--Happy Reading--
Kata-kata Intan benar-benar membuat jantung Burhan terkejut bukan main. Pasalnya, rahasia dirinya dengan selingkuhannya telah terbongkar oleh Intan, istrinya.
Layangan kata cerai dari mulut Intan bagai belati yang baru saja menusuk jantung dan hatinya, begitu sakit dan teriris perih. Dia tidak ingin kehilangan Intan dalam hidupnya, meskipun dia sadar dia telah melakukan kesalahan yang teramat fatal.
Burhan bergeming, setengah ragu kalau Jihan tengah mengandung anaknya. Pasalnya, dia selalu menggunakan pengaman saat berhubungan intim dengan Jihan. Karena, dia memang tidak ingin memiliki anak dari wanita lain, selain dari istrinya.
Jihan, hanya pelarian napsu biraahinya saja selama ini. Saat istrinya yang selalu sibuk mengurusi kedua anak kembarnya, Dewa dan Dewi, hingga dia merasa terabaikan. Kebutuhan biologisnya pun tidak tersalurkan. Jadi, Jihanlah yang saat itu menjadi pelampiasannya.
***
Satu jam sebelumnya.
Intan baru saja bangun dari tidurnya. Karena, di jam lima pagi sudah terbiasa Intan harus melakukan serangkaian aktivitas sehari-hari sebelum berangkat ke kantor untuk bekerja.
Ya, Intan memang tidak bisa melepaskan pekerjaannya, meski dia sudah memiliki dua orang anak kembar yang sangat membutuhkan perhatian ekstra darinya. Namun, sebisa mungkin dia harus tetap memprioritaskan kedua anak kembarnya, saat dia sedang berada di rumah.
Selepas membersihkan diri dengan mandi air hangat. Karena, air di pagi hari sangatlah dingin, dia tidak bisa menahan dinginnya air. Terpaksa, dia selalu mandi dengan menggunakan air hangat untuk mengguyur tubuhnya yang lengket, selepas bangun tidur.
Setelah itu, Intan baru akan membangunkan Burhan. Namun, terdengar pekikan dari ponsel suaminya yang sedang memanggil.
"Siapa yang menelpon, pagi-pagi buta seperti ini?" tanya Intan menaruh curiga.
Dari pada penasaran, Intan pun tidak lantas membangunkan Burhan. Dia mencari sumber suara dari telpon suaminya yang masih berdering.
Tidak butuh waktu lama, Intan pun menemukan ponsel dari suaminya itu. Intan melihat ponsel Burhan masih berdering dan layarnya berkedip-kedip. Dia pun mencoba meraihnya, untuk mengetahui siapa yang menghubungi suaminya.
"J-jihan...." gumam Intan lirih.
Deg!
Jantung Intan tersentak kaget. Lagi-lagi, nama Jihan yang tertera di layar ponsel Burhan. Dengan sekuat hatinya, Intan pun segera menerima panggilan itu hanya untuk mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Jihan kepada suaminya.
Tidak ingin didengar oleh Burhan, suaminya. Intan pun menjawab panggilan telpon di luar kamarnya, di ruang keluarga tepatnya.
"Hallo, Mas Burhan. Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku? Sudah berulang kali, mengapa baru sekarang kamu angkat, Mas. Apakah ada Intan di sampingmu? Kata kamu, semalam mau menelponku. Mana janjimu, Mas."
Jihan terus nyerocos dalam telponnya, tanpa menyadari jika bukan Burhan yang sedang dia ajak bicara.
Hening untuk beberapa saat, tidak ada jawaban dari Burhan yang ada di dalam pikiran Jihan.
Sementara Intan bergeming dengan sekujur tubuhnya bergetar hebat, sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya. Kedua telapak kakinya seolah tidak bisa berpijak di atas lantai, seketika lemas dan gemetar.
Air matanya pun sudah tidak bisa dibendung lagi, menetes lirih di kedua pipinya. Refleks, Intan membekap mulutnya dengan telapak tangan kirinya.
"Mas.... Mas Burhan!" panggil Jihan, karena tidak kunjung ada jawaban dari Burhan. Namun, panggilan telponnya diterima.
"Mas Burhan, apakah Mas Burhan tidak mendengar suaraku, hah?" tanya Jihan merasa kesal, jangan-jangan sinyalnya sedang di luar jangkauan.
"J-jihan... sahabatku," ucap Intan lirih. Namun, masih terdengar jelas oleh Jihan di sebrang telponnya.
Sontak saja, Jihan pun tergugu dan terkejut saat mendengar suara Intan yang menerima panggilan telponnya. "I-intan..."
"Kamu masih mengenal suaraku, Jihan? Syukurlah, kalau kamu masih mengenalku," ucap Intan terjeda untuk beberapa detik mengumpulkan keberaniannya.
Intan mencoba mengontrol emosinya, agar tidak meledak-ledak dengan memaki sahabatnya.
"I-intan..." hanya nama sahabatnya yang lagi-lagi Jihan sebut.
Hahahaha....
Intan tertawa getir, menyembunyikan geram di hatinya. Saat dirinya mengetahui fakta, jika sahabatnyalah yang menjadi PELAKOR (Perebut Laki Orang) dalam rumah tangganya.
"M-mengapa kamu tega kepadaku,, Jihan? Apakah kamu tidak punya hati, hingga dengan teganya menikamku dari belakang? DI mana pikiranmu, Jihan? Di mana hati nuranimu, hah? Aku ini sahabatmu. Kamu sangat kejam," cecar Intan bagaikan belati yang menyayat perasaan Jihan.
Deg!
Jantung Jihan sontak terkejut. Bagaimana tidak, dialah yang menjadi pemicu kemarahan Intan.
Ya, Jihan menyadari jika semua yang dia lakukan bersama Burhan, merupakan hubungan gelap. Perselingkuhan sampai kapan pun tidak akan pernah dibenarkan.
Jihan pun seketika meneteskan air matanya, setelah lontaran kemarahan sahabatnya yang sangat memilukan.
"M-maafkan aku, Tan! M-maafkan aku," ucap Jihan gugup terdengar penuh penyesalan.
Isak tangis yang terdengar pilu dari bibir Jihan di sebrang telponnya, membuat Intan tersenyum getir.
"Sudah berapa lama, kamu berselingkuh dengan Mas Burhan?" Intan tidak ingin menunjukkan sifat lemahnya di depan Jiihan, meski hanya dalam percakapan di telpon.
"L-lima bulan, Tan," gugup Jihan jujur.
Rasa bersalah yang melanda pikiran Jihan, dia pun sudah menyesali perbuatannya. Namun, dia tidak ingin menanggung malu sendirian, Burhan dan Intan harus tahu kondisi dirinya saat ini.
Haaah...?
Intan tercengang, ternyata suaminya pandai menyembunyikan pengkhianatan. Sungguh, Intan merasa seperti orang bodoh selama ini. Suaminya selingkuh dengan sahabatnya pun, dirinya tidak menyadari sama sekali.
"A-aku hamil, Tan," jujur Jihan, tidak ingin menutupi akibat dan aib yang dia terima dari perselingkuhannya selama ini.
Hikks....
Isak tangis Jihan terdengar jelas dari sebrang telponnya.
Deg!
Jantung Intan lagi-lagi tertampar. Bagaikan terkena hantaman batu besar yang menghujamnya. Begitu sakit dan nyeri dalam dadanya, tersayat perih yang tidak berdarah. Namun, sakitnya begitu nyata dan membekas. Sungguh, dia tidak bisa memaafkan kesalahan suami dan sahabatnya itu.
"H-hamil?" tanya Intan terbata, mengulang kata itu, hampir-hampir ponsel yang sedang berada di tangannya terjatuh.
"Y-ya, Tan," jawab Jihan gemetar. "M-maafkan aku, Tan," sesalnya lirih.
Bruk!
Intan pun seketika ambruk, dengan duduk bersimpuh di atas lantai untuk beberapa saat.
Intan meluapkan tangisannya, tanpa perduli lagi dengan ponsel Burhan yang masih menyala menerima telpon dari selingkuhannya itu.
Hikks...
Tangisan Intan semakin menjadi di ruang keluarganya itu.
"Mengapa harus dengan Jihan sahabatku, Mas? Kenapa kalian khianati aku? Kenapa?" tanya Intan sambil menjerit, meluapkan kekecewaannya atas apa yang baru saja dia dengar dari mulut sahabatnya sendiri.
Dengan tertatih, Intan pun segera berjalan ke taman belakang rumahnya untuk menenangkan diri, meski di luar matahari masih malu menampakkan sinarnya.
Duduk dengan menekuk kedua kakinya di atas kursi panjang, Intan pun menangisi nasibnya sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua pahanya.
"Aku membencimu, Mas Burhan! Dasar laki-laki buaya buntung kamu, Mas. Sampai kapan pun, aku tidak sudi memaafkanmu, Mas Burhan," gumam Intan disela tangisannya yang terdengar lirih.
Hikks...
Lagi-lagi, tangisan itu terus terdengar dari bibir Intan. Tidak menyangka, diusia pernikahannya yang baru menginjak tiga tahun itu, dia terpaksa harus mengakhiri biduk rumah tangganya bersama Burhan.
***
Kembali ke pukul enam pagi.
"C-cerai?
"Ha-hamil?
Burhan terbata, benar-benar dikejutkan dengan perkataan istrinya. Bagaimanapun, dia tidak akan pernah menceraikan Intan. Karena, Intan adalah istri yang paling dicintainya.
Burhan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, sebagai tanda dia tidak akan pernah mengabulkan permintaan istrinya.
Intan hanya tersenyum getir melihat apa yang dilakukan oleh suaminya yang saat ini begitu dia benci. Kerena, Intan tidak akan pernah mentorelil sebuah perselingkuhan dan pengkhianatan.
Jika saja hanya masalah ekonomi, uang belanja, uang bulanan atau pun uang harian, Intan masih bisa menerima dan memaafkan. Namun, tidak untuk sebuah pengkhianatan.
"K-kalau kamu tidak mau menceraikanku. Biar aku yang akan menggugat cerai kamu, Mas!"
Duaarr.....
Bagai bom waktu yang meledak, ucapan Intan mampu melemaskan semua organ tubuh Burhan dalam hitungan detik.
Deg!
Glek!
Burhan benar-benar terkejut dan tercekat. Istri yang selama ini dia pikir penurut dan lemah lembut, ternyata begitu arrogant dan keras hati melawan dirinya.
--To be Continue--