4. Ajakan Kencan Sang Iblis?

2282 Kata
Emma mengerjapkan matanya beberapa kali, pusing itu masih hinggap di kepala yang bermahkotakan rambut cokelat. Tangannya mencoba menyentuh pelipis yang terasa berdenyut, ia tidak dapat memikirkan apa pun untuk beberapa saat karena rasa sakit itu datang lagi. Mendesahkan napas dan menggigit bibir, Emma mendecak pelan.Lelaki yang menjadi sandaran untuk tubuh lemah itu hanya memandang datar sang gadis yang kelihatan tak berdaya. Elliot kemudian membuka bibirnya untuk berbicara, setelah beberapaa saat lalu ia tersenyum setipis kertas. "Kau tak apa?" tanya suara yang terdengar berat dan datar khas seorang pria, kembali menyadarkan Emma dengan sempat memejamkan mata, gadis itu kemudian memandang lelaki yang ada di belakang punggung dan sedang menjadi tumpuan dirinya. Emerald sang gadis terbelalak ketika ia menyadari dan kembali mengingat sesuatu. Cepat-cepat ia mengumpulkan tenaga dan mencoba berdiri untuk menjauh dari dekapan lelaki yang dijuluki Sang Iblis. Emma mengerutkan alis setelah tengaganya terkumpul, ia kemudian terengah dan mendorong d**a Elliot, menatap lelaki itu dengan pandangan yang sarat akan ketakutan dan keterkejutan. Meminta penjelasan atas apa yang ia saksikan di mata telanjang tadi. "Aku melihatnya!" seru Emma sambil memeluk dirinya, ia mencoba menahan ketakutan dan air mata yang siap tumpah, kemudian melanjutkan ucapan, "Dia mengerikan... dan tidak menapak." Sambungnya lagi sambil kembali terengah. Mereka berdiri berhadapan, di jalanan nan sepi karena malam semakin larut dan hanya diterangi lampu jalan juga rembulan yang bersinar terang. Elliot terdiam sejenak. Ia hanya memandangi gadis dengan mata hijau indah yang menatapnya tajam dan juga takut. Hela napas pun terdengar oleh Emma. "Kau gemetaran. Sebaiknya kuantar pulang." Elliot mencoba membantu Emma yang sekarang sudah berjongkok karena tubuhnya lemas. Lengannya membantu gadis itu untuk berdiri, walaupun Emma mencoba menepis tangannya. Emma tidak bisa menolak bantuan Elliot karena tenaga yang terus saja terkuras. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang. "Kau tidak menjawabnya, Elliot!" Emma masih menatap wajah dingin itu, tetapi sang lelaki kembali mendengkus. "Mungkin kau salah lihat, Emma." Menatap lelaki itu nyalang, Emma merasa seperti tengah ingin dipermainkan. Ia tahu Elliot juga berada di sana dan ia lebih terkejut karena lelaki itu sama sekali tidak berekspresi. "Aku sadar betul melihatnya!" seru gadis itu dengan suara cukup tinggi, kemudian kembali berucap setelah menarik napas. " Kau berdiri di tengah jalan sepi ini. Kau... apa yang se-sebenarnya... yang kau lakukan... dan makhluk itu." Emma kembali bergetar dan terus merinding, ia melihat dan merasakan dengan jelas sesuatu yang aneh telah dilakukan oleh lelaki misterius itu. "Aku hanya berdiri di jalan ini karena habis melihat bulan. Aku hanya sedang... merindukan saudara laki-lakiku." Tatapan mata dingin itu berubah sendu. Elliot masih memegangi tubuh Emma yang terlihat pucat dan berkeringat dingin. Lelaki itu kemudian menatap mata Emma. Emma merasakan perasaan seperti beberapa hari yang lalu, saat di perpustakaan bersama Elliot. Ia menyadari tatapan mata itu, telihat sendu di bawah cahaya jingga mentari sore. Seperti merindukan sesuatu, ada isyarat yang terbaca hanya dengan menatap padangan Elliot yang sangat berbeda dari biasanya. Hela napas terdengar, Emma menyadari itu adalah sorot mata kesepian Elliot dan untuk beberapa saat rasa takut dan marahnya hilang, tergantikan dengan rasa sesak dan kasihan terhadap lelaki yang berada di hadapannya ini. "Ta-tapi tadi...." perkataan Emma terhenti, gadis itu menggigit bibir. "Sudahlah! Kau mungkin salah lihat karena merasa takut saat ingin lewat di jalan sepi seperti ini," terang lelaki itu dan terlihat ingin meyakinkan Emma, ia kemudian melanjutkan ucapannya, "Dan mungkin kau terkejut setelahnya saat menemukanku terdiam di tengah jalan." Alis gadis itu kembali berkerut, Emma masih memikirkan apa yang kalimat yang diucapkan Elliot kepadanya. Ia kembali mengingat, kalau tadi ia memang sempat merasa takut, sebab jalan ini sangat sepi dan semua itu persis seperti perkataan si lelaki. Ia merasa paranoid karena pulang lewat dari pukul sepuluh malam sendirian, ditambah dirinya adalah seorang gadis. Emma menundukkan kepala, ia cukup malu dengan dirinya yang terlewat penakut. Apalagi sampai berkelakukan seperti tadi, ia hanya bisa merutuki diri sekarang. "Tapi tadi itu terlalu jelas. Aku... aku bahkan seperti melihat kau b-berbicara dengan makhluk menyeramkan itu." Bola mata Emma terbelalak, ingatannya kembali tergali, ia benar-benar melihat hal itu dan baru sekarang terpikirkan olehnya. "Kau bahkan tidak yakin, apakah melihatku berbicara dengan makhluk itu atau tidak, kan? Itu hanya rasa takut yang berlebih, Emma." Elliot memulai permainan menganalisis kata. Sekarang mereka saling memandang satu sama lain, sorot mata hitam dan hijau terlihat saling tidak mau kalah. Lelaki itu menatap dengan menaikkan kedua alisnya, kemudian tersenyum tipis untuk si gadis. Elliot membelai pucuk kepala Emma pelan dan kembali melanjutkan langkahnya untuk mengantar sang gadis pulang. Ia mengalah. Sedangkan Emma, gadis itu sekarang mengikuti Elliot sambil menggenggam kuat baju lelaki tinggi di sampingnya, terlalu ketara sekali bahwa rasa takut itu tidak sirna. "Emma." "Hmm?" Pandangan mata Elliot lurus ke depan, sedangkan Emma mencoba fokus menatap bawah karena gadis itu tidak mau melihat sesuatu yang mengerikan lagi. "Apa yang kau lihat? Seperti apa wujudnya?" tanya Elliot, terdengar datar seperti biasa meski lelaki itu terlihat ingin menyelidiki. "I-itu... bukan manusia. Tidak, awalnya aku melihat tengkorak dengan pakaian compang camping, lalu sosok itu berubah lagi menjadi seperti manusia, tetapi memiliki mata merah menyala, kemudian dia tidak m-memijak tanah. Seluruh tubuhnya penuh dengan retakan dan rambutnya panjang. Tubuhnya tadi terbelah dua dan k-kemudian menyatu kembali." Emma terdiam dan memicingkan matanya sejenak. Ia mengeratkan remasan tangannya di baju Elliot. "Hm, jangan diingat lagi, kau bisa ketakutan." Elliot berbicara dengan suara sangat lembut, lelaki itu mengeraskan rahangnya. "I-iya. Elliot, kau... kau bukan orang yang bisa b-berkomunikasi dengan hantu, kan?" Emma menanyakan takut-takut, tentu saja itu karena ia tidak ingin lelaki di sampingnya ini tersinggung. "Hm, menurutku aku terlihat seperti itu?" tanya Elliot sambil mengacak rambut Emma, ia menghela napas sejenak dan kembali berkata, "Dan jangan menarik pakaianku terlalu kuat, kau membuatku tercekik, loh." Meminta maaf, Emma mencoba mengendurkan remasan tangannya di baju lelaki itu, tetapi dia ragu. Gadis itu masih merasa takut. Matanya langsung mengarah ke Elliot ketika tangan lelaki itu memindahkan tangan Emma ke lengannya. Tatapan mata Elliot masih juga mengarah ke jalanan depan. "Setidaknya jika di sana tidak membuatku tercekik," ucapan itu terdengar dengan wajah sang lelaki menatap Emma. Elliot menyeringai kecil dan kembali menatap ke arah depat. *** Emma menghela napas lega saat presentasinya di kelas sudah selesai dengan baik dan semua pertanyaan dari rekan-rekan bisa dijawabnya dengan lumayan memuaskan, begitulah yang dikatakan sang dosen. Mata kuliah saat ini terbilang sulit, yaitu Filsafat Ilmu. Demi apa pun, ini mata kuliah yang benar-benar menguras otak. Mungkin Emma nanti harus membeli beberapa vitamin rambut karena ia merasa rambutnya mendadak rontok karena semalaman dijambaki olehnya. Filsafa Ilmu adalah mata kuliah yang mengkaji tentang dasar-dasar pengetahuan, logika, ontologi, epistimologi, aksiologi, metafisika, penalaran, asumsi, akal dan tingkatan akal dan banyak lagi. Dan sialnya, Filsafat Ilmu ini adalah mata kuliah wajib yang terbilang susah dipahami. Emma dapat mendesah lega karena hanya tinggal merefisi makalahnya saja. Dan ia merasa beban pun sedikit menurun karena satu mata kuliah sudah selesai dipresentasikan. Seperti biasa, setelah ini adalah jam kosong karena dosen mata kuliah selanjutnya merubah jadwal pertemuan. Sebenarnya, ia sangat malas dengan jadwal yang sesuka hati para dosen dirubah-rubah dan diganti hari, tetapi apa mau dikata, daripada si dosen itu tidak masuk kelas mereka karena waktu jam kuliahnya yang berbenturan dengan jadwal pak dosen. Gadis itu pun hanya bisa memutar bola matanya bosan. Emma yang mau duduk di bawah pohon kegemarannya, terdiam karena melihat sosok seseorang yang tengah menguasai tempat kekuasanya itu. Elliot, sang lelaki masih memejamkan mata dan tidak terlalu perduli dengan kehadiran Emma yang mulai mendekat ke arahnya. "Elliot!" panggilnya ragu. "Apa tidur, ya?" tanya Emma menggaruk pipi dengan ekspresi bingung. "Hm." Suara samar terdengar, masih dengan mata yang dipejamkan. Lelaki itu baru menampakkan bola mata hitam ketika merasakan Emma duduk di sampingnya. "Aku merebut singgah sanamu, eh?" tanya sang pria dengan mata menatap Emma. Bibir yang tipis menyerigai dan terlihat seperti ingin menggoda si gadis. "Eh, kenapa berpikir seperti itu, Elliot?" tanya Emma kikuk karena lelaki itu berhasil menebak apa yang ia pikirkan. "Hanya menebak." Nada suara terdengar geli karena menangkap sikap Emma yang terlihat agak gugup kepadanya. Atensi Emma teralihkan karena melihat kedua sahabat yang berjalan mendekat ke arahnya yang telah ikut duduk dan sedang bersandar di batang, Emma pun menyematkan senyum sumringah ke arah mereka, ia melambaikan tangan untuk menyapa. Namun, suara Elliot terdengar sebelum kedua orang itu datang ke sini. "Ini!" Elliot memberikan buku tulis kepada gadis itu, kemudian melanjutkan ucapa, "Untuk tambahan referensi tugas, sudah kuringkas. Minggu depan kita sudah presentasi." Elliot terlihat ingin beranjak pergi dan ia pun berdiri dari rerumputan yang menjadi alas mereka duduk santai. "Iya! Elliot... apa tidak mau makan siang bersama kami?" tanyanya ragu. "Aku ada kelas pengambilan, Bye!” Katanya berlalu meninggalkan Emma di tempat ini dengan kedua sahabat yang mendekati. "Ah, bye!” Dan setelah Elliot menghilang dari jangkauan pandangannya, Emma menatap Irene dan Karin yang masih beberapa meter lagi dari dirinya. "Hei! Pertama; ok, jangan salahkan aku. Kau boleh menjambak rambut nenek sihir ini karena dia terlalu lama membeli makanan di kantin." Irene berkata sambil menunjuk Karin yang sedang melotot ke arah gadis Barbie itu. "Enak saja!" seru karin tidak terima, gadis itu terlihat menyidekapkan tangan dan mengembuskan napas karena tuduhan tersebut. Mereka duduk bersama di bawah pohon dan saling melipat kaki atau seperti Emma yang memilih menyandar kembali ke batang. "Sudahlah, kalian!" Emma hanya menyantap camilan yang diberikan Karin kepadanya dan membiarkan Irene dan Karin kembali adu mulut sambil mendengkus lelah. "Kedua; sejak kapan kau kencan dengan sang Iblis?" tanya Irene dengan salah satu alis yang naik, berwajah menyelidiki. "Iya, Emma, kau akhir-akhir ini dekat dengan sang Iblis, ya? Apa kau berniat menaklukkannya." Karin berbicara semangat sambil memegang pundak Emma, seperti memberikan dukungan kepada gadis itu agar segera menggaet si lelaki yang dikenal sangat tidak tersentuh. "Eh?" Gadis itu agak terkejut karena tebakan kedua orang itu, ia tersedak kecil hingga punggungnya diusap oleh Karin yang terlihat agak khawatir. "Emma, kau harus terus mendekatinya dan ketika ia sudah takluk kepada dirimu... maka, beri dia pelajaran karena sudah melukai hati para gadis sekampus kita ini. Sebagai seorang gadis, kau pasti paham kan keinginan kami semua terhadap lelaki seperti dia?" Sepertinya Irene ingin segera membalaskan dendam karena kasihnya tidak sampai, apalagi rumor tersebut tentang Elliot yang selalu mematahkan hati gadis-gadis telah menyebar luas di kampus. "Ta-tapi... kenapa begitu? Itukan jahat sekali, lagi pula gadis-gadis yang mencoba mendekatinya atau menyatakan cinta kepada Elliot langsung kabur ketika berhadapan dengannya? Kan kalian sendiri yang bilang dia memiliki aura sangat menusuk." Emma merasa salah jika harus mengikuti perkataan kedua sahabatnya itu, lagi pula ia sama sekali tidak berhak untuk menghukum seseorang atau mengadili begitu saja. Apalagi itu bukan kesalahan yang diperbuat si lelaki secara langsung, bahkan julukan iblis pun diberikan hanya karena mereka kecewa dengan sifat es pemuda itu. Bukan salah Elliot juga memiliki kepribadian yang dingin dan suram seperti itu. "Jadi, aku tidak ingin melakukannya, Irene." "Sudahlah! Kenapa kita membicarakan iblis itu? Kita kan mau makan. Ayo makan!" Karin berbicara sambil membuka beberapa kotak yang isinya adalah kue donat kesukaannya. "Jangan memanggilnya begitu dong, kan dia punya nama!" seru Emma sambil menjitak kepala Karin dan Irene. "Hei!" Pekik kedua orang itu tidak terima. "Ya, namanya juga pacarnya, pasti tidak terima dong, Karin." Irene berbicara sambil mengikik saat menggoda Emma. "Iya, akhirnya sahabat kita ini berpacaran, walau dengan sang Iblis. Tapi dia tetap target incaran banyak mahasisw—" Karin yang sedang asik berkomentar pun mulutnya disumpal kue donat oleh Emma. "Apaan sih, kalian! Jangan menyebar gosip baru, deh." Dengan wajah kesal dan menggembungkan pipi, Emma pura-pura merajuk dan mengambil donat yang tersisa untuk dirinya sendiri. *** Emma yang baru saja selesai merelaksasikan diri di salon karena ajakan Irene dan Karin untuk merayakan keberhasilan mereka dalam presentasi tadi di salon kecantikan milik keluarga Irene, gadis itu mengembuskan napas. Melangkah dengan santai sambil sesekali mengecek ponsel dan meletakkan kembali ke dalam tas. "Dasar Irene dan Karin, presentasi saja pakai dijadikan perayaan." Emma masih berjalan di area khusus pejalan kaki. Walau sudah malam, jalanan masih ramai karena ini masih pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Emma mendesah lega karena ia tidak kemalaman untuk pulang. Bahkan, salah satu jalan yang dekat melewati pagar pembatas pemakanan pun masih trotoarnya masih dihuni para pejalan kaki yang melangkah santai bersama rekan dan teman-teman karena ini adalah jalan yang sering digunakan untuk para pejalan kaki agar bisa lebih cepat sampai di kediaman mereka yang terletak beberapa blok dari sini.. Matanya menangkap sesuatu yang tak asing sedang keluar dari pagar pemakaman itu, sepertinya tadi juga masuk dengan cara melompati pagar. "E-elliot?" "Hm?" "Apa yang kau lakukan malam-malam di err... bukannya itu pepemakaman? Kau baru keluar dari area pemakaman?" Elliot hanya menyeringai ganjil, kemudian mengubah wajahnya menjadi datar kembali. "Menurutmu?" tanya Elliot menatap lurus ke mata sang gadis, setelah mengembuskan napas, Elliot kembali berkata, "Karena kita sudah bertemu secara tidak sengaja, bagaimana kalau makan malam bersama? Lagi pula, sekarang masih pukul delapan malam." Elliot menggenggam erat pergelangan tangan Emma dan membawanya ke arah sebuah restoran yang jaraknya cukup dekat dari mereka tanpa persetujuan dari sang gadis. "Eh, Elliot, tunggu!" Bantah Emma sambil mencoba melepaskan diri. "Aku teraktir." Elliot kembali tersenyum tipis kepada gadis yang masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba diajak seperti ini. "Hei, tunggu! Jawab pertanyaanku dulu, kenapa kau ini kelihatan misterius sekali? Lalu, apakah ini semacam ajakan kencan, hah?" Emma bersungut-sungut karena Elliot tetap menariknya, bahkan mereka telah menyebrang jalan dan hampir tiba dengan tempat makan yang dimaksud. "Kalau itu keinginanmu," ujar Elliot, kemudian berhenti dan menatap Emma sejenak, lalu kembali berkata,"Aku rasa, itu tidak masalah." Setelah mengucapkan kalimat demikian, lelaki itu kembali melangkah dan mereka berjalan masih dengan tangan yang saling berkaitan. Mereka masuk ke sebuah restoran cukup populer di tempat ini dan terletak di pinggir jalan dekat sini. Emma hanya terbelalak. "Elliot, apa kau sedang bercanda? Aku bahkan belum mandi—" "Tidak, aku serius, Emma." Mereka bahkan sudah duduk di kursi masing-masing. "Apa, jadi ini kencan?" tanya Emma membulatkan matanya, tetapi suaranya masih bisa ia jaga. "Hm, menurutmu?" Lelaki itu kembali menatap datar Emma. Mereka sampai, kemudian dipersilakan masuk dan memilih meja di dekat jendela karena disuguhi pemandangan kota di saat malam. Emma bisa merasakan aura Elliot ketika sedang menatapnya. Ia merinding. Bukan hanya dirinya, tetapi pelayan laki-laki yang berniat mencatat pesanan mereka. Elliot untuk kesekian kalinya tersenyum tipis kepada Emma. "Aku serius dengan semuanya, dan pesanlah yang kau suka Emma!" Hanya pernyataan Elliot yang dirensponnya, Emma sama sekali tidak menanggapi seruan lelaki itu. . . . Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN