Sejak kepulangan putrinya kurang lebih satu jam yang lalu, Widya mendapatinya masih belum beranjak naik ke atas kasur. Ia khawatir putrinya terbebani karena belum bisa menemukan kontrakan rumah untuk mereka tempati.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya Widya sambil menepuk pundak Intan, kemudian duduk di sampingnya. Intan hanya menggeleng lirih dengan tersenyum tipis atas pertanyaan ibunya.
“Sudah malam, kenapa belum tidur, huem?” tanyanya lagi sambil menelisik wajah putrinya.
“Belum ngantuk, Mah.” Intan menjawab sekenanya, meskipun pada dasarnya bukan salah satu penyebab utamanya. Kejadian sehabis magrib tadi masih membekas dalam ingatannya, mimpi apa ia sampai bisa bertemu lagi dengan pria dingin menyebalkan itu.
“Tapi, besok kamu ‘kan hari pertama masuk kerja. Kalau nanti sampai telat, bagaimana?”
Intan refleks menoleh ke arah ibunya, apa yang dikatakan adalah benar adanya. Kalau sampai besok ia datang telat di hari pertamanya bekerja, reputasinya sebagai staf Asisten Manager selama ini akan buruk. Terlebih lagi, ia digadang-gadang akan naik jabatan kurang dari tiga bulan setelah masa percobaannya berhasil di kantor yang baru.
“Iya, ‘kan?” Widya kembali menegaskan sambil menatap wajah putrinya yang saat ini sedang menatapnya dengan tegang.
Intan pun nampak mengangguk lirih, lalu menggelengkan kepalanya, kemudian mengangguk lagi dengan raut wajah bingung.
“Apa yang sedang kamu pikirkan sebenarnya, Nak?” tanya Widya menyelidik dengan sikap putrinya yang tidak seperti biasanya.
Lagi-lagi Intan hanya menggeleng lirih, merasa kejadian yang ia alami tidak perlu diceritakan kepada ibunya. Jika ibunya tahu ia bertemu lagi dengan pria dingin menyebalkan itu, bisa-bisa dirinya ditertawakan lagi seperti kemarin malam. “Nggak ada yang aku pikirkan kok, Mah,” kilahnya.
Widya mengernyitkan dahinya, nampak tak sepenuhnya percaya dengan jawaban putrinya tersebut. “Rumah kontrakan? Apa hal itu yang masih mengganjal di pikiranmu, Nak?” tebaknya.
Intan tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya ketika mendapati pertanyaan tersebut. Tidak mau urusan menjadi panjang, ia pun akhirnya mengangguk saja. “Iya, Mah.”
Widya pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap lembut punggung putrinya. “Mama ‘kan tadi sore sudah bilang, kalau cari rumah kontrakannya besok saja. Kalau kamu takut gak ada waktu sepulang kerja, biar Mama yang nyari. Kamu itu ngeyel sih, keras kepala seperti almarhum Papa kamu,” omelnya teringat bayangan wajah almarhum suaminya seperkian detik.
Intan meringis lirih mendapati omelan ibunya, ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Widya untuk mengobati kerinduannya terhadap almarhum ayahnya yang baru saja disebut tadi.
“Ya sudah…., ya sudah…., urusan rumah kontrakan biar Mama besok yang nyari. Sekarang kamu lekas tidur, malam sudah semakin larut. Kamu harus ingat, tujuan kamu ke sini itu untuk apa, huem? Untuk bekerja, ‘kan?” titahnya sambil beranjak diri dari sofa bad.
Intan pun tak kuasa lagi membantah perintah ibunya, terpaksa bangkit dari duduknya kemudian merebahkan tubuhnya di samping kedua anak kembarnya yang tertidur lelap. Kedua matanya terpejam, kendati pikirannya masih berkelana dengan wajah pria dingin menyebalkan yang sedikit sulit ia hilangkan. “Aish…., nyebelin,” dengus Intan lirih.
Widya pun membaringkan tubuhnya di kasur lantai yang sudah terlebih dahulu ditempati oleh suster Dina. Ia berharap putrinya dapat tidur nyenyak malam ini, agar besok pagi tidak bangun terlambat.
***
“Nak…, bangun!” panggil Widya sambil menepuk pelan pipi putrinya. “Sudah jam lima lewat, ayo bangun!”
“Uum…, iya Mah,” sahutnya sambil mengucek kedua matanya lalu menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya.
Intan pun bergegas bangun meski ia masih sangat mengantuk, karena ia tidak tahu jam berapa tadi malam ia tertidur. Rasanya ia belum lama matanya terpejam, tiba-tiba sudah pagi saja.
Bergegas mandi dengan cepat, kemudian menjalankan sholat subuh berjamaah bersama ibu dan pengasuh anaknya. Usai sholat shubuh, Intan berdoa dengan khusuk untuk kelancaran kerja di hari pertamanya. Tak lupa ia pun menyalimi ibu dan pengasuh anaknya sebelum melepas alat sholatnya.
Widya pun mendoakan kesuksesan dan kebahagiaan untuk masa depan putrinya. Lelehan air mata tulus membasahi wajahnya ketika mengecup puncak kepala Intan dengan sayang.
“Terima kasih, Mah,” ucap Intan sambil tersenyum tipis dengan mengusap air mata di wajah ibunya.
Widya menggeleng lirih sambil mengulas senyum bahagia. Mereka pun segera bangkit dari tempat sholatnya sambil merapihkan mukena dan sajadah masing-masing.
Tak berselang lama, salah satu anak kembarnya terbangun dan menangis. Intan segera beringsut menghampiri untuk melihatnya. “Aduh…, tayangnya Bunda udah bangun. Kenapa menangis? Pasti Dewa haus, ‘kan?” Intan memeriksa bibir putranya dengan menempelkan jari telunjuknya.
Tangisan Dewa pun lekas terhenti ketika melihat dan mendengar suara bundanya. Respontnya pun sangat cepat, seolah ingin melahap jari telunjuk Intan.
Intan segera memberikan ASI untuk putranya, sambil berbaring miring. Di tengah menyusui putranya, tiba-tiba putrinya pun terbangun dan menangis, al-hasil Intan menyusui keduanya secara bersamaan.
Tak terasa waktu terus beranjak naik, saking asiknya Intan menyusui kedua anak kembarnya sampai lupa waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Itu pun Widya yang sudah mengingatkannya. “Nak, jangan kelamaan nyusuin si kembar! Kalau mereka belum kenyang, ‘kan masih ada stok ASI untuk diberikan pada mereka. Ayo, siap-siap berangkat! Kamu belum tahu ‘kan jalanan di kota ini seperti apa? Antisipasi ajah biar nggak terlambat ke kantor.”
Intan pun mengangguk cepat, sambil menghentikan pemberian ASI untuk kedua anaknya. “Udah dulu ya, tutunya. Bunda mau berangkat kerja dulu, pulang kerja nanti Bunda lanjutin, ya,” bujuknya dengan lembut sambil melepaskan mulut si kembar dengan perlahan dari puncak produksi ASI miliknya.
Dewa dan Dewi pun seolah paham dengan ucapan bundanya, mereka melepaskan tanpa perlawanan dan tanpa drama menangis. Intan tersenyum mengembang dengan kepatuhan kedua anak kembarnya tersebut sambil merapihkan kembali kancing bajunya.
“Sus, tolong hangatkan ASI buat si kembar! Untuk jaga-jaga, kalau mereka masih haus,” pinta Intan sambil beranjak turun dari atas ranjang.
“Baik, Buk!” sahutnya dengan anggukkan kecil.
Sementara Widya segera menghampiri ranjang untuk menjaga si kembar agar tidak terjatuh. Ia pun mengajak bermain kedua cucunya dengan riang.
Intan lekas berganti pakaian kerja yang biasa digunakan di kantor lamanya. Tak perlu waktu lama, Intan sudah rapi dengan makeup tipis dan stelan baju yang pas dengan tubuhnya. Namun, tetap cantik dan sopan dalam pandangan yang sekalipun melihatnya dari jarak jauh.
“Mah, Intan pamit kerja dulu, ya!” ucap Intan sambil meraih punggung tangan ibunya untuk dicium.
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya!” balas Widya dengan mengulas senyuman tipis.
“Siap, Mah!” ucapnya sambil bergaya hormat dengan senyuman lebar.
Widya nampak geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya. Padahal sudah punya dua orang anak, tapi kelakuannya nggak berubah dari dulu seperti anak SMA saja, pikirnya.
***
Sudah pukul setengah delapan lewat, tapi Intan masih terjebak macet di jalan menuju kantornya. Seharusnya menurut perkiraan kalau tidak macet par4h ia sudah sampai di tempat kerjanya setengah jam sebelum jam masuk kerja. Namun, angka di arlojinya menunjukkan sekitar lima belas menit lagi pukul delapan pagi. Artinya, waktu yang ia miliki sudah sangat mendesak alias mepet. Dari pada gelisah, Intan pun memutuskan untuk berjalan cepat dari posisinya saat ini.
“Stop, Pak, saya turun di sini saja!” seru Intan sambl membayar ongkos angkutan kota.
“Lah, mbak, kenapa turun di sini? Kantornya bukan yang ini.” Sang supir keheranan, karena sebelumnya Intan meminta ia menunjukkan tempat kantornya bekerja.
“Saya sudah hampir kesiangan, Pak. Jadi, dari pada menunggu entah sampai kapan sampainya, lebih baik saya jalan saja. Kantornya tidak jauh dari sini ‘kan, Pak?”
Supir itu pun mengangguk cepat, sambil menerima ongkos dari tangan Intan. “Iya, Mbak. Tapi, kembaliannya, Mbak….”
“Untuk Bapak saja kembaliannya,” sahut Intan sambil berjalan cepat meninggalkan supir angkutan kota tersebut.
***
Intan sudah berdiri tepat di depan kantor perusahaannya yang baru. Alamat yang tercantum dan nama perusahaan pun sudah benar dan sesuai dengan yang diberikan oleh atasannya dari perusahaan yang lama.
“Permisi, Pak! Perkenalkan nama saya, Intan Maharani. Saya berasal dari Jakarta, yang berpindah tugas di kantor ini. Saya ingin bertemu dengan Ibu Sofia Melati, apakah Bapak bisa antarkan saya?”
“Oh, tentu saja bisa, Mbak. Mari, ikuti saya!” ucap petugas security yang berjaga di pos depan kantor.
Intan pun tersenyum lega, petugas security itu pun membukakan pintu gerbang untuknya masuk. Intan sadar, ia sudah telat masuk jam kantor. Karena saat ini arloji di tangannya sudah menunjukkan angka delapan lewat dua menit. Namun, ia tetap optimis saja masuk ke dalam kantor tersebut meskipun tidak tahu konsekuensi apa yang akan didapatinya.
Petugas security itu berbicara dengan seorang resepsionis beberapa saat, kemudian meminta Intan untuk mengikuti resepsionis tersebut.
“Terima kasih, Pak!” ucap Intan setelah petugas security itu pamit meninggalkannya.
“Sama-sama, Mbak Intan,” ucapnya dengan ramah.
“Mari, ikut saya ke ruangan Ibu Sofia, Mbak Intan!” ajak resepsionis itu dengan ramah setelah tahu tujuan Intan dari petugas security tadi.
Intan mengangguk kecil dengan senyuman hangat. “Baik, Mbak!”
Intan pun akhirnya bertemu dengan ibu Sofia Melati, staf HRD yang bertugas menerima dan mengurus mutasi Intan Maharani dari kantor pusat di Jakarta. Wanita di atas Intan lebih tua lima tahunan tersebut tetap menyambut Intan dengan ramah meskipun ia terlambat datang.
“Ibu Sofia, saya mohon maaf sudah terlambat datang ke kantor di hari pertama saya masuk bekerja. Saya tidak tahu kalau di jalanan akan terjebak macet p4rah, hingga akhirnya saya terlambat,” ucap Intan dengan penuh sesal.
Ibu Sofia tersenyum kecil ketika mendapati Intan yang baru saja meminta maaf akan kesalahannya. “Tidak apa-apa, Mbak Intan. Saya memakluminya, Mbak Intan ‘kan tidak tahu kondisi di jalan seperti apa,” sahutnya dengan bijak.
“Terima kasih, Ibu Sofia. Terima kasih banyak sudah memaklumi saya,” ucap Intan tersenyum lega sambil menangkup kedua tangannya di depan d4da.
“Tapi, saya tidak tahu kalau dengan, Pak Dirga. Mudah-mudahan, Pak Dirga tidak tahu dengan keterlambatan Mbak Intan hari ini, ya,” terangnya dengan mengulas senyum penuh teka-teki.
Sontak saja Intan mengernyit bingung dengan penuh tanya. ‘Pak Dirga?! Siapa sebenarnya nama laki-laki yang disebut oleh Ibu Sofia ini? Apakah beliau seorang Bos, atau pemilik Perusahaan ini? Kenapa Ibu Sofia sepertinya begitu khawatir?’ bisiknya penasaran.