16. Elliot

2374 Kata
Suara isakan masih menjadi pengiring malam yang sunyi, membiarkan gadis yang tengah terpuruk dan rapuh itu mengeluarkan keluh hatinya yang tidak sanggup diembannya kepada lelaki yang masih setia merengkuhnya. Lelaki itu, dengan sabar mencoba menenangkan kekasihnya yang masih dikelilingi kabut dukacita yang amat dalam. Belaian pelan pada rambut dan punggung ia berikan, juga bisik-bisikan penyemangat yang terus ia ucapkan. Elliot, ia terus berusaha untuk menghibur Emma-nya. Malam yang selalu sepi di kediaman Valley, kini menjadi sedikit berwarna karena adanya keberadaan gadis yang mendiami kamar Elliot. Walau gadis itu sama sekali tidak bersuara dan melakukan hal yang membuat suasana akan menjadi lebih baik. Hanya isakan dan tangisan yang sedang gadis itu lakukan sekarang. Tapi, setidaknya sekarang dapat dilihat kalau lelaki yang biasanya beraura mengerikan itu, kini tengah sibuk menebar kehangatan untuk menenagkan kekasihnya, hal ini adalah hal yang jarang terjadi dan hanya terjadi jika si lelaki berurusan dengan gadisnya. *** Suasana yang menyedihkan dan meyesakkan sangat terasa di area pemakamam umum, para keluarga, kerabat dan teman dari kedua gadis cantik yang tengah tertidur damai itu terus berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa kepada orang-orang terkasih yang ditinggalkan. Emma, yang merupakan sahabat dari kedua gadis itu pun terus menangis dalam pelukan kekasihnya. Ia masih tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi kepada kedua sahabatnya itu. Emma, Irene dan Karin adalah sahabat, walaupun mereka terkadang bertengkar dan bersitegang, tetapi mereka juga sangat tahu kalau mereka itu saling menyayangi dan tidak bisa berlama-lama bertengakar. Itulah persahabatan, tidak hanya diisi dengan saling pengertian dan saling melengkapi, tetapi juga pasti ada saling tidak sependapat atau malah terjadi pertengkaran. Hari sudah menjelang sore, terbukti dengan matahari yang memancarkan sinar jingga di ufuk barat. Mereka yang datang dan menyaksikan upacara pemakaman pun mulai berpulangan ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Emma dan Elliot. Dengan mobil yang dibawa kekasihnya itu, Emma pun diantar sampai ke kediamannya. "Apa kau sudah tak apa?" tanya Elliot mengerutkan alisnya karena Emma masih terdiam saat mobil sudah terhenti di depan pagar rumah sang kekasih. Hanya gelengan yang menjadi jawaban bagi pertanyaan Elliot. Lelaki itu pun langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Emma berdiri dengan lemas setelah keluar dari mobil Elliot. Pandangan matanya pun terus menatap tanah tempat mereka berpijak, dan itu membuat sang lelaki semakin khawatir dengan gadis di depannya ini. Emerald itu langsung menatap wajah kekasihnya yang sedang tersenyum tulus kepadanya. Ia meresakan dua jemari Elliot menyentil pelan ke dahi lebarnya. "Semangat dan tegarlah, Emma." Ucap Elliot, "Aku akan menemuimu lagi nanti." Lanjutnya sambil berlalu dan mulai menjauh dari pekarangan rumah Emma. Mengembuskan napas, Emma melihat lelaki itu menariknya ke rengkuhan dan mengatakan kalimat-kalimat penyejuk jiwa untuk menguatkannya. Mobil Elliot pun menjauh, gadis manis itu masih setia melihata mobil kekasihnya yang perlahan menghilang di balik pertigaaan. Bahkan, selangkah pun Emma tidak menggerakkan kaki sekarang. Ia perlahan menyentuhkan jemarinya ke arah dahi yang tadi disentil pelan dengan jari oleh Elliot. Tersenyum tipis, walau wajahnya masih dihiasi kesedihan, Emma menarik napas dan berusaha untuk menjadi sosok yang lebih tegar. *** Sudah hampir seminggu semenjak kedua sahabatnya itu meninggalkan dirinya sendiri di dunia ini, tetapi Emma masih belum bisa menghilangkan kesedihan yang menderu. Walaupun ia mencoba melakukan banyak hal agar tidak terlalu memikirkan tentang kenangannya bersama Irene dan Karin, yang pasti ada saja yang membuatnya teringat dan selalu membuat hatinya sakit dan akhirnya air mata yang akan mengambil alih ekspresi di wajahnya. Gadis itu menghela napas, di bawah pohon ini adalah tempat yang selalu mereka gunakan untuk bersantai dan berseda gurau. "Akhirnya aku memikirkannya lagi." Napas itu ia lepaskan dengan keras dan menimbulkan suara yang cukup terdengar di telingannya. "Sedang bosan, hm?" Terbelalak karena mendengar suara yang amat ia kenali, Emma menolehkan kepala melihat sosok yang datang. Berada di taman belakang sendirian dan sedang melamunkan banyak hal tentang para sahabatnya, tiba-tiba tanpa tahu ada gerak atau suara di sekitarnya, lelaki itu entah bagaimana bisa berada di sampingnya dalam sekejab? Seolah ia bisa menembus ruang dimensi dan berpindah tempat semaunya. "Elliot?" tanya Emma terkejut dengan suara sedikit berteriak. Elliot menyeringai melihat keterkejutan yang tidak dapat disembunyikan oleh kekasihnya itu. "Hm." Pandangan mata nan geli diarahkan kepada sang kekasih. "Kau sejak kapan di sini?" Masih dengan keterkejutan yang tertanam di wajah manis Emma, ia akhirnya bertanya. Elliot kemudian menyandarkan tubuh di pohong rindang yang tengah memayungi mereka dari teriknya mentari. Menyamankan diri, kemudian menghirup udara yang menyegarkan ini. Angin juga berembus tenang dan sesekali menggoyangkan rambut gadisnya, dan karena hal itu membuat Emma memegangi rambutnya yang terkadang menutupi wajah dan mengganggu penglihatan. "Sebenarnya aku tahu apa yang kau lamunkan, dan aku tidak ingin menganggu jika saja mata ini tidak berkaca-kaca dan memerah." Elliot berbicara sambil membelai wajah kekasihnya dan menunjuk manik emerald itu. Emma kembali menghela napas dan sekarang ia menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. "Aku merindukan mereka. Hanya itu." bisiknya pelan. Beberapa saat suasana menjadi hening kembali karena masing-masing dari mereka tengah terjerat dengan pemikiran mereka sendiri. Elliot lalu hanya berdehem dan mencium kepala yang masih dengan santai bertengger di bahunya. "Elliot. Aku ingin membersirkan rumahmu lagi, kemarin kau menyuruhku pulang? Eh, kalau dipikir-pikir, kemarin aku tidak melihat gagak-gagak yang ada di dalam rumahmu itu, mereka ke mana?" tanya Emma dan sekarang kembali mengangkat wajahnya dari pundak Elliot, ia kelihatan antusias saat menanyakan tentang gagak mengerikan itu. Elliot awalnya teridiam, lalu ia mulai tersenyum dan berbicara. "Sudah waktunya meraka pergi, Emma." Gadis yang namanya tengah disebutkan Elliot mengerutkan alisnya, ia tidak paham tentang apa yang tengah dibicarakan kekasihnya ini. "Hah? Maksudnya?" Elliot tidak menjawab dan hanya memilih menatap Emma dengan seringai yang menghiasi bibir tipisnya. "Hm." Ia mengangguk. "Huh, dasar pelit." Emma membuang wajahnya dan sekarang tiduran di pangkuan Elliot. Mereka sangat kelihatan romantis dengan posisi seperti ini. Tersenyum melihat gadis itu bermanja-manja seperti ini, Elliot pun hanya membiarkannya sambil sesekali tangannya mengelus helai yang berserakan di pangkuannya. Mata sehitam malam itu terpenjam. Elliot bersyukur dapat menemukan satu orang lagi untuk melakukan ritual pelepasan jiwa Noah menuju alam kematian. Karena hal itulah, gagak-gagak yang mendiami rumahnya sekarang sudah hilang. Bukan tanpa alasan gagak-gagak itu ada di dalam rumah Elliot, gagak adalah hewan dengan kemampuan supernatuaral, mereka dapat merasakan aura iblis yang sangat besar yang berasal dari jiwa Noah. Bukan hanya saat kematian kakaknya saja gagak itu berdatangan, saat ibu dan ayahnya meninggal, hal yang sama juga terjadi dan karena hal itu jugalah membuat para pelayan di rumah Elliot ketakutan setengah mati dan memilih kabur dari rumah majikan mereka. Elliot bersyukur setidaknya kakaknya sudah tenang di alam kematian. Ia saja sangat sulit saat melakukan persiapan ritual, bagaimana nanti jika ia meninggal dunia? Ia bahkan tidak tahu apakah Emma mau menerima statusnya sebagai setengah iblis? Karena hal itu, ia menjadi ragu untuk menjelaskan mengenai kebenaran tentang dirinya ini. Takut, kalau Emma meninggalkannya. Manik hitam itu pun terbuka dan menampakkan mata semerah darah. Pikirannya terus saja berputar mengenai apakah Emma akan menerima statusnya ini? "Jadi, kau kapan mau ke rumahku lagi? Aku akan menyiapkan makan malam." Kali ini Elliot kembali bersuara dengan intonasi yang lebih datar dari biasanya. Emma yang tiduran miring membelakangi perut Elliot pun sekarang menjadi terlentang dengan wajah menghadap ke atas dan menatap kekasihnya yang sendang menunduk dan memandanginya juga. Ia, lalu tersenyum mendengar pertanyaan lelaki yang tengah menjadi bantal untuk Emma tidur sekarang. "Bagaimana kalau bosok, sabtu? Kita akan membersihkan rumahmu dari pagi, bagaimana?" tanya gadis itu, cengiran pun terlihat di bibir kemerahan Emma. Kekehan kecil juga keluar sebagai respon dari perkataan kekasihnya yang menggebu-gebu. Hanya anggukan saja yang terlihat sebagai pertanda kalau Elliot mengizinkan Emma untuk datang berkunjung ke rumahnya. *** Tepat seperti yang telah dijanjikan, mereka tiba di rumah lelaki yang terlihat amat megnerikan. Sekarang, Emma menatap ruangan dapur yang sudah lebih layak huni dan kelihatan lumayan bersih daripada saat pertama kali ia datang ke rumah hantu ini. Peluh terus menetes di dahi, tetapi ia tidak memedulikan hal itu dan terus membersihkan area dapur dari debu dan jaring laba-laba. Emerald-nya menatap lelaki bertampang horor yang masih serius membenarkan keran air yang awalnya tidak bisa dihidupkan. Lelaki itu terlihat sangat berjuang keras karena dapat di rasa dari mana pun, wajah dan aura Elliot terasa berkobar mengerikan. Gadis bermata indah itu terkikik geli melihat Elliot yang sudah mematahkan kunci untuk membuka baut. Lelaki itu memiliki tenaga seperti moster saja. "Elliot, tenanglah!” Emma langsung memeluk tubuh Elliot dari belakang dan menjadi ikutan basah karena terkena semprotan air yang tidak bisa dihentikan. "Padahal airnya tadi sama sekali tidak keluar, dan saat keluar kenapa jadi seperti ini." Mengembuskan napas jengkel, Ellito berkata sambil melemparkan patahan kunci yang berguna untuk mengetatkan atau melonggarkan baut itu. "Ahahha... sudahlah," tawa gadis itu, kemudian  sekarang memeluk kekasihnya dari depan dan menarik kedua pipi Elliot agar bisa tersenyum, setelah merasa keadaan mejadi lebih santai, ia kembali berbicara, "Hei, wajahmu itu semakin horo kalau lagi marah." Memutar bola mata bosan, Elliot lantas mengembuskan napas. Sudah hampir siang hari dan mereka sudah selesai membersihkan dapur, walau hasilnya belum terlalu maksimal karena masih ada beberapa kusen pintu dan jendela yang agak rusak, tetapi setidaknya hal ini sudah lebih baik daripada sebelumnya. "Mandilah duluan, aku akan memesan makan siang kita." Setelah berjuang selama berjam-jam, rumah Elliot pun sekarang sudah terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya. Emma langsung menidurkan dirinya di kasur Elliot setelah mandi, sementara sang pemilik rumah sekarang tengah melaksanakan ritual pembersihan dirinya. Ini benar-benar melelahkan, tentu saja. Walau rumah yang sangat besar ini belum bersih seutuhnya dan mereka hanya membersihkan kurang lebih tidak sampai separuh luas rumah dan hal itu belum mencakup masalah halaman rumah yang juga sama besarnya, tapi Emma merasa sangat puas karena telah mengubah rumah kekasihnya menjadi lebih layak huni. Makan malam itu pun akhirnya terlaksanakan dengan baik. Elliot menatap Emma yang tengah tiduran di lantai. Ia sudah tidak merasa terlalu lelah lagi karena tadi kekasihnya itu melakukan pijatan di bagian kaki dan pundaknya. "Emma, jangan tiduran di lantai." Decakan pun terdengar dari bibir gadis itu. "Sebentar saja, Elliot." "Hei, apa kau tidak ingin pulang?" Emma langsung menatap kekasihnya, dan menggelengkan kepala itu. Ia lalu menunjukkan gigi putihnya dengah cengiran lebar yang menghiasi bibirnya. "Aku ingin menginap di sini lagi, bolehkan?" "Hm, baiklah." Mereka kembali terdiam beberapa saat. Elliot tiduran di atas ranjang, sedangkan Emma masih tiduran di lantai yang cukup dingin. Tubuh mereka sudah tidak selelah tadi, apalagi mereka sudah menambah tenaga dengan menyantap hidangan makan malam, membuat mereka tidak merasakan keletihan lagi. "Emma!" Emma hanya bergumam tidak jelas saja untung menganggapi Elliot. Elliot kembali mengehela napasnya, ia agak bingung mau memulai menanyakan hal ini dari mana. "Menurutmu, aku ini seperti apa?" Gadis yang masih menggoyang-goyangkan kakinya itu di atas meja randah yang ada di samping tubuhnya yang sedang tiduran, lalu menaikkan sebelah alisnya karena mendengar pertanyaan dari Elliot. Ia lalu berdiri dan melangkah mendekati kekasihnya yang tiduran di atas kasur. "Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Emma sambil mendudukkan dirinya di samping sang kekasih. Mata oniks itu pun kembali terlihat setelah beberapa saat bersembunyi di balik kelopak mata. "Katakan saja, Emma." "Tentu saja, kamu itu baik, perhatian dan dapat diandalkan. Walau terkadang aku agak takut kalau Elliot sudah menjadi sangat dingin. Rasanya kau seperti punya aura yang mencekikku." "Apa kau tidak masalah dengan hal itu?" tanya Elliot lagi, kali ini Elliot juga mendudukkan dirinya dan duduk berhadapan dengan Emma. Emma menggeleng. "Tidak, awalnya memeng agak takut. Namun, setelah lebih dekat denganmu, aku menyadari kalau kau itu tidak terlalu mengerikan seperti yang dikatakan orang-orang di luar sana. Kau terkadang juga bisa sangat hangat dan bisa menenangkanku. Itu sebabnya aku ingin bertahan bersamamu, disaat orang-orang ingin memutuskan hubungan kita." Senyuman keluar dari bibir gadis itu. Dengan wajah yang memerah, ia lalu membuang tatapannya karena mata sang lelaki menjeratnya dengan begitu dalam. "Emma, apa kau tidak takut jika aku ini memang iblis atau semacamnya?" Alisnya mengerut ketika ia mendengar perkataan dari lelaki di depannya, ia tidak menyangkan kalau Elliot akan berubah menjadi lelaki yang banyak tanya seperti ini. "Kenapa kau bertanya begitu?" Emma menggaruk rambutnya yang tidak gatal, ia cukup gugup dengan pembahasan semacam ini, apalagi Elliot yang memulainya. "Kau pernah bertanya aku ini sebenarnya apa, kan, Emma? Bagaimana, kalau sebenarnya aku ini adalah... iblis?" Intonasi lelaki itu menjadi misterius, apalagi Elliot bertanya dengan ekpresi yang serius dan lantas membuat Emma menjadi mengerutkan alis karena terbawa suasana. "Elliot, kau bercanda, kan?" Tawa kecil sang gadis karean merasa cangung, entah kenapa ia tidak ingin berada di situasi seperti ini. "Emma, apakah kau benar-benar tulus dengan hubungan ini?" Manik yang awalnya hanya menatap jemarinya yang sedang meremas rok sendiri pun beralih menatap sang empunya suara, Elliot. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Elliot meragukan perasaannya. Tatapan itu berkaca-kaca karena mendengar ucapan sang lelaki. "Kenapa kau meragukanku?" Elliot membuang wajahnya ke samping karena tidak ingin melihat tatapan terluka dan menyakitkan dari kekasihnya itu. "Elliot?" "Entahlah? Aku merasa kau akan meninggalkanku kalau kau mengetahui identitsku yang sesungguhnya." Tangannya mengepal kuat, bahkan mungkin kulitnya terluka karena kepalan itu. Tatapan mata pun tidak memandangi manik emerald yang kelihatan terkejut dengan ucapan dirinya. "Ke-kenapa kau berpikir seperti itu, Elliot?" tanya Emma dengan sorot mata khawatir, menyambar tangan Elliot dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Memejamkan mata untuk beberapa saat, Elliot mengambil napas dan mengembuskan dengan perlahan. Setelah perasaannya menjadi lebih baik, dengan hati-hati kelopak mata pun terbuka dan menampilkan bola mata sewarna darah dan bersinar. "Hah!" seru gadis itu dengan salah satu tangan menutup mulut. Mata mereka saling memberi tatapan dengan raut berbeda. Sang gadis yang terlihat terkejut dan mata sang lelaki yang menatapnya dengan dalam. "Akhirnya kau ketakutan... seperti orang-orang itu." Emma memang terkejut karena melihat perubahan warna mata Elliot, tetapi ia tetap menggenggam tangannya kekasihnya dengan kuat. Tarikan napas ia lakukan, kemudian ia kembali menyuarakan pikirannya. "Elliot, buat aku terbiasa dengan keadaanmu. Aku mencintaimu." Tubuhnya yang gemetar pun perlahan kembali normal setelah ia mengingatkan dan menguatkan hatinya kalau lelaki ini adalah kekasih yang sangat ia cintai. "Elliot, apakah kau benar-benar—" "Akus Iblis, Emma." Final, Elliot telah mengatakan identitas aslinya kepada kekasihnya. "Kau... tidak mungkin." Bisik Emma yang masih bisa didengar oleh Elliot. Emma menggelengkan kepalanya, bertanda ia masih belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan kekasihnya. "Aku tidak berbohong, aku ini memang memiliki darah keturunan iblis. Apa kau menolak kenyataan itu?" "Elliot, aku bukannya tidak p-percaya. Tapi, itu terdengar sangat konyol dan itu tidak mung—" mata Emma membulat kala ia mengingat percakapannya seminggu yang lalu dengan kedua orang sahabatnya; Irene dan Karin. Keduanya yang memiliki pemikiran bahwa Elliot adalah seseorang yang berbahaya atau memiliki kekuatan mistik. Emma yang terbelalak kembali menatap Elliot, lelaki itu berwajah cemas dengan manik semerah darah yang menghiasi matanya. Mereka sama-sama terlihat gugup sekarang. Elliot pun menghela napas untuk menenangkan dirirnya dan ia akan menjawab keraguan kekasihnya tentang identitasnya sebagai sang Iblis. "Emma, ini adalah aku yang sebenarnya." Lelaki itu berkata jujur dari hati yang terdalam. "Ke-kenapa? Ja-jadi... Kau benar-benar sang iblis!” Tertawa kecil, Elliot menganggukkan kepalanya dan mengembuskan napas. "Sssstt... tenanglahh. Kau adalah miliku, Emma. Karena kita saling mencintai." . . . The End
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN