingatkan dirinya awal dari kehancuran hatinya. Sejak malam itu, Safira rasanya ingin menyerah saja. Rasa cinta yang telah lama bersemi seakan musnah. Kecewa, lagi-lagi harus menelan pil bernama kecewa. Kejujuran kadang tidak mengenakan, tapi beginilah keadaannya, Safira nyata dengan status Janda-nya. Apakah menikah adalah pilihan yang salah. Safira punya alasan untuk itu. Tapi, percayalah cinta Safira hanya untuk Daffin selamanya. Suara dering ponsel memenuhi ruang apartemennya, membuyarkan isi fikiran Safira. Sekali, dua kali, Safira ab

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN