54 "Kalau nyari yang sesuai klasifikasi kamu itu susah, Ian," ucap Farah sambil mengetuk-ngetukkan pulpen di tangan kanan ke sandaran kursi. "Aku sanggup gaji berapa pun, Far. Asal siap dengan segala konsekuensi," sahut Hadrian yang duduk berseberangan dengan perempuan itu. "Bukan masalah gaji, aku tahu kamu pasti sanggup bayar, cuma jam kerja sebegitu padatnya, bakal bikin pelamar keder." "Masalahnya, aku harus keluar kota tiap bulan, ngegaet rekan bisnis dan melebarkan usaha. Kang Dzaki udah sulit buat bergerak karena ada bayi. Ivana belum sepenuhnya pulih. Mau nggak mau asistenku harus gesit." "Gini aja, gimana kalau dua orang? Gajinya nggak segede tadi, tapi sesuai dengan beban kerja." "Ehm, boleh. Cowok satu, cewek satu." "Yups." "Cowoknya biasa-biasa aja wajahnya. Cewek

