“Sir Kharald...” upayaku untuk tidak bertemu dengannya ternyata tak diinginkan oleh semesta, Pria itu berdiri, bersandar pada pilar dengan tangannya yang menggenggam sebuah liontin. Menyapaku dengan senyum. Lalu memasukan liontin itu kembali kesaku celananya. “Aku melihatmu lagi...” katanya ringan. Sedangkan bagiku, kata lagi terdengar sangat tidak nyaman. Bukankah itu artinya dia memang menangkapku sebelum pertemuan kami yang terjadi sekarang ? “Karena saya tinggal disini.” “Begitu...” Sir Kharald nampak mengerutkan kening, seolah kata yang keluar dari mulutku barusan adalah sebuah dusta. Matanya menerawang jauh, ekspresinya terlihat terluka. “Tinggal serumah dengannya sebelum hari pernikahan, terdengar jauh dari budayamu.” Terdengar mengkritik, nada tajam itu persis sama seperti so

