Bab 10 : Pernikahan Alexa

1380 Kata
Secepat itukah hari berganti, kemudian berlalu... Mentari telah meninggalkan sinarnya, meredup berganti langit yang hitam penuh bintang-bintang, dan juga rembulan yang mulai menampakan cahaya malam. Sejak sore, Safira tampak sibuk membongkar lemari pakaian, memilah dan memilih baju yang pas untuk ia kenakan ke acara pesta pernikahan Alexa dan Mahendra malam ini. Beberapa kali, Safira mengganti pakaian sampai-sampai isi setengah lemari sudah berserakan di atas kasurnya. Akhirnya, Safira menemukan yang pas untuk ia pakai. Sebuah dress dari bahan satin yang dipadukan dengan brukat tile berwarna lilac sepanjang pertengahan betis, sederhana sekali memang, namun terlihat sangat anggun di tubuh Safira yang tingginya 160 cm, dengan aksen lengan pendek. Ia biarkan rambutnya yang bergelombang di ujung tergerai indah tanpa poni, tipe sandals yang ia pakai di kakinya tampak serasi. Kemudian, cluth berukuran sedang berwarna silver sebagai tambahan pemanis penampilannya. Safira pergi dengan taksi on-line yang ia pesan sebelumnya, membawanya membelah jalanan kota menuju sebuah Hotel bintang lima salah satu di Jakarta, tempat pesta resepsi pernikahan Alexa dan Mahendra. Setelah sampai, di lokasi sudah banyak tamu yang berdatangan, terlihat berjejer sebuah buket papan tanda ucapan selamat dari berbagai perusahaan, salah satunya dari D-FAAZ Company Group. Wajarlah Mahendra adalah teman dekat Daffin. Jika orang lain datang berpasangan atau bergerombolan, Safira datang hanya sendirian, tak perduli orang-orang meliriknya, Safira terus berjalan menghiraukannya, sampai ia tiba di depan meja tamu. Ia memberikan kado yang ia bawa dan juga pihak penerima tamu memeriksa ketat apakah benar yang datang memang benar tamu dari pernikahan ini dengan sebuah kartu akses. Setelah selesai, Safira masuk dengan sambutan dekorasi yang luar biasa mewahnya, penuh dengan bunga mawar berwarna putih dan juga kilauan lampu. Terlihat sepasang pengantin tak lain Alexa yang terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun putih bak princes. Kemudian, Mahendra yang sangat tampan dengan setelan tuxedo senada dengan Alexa. Mereka berdua benar-benar pasangan yang sangat serasi, senyum bahagia terukir dari kedua mempelai menyambut kedatangan para tamu dan juga Safira dengan pelukan hangat serta cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Kecuali Mahendra, hanya bersalaman jauh. "Kamu cantik banget Alexa." puji Safira, memang kenyataannya, memandang Alexa penuh kekaguman. "Happy wedding Alexa dan Mahendra, semoga kalian bahagia selalu, cepet di kasih momongan juga." lanjut Safira dengan tulus. "Amiin. Terimakasih yah Safira kamu udah datang. Kamu Sendirian? " tanya Alexa tidak melihat ada pendamping di sisi Safira. Safira mengangguk saja, kenyataannya memang begitukan. "Tidak adakah lelaki yang mau mengantarkanmu ke pesta, atau karena belum ada yang membuatmu tertarik selain Daffin." lanjut Alexa. kata-katanya begitu menohok, langsung ke hati. Itu lagi, dimana-mana pasti nama Daffin yang disebutkan, tidak fikirannya, tidak juga pembahasannya, selalu Daffin. Bagaimana Safira bisa melupakannya, jika setiap orang menyebut nama Daffin di setiap bahasan pembicaraan. Safira memutar bola matanya jengah. "Aku sengaja datang ke sini sendirian untuk mencari kenalan, siapa tau ada laki-laki tampan mau melirikku, kan!!!" jawab Safira bercanda. "Siapa yang nggak mau ngelirik kamu Safira, kamu udah cantik begini." puji Alexa. Penampilan Safira memang berbeda malam ini, terlihat begitu cantik. "Ya... Ya... " jawab Safira santai. Lalu Safira berfoto bersama dangan kedua mempelai pengantin. "Udah cantik begini. Nyanyi satu lagu, tambah kamu cantik dua kali lipat." pinta Alexa dengan gurauan. "Dasar... Muji, Ada maunya. " jawab Safira terkekeh. Kemudian, Safira bergabung dengan wedding band, ia menyanyikan satu lagu khusus untuk mempelai pengantin dan juga tamu yang hadir di gedung mewah ini. Lagu You Are My Reason yang dipopulerkan oleh Callum Scott sebagai pilihan Safira. Menurutnya lagu ini sangat mendalam artinya. Cocok sekali untuk pasangan kekasih, pasangan suami istri. "Kamulah alasannya" Bagaimana jika hidup tanpa seseorang yang dicintainya, hidup namun terasa putus asa. Namun jika hidup bersama yang dicintainya tentu pasti bahagia, hidupnya penuh warna. Semua lagu yang Safira nyanyikan semuanya ada pesan tersendiri. Mengungkapkan banyak hal. Tergantung yang mendengarkannya. Baik itu mengungkapkan kerinduan, mengungkapkan sebuah isi hati yang begitu sangat mencintai seseorang, atau mengungkapkan tentang penyesalan, dan masih banyak yang lainnya. Sementara, dari jauh. Sekumpulan orang tidak asing. yaitu, Daffin, Yasmin, Matheo, dan juga seorang wanita sedang duduk berkumpul di meja khusus tamu VVIP. Mata elang Daffin diam-diam memandang ke arah Safira sejak mengeluarkan pertama suara indahnya di panggung wedding band. Daffin hapal betul dengan suara milik Safira, karena dulu Safira sering menyanyikan sebuah lagu untuknya. Bersikap dingin dan diam di tengah obrolan seru Matheo, Yasmin dan juga seorang wanita yang ada di samping Daffin, begitu dekat. Membicarakan banyak hal. Namun, isi kepala Daffin hanya tertuju pada wanita yang sedang bernyanyi di panggung. Yang dirasakan Daffin saat ini... Meski dalam keramaian, Dirinya merasa sendiri Meski dalam keramaian, Hidupnya terasa sunyi Api cemburu sudah mulai terasa hangat, berubah panas lalu membara dengan apa yang di lihatnya baru saja, mata elangnya yang tajam menangkap sosok pria mendekat ke arah Safira. Detik selanjutnya, Ia menandaskan satu gelas berisi wine dalam sekali teguk, selanjutnya dituangkannya kembali, di minum dengan sekali teguk hingga tanpa sisa, dan terus melakukan hal yang sama hingga isi botol wine yang tadinya terisi penuh kini tinggal tersisa setengah. Sampai-sampai, Yasmin yang berada duduk didekatnya sejak tadi menyadari langsung menahan tangan yang sedang memegang gelas minum milik Daffin, entah sudah yang keberapa. Agar menghentikan kebiasaan Daffin yang tidak baik. "Stop, Daffin!!!" ucap Yasmin dengan nada tegas, Ia berani memarahinya jika soal ini. Daffin tidak perduli, ia mengabaikannya. Yasmin sebenarnya sudah lelah harus memberitahu Daffin, Dirinya bukan anak kecil lagi, Ia sudah berumur tiga puluh tahun, sudah dewasa, sudah tahu mana yang salah, dan mana yang benar. Namun, siapa lagi yang akan memperhatikan Daffin, jika bukan Yasmin sendiri. Dari arah jauh... Setelah selesai bernyanyi, Safira turun dan mendapatkan Hari yang sudah menunggunya sejak tadi. Safira terkejut lalu tersenyum hambar pada Hari. Dimana-mana ada Hari, sudah macam penguntit saja. Apakah ajakan Hari kemarin adalah undangan pernikahan sepupunya, yang tak lain adalah Alexa atau Mahendra yang dia dimaksud. Safira benar-benar tidak tahu. Jika benar. Malu sekali rasanya, lagi-lagi ketahuan menghindar dari Hari. Padahal kemarin sudah menolak dengan berbagai alasan, Safira memang berniat untuk menghindarinya. Dan, kenyataannya malah bertemu kembali disini. Oh, sial. Batin Safira. "Kamu kenal dengan salah satu dari mereka? " tanya Hari, tampangnya selalu ramah. Oh, benar-benar. Dunia ini sempit sekali. Safira diam sejenak, berfikir cepat untuk mencari alasan yang masuk akal. Harus berkata apa? Safira masih mikir, otak leletnya di paksa mikir dalam keadaan genting seperti ini, malah semakin lelet seperti siput. "Oh ya. Padahal kemarin, kamu sudah menolak tidak bisa, malah bertemu juga disini, apakah ini adalah pertanda sebuah takdir." goda Hari, mendapati Safira diam saja malah memberikan senyuman hambar lagi. "Aku kenal dekat dengan Alexa, Ia adalah teman kuliah ku dulu." jawab Safira cepat. "Oh." Hari mengangguk. Namun, sebuah pertanyaan melayang lagi, "Bukankah kamu bilang kuliah di London, ya? ." tanya Hari penasaran, Ia ingin tahu banyak hal mengenai wanita incarannya. "Aku sempat kuliah setahun di Indonesia, terus pindah ke London di tahun ke-dua." jawab Safira menjelaskan. Hari hanya menjawab dengan ber "O" ria lagi. Melihat ekspressi Safira yang tidak ingin di tanya lebih jauh. Hari mengajaknya untuk makan sajian yang tersedia. "Lapar?". Tanya Hari mengalihkan topik pembicaraan. Hari mendapat anggukan dari Safira langsung. Kemudian, mereka berdua berkeliling ke tempat khusus di mana banyak sajian makanan yang tersedia. Setelah di rasa cukup, Hari mengajak Safira duduk bersamanya di jajaran meja khusus tamu VVIP. Dengan polosnya Safira mengikut saja ke arah di mana Hari berjalan, dengan membawa makanan ditangannya, lumayan cukup banyak untuk seporsi seorang wanita. Soalnya, kebanyakan wanita jaman sekarang akan berdiet dan hanya makan sedikit saja. Jika Safira, Ia tidak perduli sama sekali dengan namanya diet, ia akan makan sesuai keinginannya. Badannya akan tetap ideal meski makan banyak atau makan sedikit, tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap tubuhnya. Langkah Hari terhenti di salah satu meja VVIP, tampak sedang menyapa sekumpulan orang yang sedang duduk memunggungi Safira, rekan bisnis mungkin, Safira tidak perduli, ia malah sibuk melihat para tamu berlalu lalang yang ramai. "Pak Daffin, Apa kabar?." tanya Hari, membuat Safira yang mendengarnya terkejut bukan main. Ia menghadap ke arah di mana Hari menyebutkan nama itu. Kepala Daffin menolah, wajahnya tampak biasa saja, sangat datar dan tidak terkejut sedikitpun dibandingkan dengan wanita yang ada didepannya. Daffin sudah menyadari jika Hari, rekan bisnisnya pasti akan menyapa. Tidak mungkin melewatinya begitu saja. Kemudian, Yasmin, Matheo dan seorang Wanita itu juga menoleh ke arah Hari yang memberikan senyum ramahnya. Kemudian, beralih ke arah Safira yang wajahnya sudah pucat pasi akibat terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN