Bab 5. Jual Gorengan

1341 Kata
Aku benar-benar malu saat mengetahui kalau Embun berjualan gorengan ke warung-warung. Menurutku, hal yang wajar bila aku marah kepadanya. Dia sudah mempermalukanku sebagai suaminya. Saat jam makan siang, pukul 12. Aku yang tidak sabar ingin menemui Embun dan menanyakan hal ini kepadanya, bergegas pergi dari kantor untuk pulang ke rumah dan berbicara dengannya. Benarkah Embun berjualan gorengan ke warung-warung? Dalam perjalanan pulang, ku lihat dari belakang, seorang wanita berpakaian kumel dengan rambut dicepol, sedang menggendong anak laki-laki dan menggendeng anak perempuan sambil membawa kotak besar berisi gorengan. Aku memberhentikan mobilku di pinggir jalan, saat kulihat lihat lagi, wanita itu dan kedua anaknya tampak familiar. Penampilan mereka seperti gembel! "Tunggu ... itu bukan Embun, Alif dan Aisha kan?" gumam ku berpikir dan aku harap itu bukan istri dan anak-anakku. Begitu turun dari mobil, ku hampiri wanita itu dan kedua anaknya yang sedang berdiri di depan warung. Tampaknya wanita itu memang sedang menjajakan jualannya, gorengan. "Embun! Kamu!" sentakku kaget, saat melihat sosok wanita itu adalah Embun dan kedua anak itu adalah anak-anak kami. Dadaku bergemuruh hebat, rahangku mengeras, tanganku terkepal kuat, seiring emosi yang mulai mendera di dalam diriku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Sumpah demi tuhan! Mulut ini sudah tak sabar ingin mengeluarkan kata-kata kasar kepadanya. Sialan! Embun benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh Erwin, dia berjualan gorengan. Kulihat Embun berwajah datar saja saat melihatku, tidak ada kaget-kagetnya sama sekali. Tidak paham kah dia? Bahwa dari tatapan mataku saja, sudah menunjukkan kemarahan padanya? Eh, tapi wajahnya datar saja. "Mbak Embun, kenapa hari ini telat? Terlalu siang loh ini," ucap seorang wanita paruh baya pemilik warung itu pada Embun. Bukannya bicara padaku, Embun malah berbicara padanya dan aku diabaikan. "Maaf Bu, tadi gasnya abis. Saya harus beli gas dulu biar bisa masak. Terus anak saya juga lagi rewel bu, tadi si sulung jatuh," jelas Embun dengan lembut dan tersenyum pada wanita paruh baya itu. Sedangkan padaku, sekarang dia sudah tidak pernah tersenyum lagi. "Oh begitu. Terus gimana si sulung? Ndak apa-apa, toh?" tanya wanita itu seraya mengelus kepala Aisha dengan lembut. Bisa kulihat, kalau wanita ini peduli pada anakku. "Alhamdulillah nggak apa-apa kok, Bu. Sekarang udah baikan. Nangisnya cuma sebentar," kata Embun menjelaskan sambil tersenyum. "Embun!" Ku panggil istriku, karena aku tidak tahan diabaikan terus-menerus. Kali ini dia melihatku sebentar, lalu dia kembali fokus pada tujuannya. "Makasih uangnya ya, Bu." Embun menerima beberapa uang lembar sepuluh ribuan dari ibu-ibu penjual gorengan itu. "Iya sama-sama. Besok datang lagi ya, Mbun. Ibu pesen gorengan martabak mininya banyakan ya, Mbun. Soalnya martabak mini buatan kamu laku keras," ucap wanita paruh baya itu kepada Embun. "Makasih ya, Mbun." "Alhamdulillah bu, saya juga terimakasih sama Ibu, karena saya sudah diizinkan untuk mengisi gorengan di warung Ibu." Dari percakapan mereka berdua, kenapa aku merasa kalau Embun kekurangan uang? Kenapa dia harus bekerja seperti ini? "Bun!" Tak tahan lagi, aku tarik tangan Embun dengan kasar. Aku harus segera meminta penjelasan darinya. "Apaan sih, Mas! Nggak lihat apa? Aku masih ngobrol?" ketus Embun seraya menatapku dengan sengit. Embun semakin keterlaluan kepadaku, tak ada hormat pada suaminya sendiri. "Papa?" Aisha melihatku dan memanggilku, ketika ia menyadari kalau aku ada di sini. "Papa? Oh jadi kamu suaminya Embun ya?" Wanita paruh baya itu melirikku, melihat penampilanku dari atas sampai ke bawah. Aku tak nyaman dengan tatapannya itu. "Istri kerja banting tulang buat biayai anak, tapi ... kok kamu kayaknya nggak kekurangan uang ya?" Aku semakin meradang, tak kuasa menahan amarah pada wanita itu. Apa maksudnya dia berbicara seperti ini padaku? "Apa maksud ibu, saya suami pelit, gitu?" tanyaku dengan nada yang tegas, menunjukkan kemarahanku. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis padaku, lalu dia pun berkata. "Eh ... saya ndak ada bilang gitu loh, Pak. Kalau bapak merasa, ya itu masalah Bapak, dong." "Jangan bohong, Bu! Ibu nuduh saya?" "Mas, udah—" Embun berusaha untuk menghentikanku agar tidak marah, tapi sayangnya aku sudah terlanjur marah. Aku juga marah dan kecewa kepada Embun, istriku itu yang membuatku merasa malu seperti ini. "Diem, Bun! Ini semua gara-gara kamu juga! Ngapain kamu jualan gorengan keliling kayak gini sambil bawa anak-anak kita juga? Kamu buat aku malu!" bentakku pada Embun, amarahku tak terbendung lagi. Tak peduli kami sedang di mana, saat ini aku tidak mau tahu. Ku dengar Alif menangis, setelah mendengar suaraku yang meninggi. Tampaknya ia syok dengan murkaku ini. Namun, aku sudah terlanjur marah. "Apa uang dariku kurang, sampai kamu harus mempermalukanku seperti ini dengan jualan gorengan? Keterlaluan kamu, Bun!" Kali ini Embun sudah benar-benar membuatku naik pitam. "Kalau nggak kurang, ngapain aku jualan kayak gini, Mas? Ngapain?" balas Embun dengan dingin, dia juga menghempaskan tanganku yang semula memegang sikutnya. Kudengar suara Embun yang bergetar dan raut wajahnya yang dingin, kedua matanya tampak berkaca-kaca. Kenapa dia seperti ini setelah mempermalukanku? "Pak! Jangan bentak-bentak istrinya dong. Kasihan istri bapak, dari pagi sampai sore jualan gorengan keliling sambil bawa anak-anak juga. Jangan nyalahin istri bapak doang. Istri Bapak jualan gorengan, pasti karena dia kekurangan uang dari Bapak. Kalau istri Bapak nggak kekurangan, ngapain dia capek-capek jualan?" Perkataan si wanita paruh baya itu benar-benar membuatku kehilangan kesabaran. Tidak tahan lagi, kuucapkan kata-kata kasar padanya. "Ibu jangan ikut campur ya. Ini urusan saya dengan istri saya. Urus aja tuh badan ibu yang segede gentong itu," ucapku ketus, menghina badannya yang gemuk. Aku bodoh amat, karena aku sudah terbawa emosi. Kulihat wajah ibu-ibu itu memerah, matanya menyiratkan kemarahan. Tapi aku tidak peduli sama sekali. Aku menyeret Embun dan kedua anakku untuk naik ke mobil. "Embun! Kalau suami kamu kdrt, kabur aja Mbun. Ndak usah mempertahankan suami begitu!" Ku dengar teriakan yang memprovokasi dari wanita paruh baya itu. Apaan sih dia? Ikut campur saja urusan orang! Setelah keheningan yang terjadi di dalam perjalanan menuju ke rumahku. Akhirnya, aku, Embun dan kedua anak kami sampai di rumah kami. Embun keluar dari mobil, sebelum ku minta. Dia keluar bersama dengan Alif dan Aisha. "Makasih tumpangannya, Mas. Lumayan, hemat ongkos," ucap istriku ketus yang seketika membuatku semakin emosi. Setibanya di dalam rumah, aku suruh Vina yang sedang duduk di ruang tamu untuk membawa Alif dan Aisha dulu. Sebab, aku harus berbicara empat mata dengan Embun. Vina langsung menurut dan membawa kedua anakku ke ruang bermain anak-anak. Sementara aku dan Embun masih berada di ruang tengah. "Apa-apaan kamu Bun? Kenapa kamu jualan gorengan kayak gitu? Apa uang yang dikasih ibu, nggak cukup buat kamu?" tanyaku pada Embun. "Ibumu kasih aku uang?" sinis Embun."Kamu udah pernah tanya ke ibu kamu belum, apa dia kasih uang buat aku? Ibumu nggak pernah kasih aku uang sepeserpun, Mas. Selama dua bulan ini, dia simpan uang gajimu sendiri sama Vina!" suara Embun meninggi, memperlihatkan emosinya yang semakin tak tertahankan. Sedangkan aku, aku berpikir apakah itu benar? Tapi ibu dan Vina tidak mungkin seperti itu. Ibu juga sudah mengatakan padaku, kalau dia selalu memberikan uang kepada Embun untuk anak-anak kami dan kebutuhan rumah. Ibuku mana mungkin berbohong. "Tolong Bun. Jangan menuduh ibu dan Vina seperti itu. Ibu suka ngasih uang sama kamu dari gajiku. Ibu nggak mungkin bohong!" ucapku sambil menghela napas panjang. Mata Embun akhirnya mengeluarkan air mata, bisa kulihat itu. Namun, aku muak melihatnya. "Jadi kamu nuduh aku yang bohong, Mas? Aku nggak mungkin kerja keras seperti itu, kalau aku nerima uang dari kamu. Aku kekurangan Mas, bahkan anak-anak kita juga! Seharusnya kamu peka, Mas. Ibu kamu itu yang menghabiskan uangnya seorang diri, dia bahkan nggak peduli sama aku dan cucu-cucunya sendiri yang kelaparan. Dia baik di depan kamu doang, tapi sama aku—" Sudah, aku tidak tahan lagi mendengar semua kata-kata Embun tentang wanita yang sangat ku sayangi, surgaku. "CUKUP MBUN! CUKUP KAMU FITNAH IBU! KETERLALUAN KAMU!" Ku banting vas bunga yang ada di atas meja sampai pecah. Embun tampak terkejut saat aku membentaknya dan membanting vas meja ke lantai. Tubuhnya bergetar, tapi aku tidak peduli dengan perasaannya. Dia sudah berani memfitnah ibuku sedemikian rupa. "Ada apa ini Rud? Kenapa kamu marah-marah, Nak?" tanya Ibu dengan lembut kepadaku, kulihat dia baru tiba dari arah dapur. Ya, mungkin ibu mendengar teriakanku dan datang kemari. "Rud." Mawar juga ada di belakang ibu, dia melihatku dan Embun dengan bingung. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN