Selepas kepergian mereka, Grigorii terhuyung hingga jatuh terduduk. Wajahnya pucat dan kuyu. Ini hal terkonyol yang dia dengar seumur hidupnya. Meski begitu, dia tak bisa menyangkal tatkala melihat pandangan serius pemuda itu padanya. Terlebih apa masuk akal ? ditengah dirinya sedang berjuang untuk keluar dalam dilema. Kini malah muncul tambahan problematika yang menunggu untuk diurus dan diselesaikan. “Ini gila ! apa aku bisa percaya ?” Grigorii menyentuh dahinya. Kepalanya berdenyut nyeri. Ini sudah diluar ekspektasi, dan bahkan niatannya untuk mengisi perut hilang entah kemana. Segera dia melangkah pergi, menemui Ustin. Pria itu dengan santai sedang mengunyah makanannya. “Ayo pergi !” Grigorii berkata dengan datar dan dingin mengabaikan Ustin yang sibuk berjuang menyuapkan makanan

