Dari pagi hingga dzuhur aku terus menyetrika, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan dua keranjang penuh saat adzan dzuhur berkumandang. "Maaf ya kamu harus menyetrika sebanyak itu, soalnya sudah seminggu lebih Bibi yang biasa kerja berhenti." "Iya, Bu, gak apa-apa. Alhamdulillah semuanya sudah selesai." "Tolong langsung simpan di lemari kami masing-masing, ya, kamu pasti bisa membedakan mana pakaian milik saya, milik Arthur dan Kanaya " "Insya Allah, Bu." Setelah itu aku langsung menaruh pakaian di kamar Bu Ambar, kamar Kanaya, lalu terakhir di kamar Mas Arthur. Saat memasuki kamar Mas Arthur, aku langsung terkejut saat melihat foto seorang pria yang terpajang di dinding kamar tersebut. Entah mengapa aku merasa familiar dengan wajah pria tersebut. Rasanya aku pernah melihatnya beber

