Grigorii menuju kamar dimana Meisei berada, sudah hampir tiga hari lamanya dan istrinya itu belum terbangun juga. “Nyonya masih tidur tuan.” Kata sang pelayan begitu Grigorii berdiri didepan pintu kamar. Grigorii mengangguk, dan laporan itu tak menjadi penting sebab melihat dengan mata kepalanya sendiri lebih baik dibanding apapun. Dia ingin memastikan kondisi Meisei dengan kedua matanya. Dan seperti terakhir kali dia melihatnya, perempuan itu masih berada dalam kondisi berbaring dengan mata yang terpejam. Pria itu mengikis jarak dan menatapnya lebih dekat. Alih-alih membangunkannya, Grigorii hanya membelai wajah istrinya dengan penuh kasih sayang. Kemudian mengambil posisi duduk disisi ranjang. Dengan ekspresi khawatir dia meletakan dengan hati-hati tangannya ke perut istrinya. Ada perb

