Dirga tersenyum puas ketika mendengar Intan bersedia mengganti sarapan yang ia minta. Sambil bangkit dari duduknya, ia pun mengibaskan tangan kanannya sebagai isyarat untuk segera pergi. “Ayo, tunggu apa lagi?!” serunya dingin. Intan pun segera mengangguk paham, lantas buru-buru ke luar ruangan yang menyesakkan baginya itu. Kendati begitu, ia pun tak lupa mengulas senyuman tipis ke arah Aryan sebelum menutup pintu. Aryan membalas senyuman Intan dengan begitu manisnya, hingga Dirga merasa tak suka. “Hei, jangan sok manis! Aku adukan sama Stella, baru tahu rasa kamu.” Sontak saja Aryan langsung melirik sengit ke arah Dirga. “Dih, ngancem. Stella, nggak akan cemburu hanya dengan ucapan tanpa bukti, Bos. Lagi pula saya tidak berbuat yang aneh-aneh, hanya senyum kok dipermasalahin.” Dirga t

