"Ih apaan sih, Dafa. Hari ini kamu gaje banget deh. Kamu malah membuatku kesal. Nggak ada hal lain selain serius apa?" Tanya Gibran. "Aku cuma ingat kata-kata kamu yang pada saat itu. Kamu bilang gelangnya seperti wangii buah dan bahkan kamu mengakui bahwa diri kamu menyukai buah tersebut. Padahal itu hanya sebatas parfum saja," jelas Dafa. " Loh, ini kan beda tempat. Mana bisa disamakan. Nggak bisa gitu dong." "Iya-iya aku gak jelas dan aku salah," ucap Dafa pasrah. Lagi pula kalau mau sekeras apapun kalau memang dasarnya tidak bisa maka akan tetap tidak bisa, kecuali kalau memang benar-benar sudah ikhlas. "Hust! Sudahlah nggak usah pada berisik. Kita fokus sama ini saja dulu," kata Pak Anam sambil menunjukkan barang Ana yang terjatuh. "Siap, Pak," sahut mereka secara bersamaan. T

