Vanya tersentak. Dia menggunakan keluarganya. Lagi. 'Dia selalu memperalat keluargaku sebagai ancaman,' batinnya. Ketakutan yang menusuk itu langsung menenggelamkan semua sisa pemberontakan moral yang ia miliki. Bukan tentang jiwanya lagi. Ini tentang keselamatan orang-orang yang ia cintai. Dengan tangan yang masih gemetar, Vanya memutar kenop pintu. Kunci itu berbunyi ‘klik’ yang keras dan mematikan di kesunyian bunker. Pintu terbuka, dan Vanya hampir tersentak mundur. Julian berdiri di ambang pintu, aura gelapnya memenuhi ruangan kecil itu. Mata abu-abunya yang dingin, yang biasanya bisa ia baca, kini dipenuhi badai kemarahan yang tertahan. Ia mengenakan blazer hitam mahal, kontras dengan kemeja putih yang sedikit terbuka di lehernya, menandakan bahwa ia bergegas langsung dari perte

