Bab 9. Embun Selingkuh?

1173 Kata
Rudi! Kamu masih niat gak sih, kerja di kantor ini? Ini terakhir kalinya saya negur kamu Rud. Kalau kamu masih tidur saat rapat, ataupun malas-malasan. Saya tidak akan segan ngasih kamu SP3 sekaligus! Paham?" Keadaan semakin kacau dan tak terkendali setelah Embun pergi. Ini baru dua hari dan selama dua hari itu, aku terus begadang mengurus kedua anakku. Paginya, aku harus pergi bekerja ke kantor dengan rasa kantuk yang membuatku tidak fokus kerja. Dua hari ini, aku sering ditegur oleh atasanku karena tidak fokus dan ketahuan tidur saat rapat. Bosku sangat marah, bahkan dia memberikan ancaman kepadaku untuk memberiku SP3. Aku bisa saja minta bantuan pada ibu dan Vina, tapi mereka berdua tidak bisa menenangkan kedua anakku. Bahkan, aku pun sendiri kesulitan untuk menenangkan mereka. Apa lagi setiap malam, aku harus membuat s**u formula untuk Alif yang masih menyusu. Terkadang anak itu tidak mau s**u dan membuatku marah. Namun, aku tetap berusaha bersabar demi mereka. Sekarang aku sudah mulai lelah, sepertinya aku membutuhkan bantuan ibu dan Vina untuk mengurus Aisha dan Alif. Ku akui, tidak adanya Embun membuatku kesulitan. Terlebih, aku memang tidak dekat dengan kedua anakku. Embun yang lebih tahu tentang mereka berdua. Selama aku sibuk bekerja di kantor. Sore ini, aku putuskan untuk berbicara kepada ibu dan Vina tentang Aisha dan Alif. Setidaknya, aku harus bisa beristirahat malam ini, karena besok aku ada perjalanan bisnis ke Bandung. "Ibu, Vina ... malam ini aku mau istirahat Besok aku ada perjalanan bisnis ke Bandung." "Terus? Kenapa?" tanya ibu ku sambil meletakkan ponselnya ke atas meja dan melihat ke arahku. "Aku titip Aisha sama Alif, malam ini sampai lusa mungkin." Ku lihat Ibu sangat terkejut dengan perkataanku barusan, begitu juga dengan Vina yang tampaknya keberatan untuk mengasuh Alif dan Aisha. "Lama banget sampe lusa, Rud? Ibu nggak bisa jagain anak-anak kamu. Mereka suka rewel, apalagi malamnya berisik banget." Sudah kuduga ibu akan menolaknya ,tapi aku tidak menyangka kalau ibu akan berbicara seperti ini tentang anak-anakku, cucu-cucunya sendiri. Bukankah wajar bila anak-anak usia 2 dan 4 tahun rewel dan berisik di malam hari? "Bu, kali ini Rudi mohon sama ibu dan Vina untuk bekerja sama mengurus Aisha dan Alif. Hanya dua hari saja, selama aku di Bandung." "Udah lah Mas, mending bawa aja Aisha sama Alif ke Bandung," ucap Vina kepadaku. Sontak saja aku melotot ke arah adikku itu, rahangku mengetat dan darahku seketika mendidih. "Kamu pikir, Mas mu ini pergi ke Bandung buat jalan-jalan gitu? Mas pergi ke sana buat perjalanan bisnis, Vina!" Aku membentak Vina, saking kesalnya aku kepadanya. Vina sampai terdiam dan menundukkan kepalanya, setelah kubentak dia barusan. Dia pikir, aku pergi ke Bandung untuk jalan-jalan apa? Aku kesana untuk perjalanan bisnis dan tidak mungkin membawa kedua anakku pergi bersamaku. "Rud, bisa nggak sih bicaranya nggak usah pakai urat? Adik kamu sampai ketakutan gitu loh!" tegur Ibu kepadaku. Tapi aku sama sekali tidak merasa bersalah, karena sudah membentak Vina. Aku hanya berusaha untuk tegas kepadanya. "Vina yang bicara seenaknya, Bu. Jadi jangan salahin aku, kalau aku membentaknya." "Rud, Ibu punya solusi." "Solusi apa?" "Gimana kalau kamu pekerjakan saja asisten rumah tangga, sekaligus pengasuh buat Aisha dan Alif!" saran Ibu kepadaku, yang sebenarnya tidak pernah bisa kuterima. "Aku gak bisa menerima saran dari ibu!" Aku menolak usul ibu dengan tegas. Bahkan alasanku meminta Embun menjadi ibu rumah tangga, agar Embun bisa fokus mengurus anak-anak kami. Aku tidak mau anak-anakku diurus oleh pengasuh. "Rud ..." "Buat apa ada ibu sama Vina di sini, kalau gak bisa jagan Aisha sama Alif. Pokoknya , kalian harus jagain Aisha dan Alif selama aku pergi!" ujarku tegas. "Ini semua gara-gara istri kamu, kenapa dia pergi begitu saja? Dasar tidak bertanggungjawab! Kita jadi kesusahan begini, kan," gerutu Ibu kesal. Aku tidak berkomentar apa-apa dan memilih untuk diam, karena kepalaku terasa penat. Aku kurang tidur, karena menjaga anak-anak semalaman. Belum lagi, tugas kantor yang menumpuk dan tidak bisa ku abaikan. "Udah lah, Bu! Bukannya ini yang ibu mau? Embun nggak ada disini," ucapku yang membuat ibu terdiam. Ketika baru saja aku akan menyesap kopi buatan Mawar, terdengar suara kedua anakku yang menangis dari ruang bermain. "Rudi, biar aku aja yang lihat anak-anak. Kamu di sini aja. Aku bisa kok jagain mereka sebentar." Mawar tersenyum padaku, dia baik sekali mau membantuku untuk mengasuh Aisha dan Alif walaupun hanya sebentar. "Rud, lebih baik kamu segera urus perceraian kamu dengan wanita itu. Ibu lebih setuju, kalau Mawar yang jadi menantu Ibu," ucap Ibu kepadaku. "Tidak ada yang bisa kamu harapkan lagi dari wanita itu. Wanita yang sudah tega meninggalkan suami dan anak-anaknya. Dia itu istri durhaka, Rud!" Entah kenapa, aku tidak merasa nyaman dengan perkataan Ibu mengenai perceraianku dan Embun. Meskipun perkataan Ibu memang benar, tapi soal perceraian ... hatiku masih belum menerimanya. Tak pernah terbayang dalam benakku, untuk bercerai dari Embun. Walaupun Embun sebenarnya tidak layak untuk menjadi istri dan ibu anak-anakku. Dia meninggalkan kami begitu saja. *** Keesokan harinya, aku pergi bersama dengan Edwin dan bos ku yang bernama Pak Brata ke Bandung. Rencananya, kami akan menemui salah rekan bisnis pak Brata di sana. Lebih tepatnya calon investor yang akan mendanai proyek baru di perusahaan kami. "Katanya investor itu, konglomerat nomor 1 di Indonesia, ya pak?" tanyaku penasaran kepada pak Brata. "Iya. Hebat kan, kalau kita bisa membuat beliau untuk menjadi investor di perusahaan kita? Makanya, kita harus berusaha untuk menyenangkan beliau," tutur pak Brata kepadaku dan juga kepada Edwin. Aku dan Edwin sama-sama mengganggukan kepala. Kami sudah melakukan briefing, tentang apa-apa saja yang harus dibahas dan sikap apa yang harus kami tunjukkan, di depan calon investor itu. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung, sekitar 2 jam. Sebelum kami menemui investor itu, kami menginap di salah satu hotel di kota Bandung. Tempat di mana kami akan bertemu dengan investor itu, di hotel ini. Katanya hotel mewah ini pun, adalah hotel milik anaknya. Seberapa kaya investor kami ini? Aku jadi penasaran dan tidak sabar ingin melihatnya. "Rud! Itu bukannya bini lu!" ujar Edwin yang membuatku terkejut setengah mati. Ku ikuti arah pandang Edwin dan alangkah kagetnya aku, ketika melihat Embun istriku sedang berjalan masuk ke dalam lift di hotel. Embun juga bergandengan tangan dengan seorang pria. Penampilan Embun terlihat berbeda, dia memakai pakaian yang mahal dan gaya rambutnya juga tertata rapi. Embun sangat cantik. Tapi aku masih bisa mengenalinya dengan baik. "Embun ..." lirihku dengan d**a yang terasa sesak. Hatiku sakit, melihat Embun tersenyum pada pria itu dan memegang tangannya. Siapa pria yang sedang bersama Embun itu? "Si Embun sama siapa Rud? Jangan-jangan si Embun selingkuh dari lu, gara-gara lu selalu kasih uang gaji lu sama ibu lu. Haha, wajar sih kalau kayak gitu. Kelihatannya selingkuhannya kaya," tutur Edwin sambil tertawa mengejekku dan membuat darahku semakin mendidih. Ingin sekali aku meninju wajahnya, tapi saat ini aku harus pergi menyusul Embun. Aku berteriak memanggil nama Embun, sambil berlari menuju ke arah lift itu. Aku membeku sesaat, ketika aku melihat sepasang mata Embun menatapku. Tapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya dariku. Kami terasa asing, meskipun kami sempat saling bertatapan. Embun seolah menghindariku. Ku lihat pintu lift itu tertutup dan aku tidak sempat menggapainya. "Embun!" TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN