Kehadiran seseorang, akan membuat suasana berbeda.
- Seven Prince
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Hanya dalam satu kedipan, kakek itu menghilang, secara tiba-tiba.
"Kakek?," panggilku, menatap sekeliling, pergi secara tiba-tiba, tanpa jejak apapun.
"Ini dimana? Kei harus ngapain? Kalau Kei mati disini, Kei bakal bisa kembali, atau bagaimana?"
Aku mengingat pantulan air sumur itu, darah yang menempel di seluruh tubuhku.
"Apakah aku, akan mati," batinku, memukul dahiku kuat.
Namun tiba-tiba ada tujuh buku, yang terbang mengelilingiku. Aku melihat ke sampul buku itu, setiap sampul buku, menunjukkan wajah seseorang, bersama namanya, dan identitasnya.
"Tampan...," ucapku pelan, yang seakan lupa diri. Terkadang aku berfikir, apa cuman aku, setiap lihat pria tampan, aku seakan lupa dunia?
Aku langsung memukul pipiku kuat, "Kei, kamu harus fokus, kata Kakek, mereka bisa membunuhmu, fokus Kei, fokus!".
Setelah mengamati cukup lama, gambar, dan identitas singkat mereka. Aku langsung berjalan turun, dari tumpukan buku itu.
"Andai, aku bisa langsung bertemu, salah satu dari mereka," ucapku, berjalan pelan-pelan.
Namun seakan, ada seseorang yang mendorongku, dari atas, yang membuatku jatuh, layaknya menaikku perosotan, di atas buku-buku ini.
Brughh...
Aku terjatuh terguling-guling, "ini dunia apa, sebenarnya? Tubuhku, benar-benar sakit," ucapku, sambil memegang punggungku, yang benar-benar sakit.
"Seorang wanita?". Sebuah suara, membuatku, berdiri tegak, dan menatap sekelilingku.
Aku tertawa keras, melihat sekelilingku. Dimana, aku sedang berdiri, ditengah-tengah medan perang. Dan perperangan tersebut, berhenti, semua orang melihat ke arahku.
"Maaf, aku tadi, hanya lewat...," ucapku, memegang tangan kananku, yang bergemetar hebat.
"Aroma tubuhmu." Pria itu, turun dari kuda hitamnya, berjalan kearahku, "kamu seorang manusia?," tanya seseorang, yang terlihat sebagai pimpinan mereka.
"Kamu Welf? Pangeran kerajaan Werewolf, dan berumur tiga ratus enam puluh empat tahun," tanyaku, memastikan.
"Ternyata, kakek sialan itu, kembali berulah," ucapnya, yang terus berjalan mendekatiku.
"Kei, harus manggil apa? Umur Kei, sama Pangeran, berbeda tiga ratus empat puluh tiga tahun."
Namun tiba-tiba, Welf mencekikku, dan mendorongku ke sebuah pohon.
Aku memukul tangannya berkali-kali, "sa-sakit," kataku, yang mulai kehabisan nafas.
Seorang pria langsung menendang tangan Welf kuat, "apa yang kamu lakukan, Vampire sialan?!," teriak Welf.
"Apa kamu tidak terlalu kejam, kepada seorang wanita, yang baru datang ke dunia ini?," tanya Zurox, tersenyum miring.
Zurox dan Welf, langsung merubah wujud mereka. Zurox langsung mengeluarkan gigi taringnya, kedua bola matanya, berubah menjadi warna merah tua. Kukunya, berubah menjadi warna hitam pekat, yang sangat tajam. Dan kulitnya memutih.
Sedangkan Welf, kedua telinganya, berubah menjadi telinga seligala. Matanya, berubah warna menjadi oranye. Welf langsung melonglong, membangunkan ribuan serigala lainnya, yang berdiri dibelakangnya.
"A-aku tidak peduli, apa yang ingin mereka lakukan, yang penting aku harus kabur," batinku, berusaha mencari kesempatan untuk kabur.
Aku menatap Welf menghantam kepala Zurox kuat. Sedangkan Zurox, langsung mencakar d**a bidang Welf, hingga mengeluarkan darah segar.
Kemudian, Welf mengangkat tubuh Zurox, dan membantingnya ke pohon. Zurox tidak hanya diam, dia langsung mengiggit tangan Welf, saat Welf mendekat ke arahnya.
Namun dalam sekejap, mereka berlari, dengan cepat, saling berkejaran. Manusia sepertiku, sulit untuk menatap mereka, karena mereka berlari terlalu cepat.
Dan disaat itulah, aku berlari sekuat tenaga, menjauh dari perperangan mereka berdua.
Namun karena, aku lari terlalu cepat, aku tidak menatap, sebuah lubang besar, yang ada dihadapanku, membuat tubuhku terjatuh ke dalam lubang itu.
Aku langsung menahan tubuhku dengan kedua tanganku, agar wajahku tidak terluka. Karena, wajahku adalah aset masa depanku.
Darahku terus menetes, hingga membuat tanganku benar-benar sangat perih.
Aku berusaha terus menaikki lubang itu, namun usahaku gagal. Yang ada, tubuhku terasa semakin lemah.
Aku menatap ada ratusan bayangan bewarna hitam, yang seakan berada di atas lubang itu.
Seakan energi tubuhku, dihisap oleh bayangan hitam itu, membuat tubuhku semakin terasa lelah.
"Tolong," ucapku, yang langsung terjatuh pingsan.
Kei Pov OFF
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Saat para Pangeran mencium aroma, darah manusia. Ketujuh Pangeran tersebut, langsung bergegas pergi, mengikuti aroma tersebut.
Hanya dalam hitungan menit, para Pangeran tersebut sudah berada tepat di atas lubang Dannato, lubang terkutuk.
Karena lubang itu, dibuat oleh sebuah naga, untuk melindungi telurnya. Siapa pun yang berada disana, akan mati dibunuh oleh seekor naga jantan.
"Gadis yang malang, dia akan mati sia-sia, seharusnya, aku meminum darahnya terlebih dahulu," ucap Fairo, Pangeran Peri, sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a.
"Kenapa harus Peri, sepertimu yang meminum darahnya? Lebih baik, jika aku yang meminumnya, darahnya akan lebih bermanfaat, saat aku yang menikmatinya," ucap Elfo, Pangeran Elf, memutarkan bola matanya.
"Untuk apa Elf sepertimu, meminum darah manusia, apa kamu, ingin memanjangkan telingamu? Lebih baik, untukku," tanya Merlion, Pangeran Merman, tertawa keras.
"Ikan lele sepertimu, lebih baik diam. Jangan sampai, aku memasakmu, dengam panci rumahku!," ucap Elfo, sambil menunjuk ke arah Merlion.
"Setidaknya duyungku berguna, tidak seperti telingamu! Apa gunanya telingamu, yang runcing itu? Dan sudah kukatakan berapa kali, aku bukan ikan lele!"
Sebuah api, tiba-tiba menyembur, ke arah lubang tersebut. Mmebuat ketujuh Pangeran tersebut, langsung melompat jauh.
Semua orang, bersembunyi, dibalik pohon, agar naga tersebut, tidak bisa menemukan mereka. Karena, siapapun yang terlihat oleh naga itu, dia akan mati, saat itu juga.