Namanya Akseyna Alexander?

1119 Kata
"Kembalikan buku saya" suara itu menginterupsinya yang sedang membaca. suara yang merdu dan candu. ketika di tatap, Yura tak bisa menahan bibirnya untuk tidak mengucapkan kata waw saking terpananya. Lelaki ini tampan sekali. Tubuhnya yang diterpa sinar matahari bercahaya, wajahnya yang pucat membuatku candu untuk sekedar berlama lama dengannya. Lelaki itu akan meraih buku yang berada di tangan Yura, seakan tersadar Yura langsung menghindar dan tersenyum senang. Yura menyembunyikan bukunya di belakang dan tersenyum penuh kepada lelaki di depannya. "Namamu siapa?" tanya Yura, ia menyelipkan rambutnya kebelakang telinga. Mencoba mencari perhatian lelaki itu. Hanya saja, "Kembalikan buku saya" dia sama sekali tidak terpengaruh, dan itu membuat Yura sama sekali tidak percaya! Senyum Yura surut namun tetap saja ia belum kehilangan minat untuk berkenalan dengannya. "Namamu Asmara? Bukan kan? Jadi aku ga percaya tuh ini buku milikmu" kata Yura sebenarnya ia hanya menggoda lelaki ini namun ketika lelaki itu mendekat padanya, cukup membuat Yura tidak dapat mengontrol detak jantungnya, sangat abnormal. pengaruhnya luar biasa. Dengan cepat Yura menjauh beberapa langkah. "Jangan dekat-dekat deh, kakak bisa membuat ku pingsan tau" Peringat Yura, kenapa bisa pesonanya begitu panas??? Aku salah tingkah dalam tatapannya. Lelaki itu berhenti, lalu menatap Yura. "Jika seperti itu kembalikan buku saya," "Nggak bisa kak!" "Kenapa tidak bisa?" Yura tersenyum lebar, "Beritahu nama dan nomor telpon, maka setelahnya aku berikan bukumu" lelaki itu mengangkat sebelah alisnya, dan pesonanya naik bertingkat-tingkat, aku tidak tahu ada siswa sesempurna ini di Damitry. "Kenapa harus seperti itu? Bukankah seharusnya kau yang berterima kasih pada saya?" Yura semakin melebarkan senyumnya"Oh jadi kakak yang menolongku, sweet sekali. Kalau begitu mana alamatmu, akan ku kirimkan kakak hadiah, bagaimana?" kata Yura mengerling nakal, satu hal yang Yura bahkan tak percayai bisa melakukan itu. ya reaksi tubuhnya memang seperti itu. "Aku tak butuh" jawabnya datar. "Ayolah kak, jangan malu-malu." "Tidak bisakah kau memberikan saja bukunya?" "Tidak bisa, aku masih ingin berlama-lama" jawab Lisa dengan sorot matanya yang penuh harap. "Jangan bercanda" "Aku Ayura Rosetta, kakak?" Seringaian kecil tersungging di sudut bibir lelaki ketika mendengar Yura, semakin mendekat membuat Yura membulatkan matanya. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya! Tapi pesonanya benar-benar menghipnotis ku. Dia mendekat selangkah saja, membuatku hampir mati, debaran abnormal ini, dan ketampanannya benar tidak main-main. "A..apa yang kau lakukan?!" suara Yura bergetar. "Apa lagi" tanyanya matanya benar-benar memikat, aku suka semua dari tubuhnya. "kak" Yura menahan d**a bidang itu, "jangan seperti ini aku tak cukup kuat untuk menahan bibirku untuk tak mengecup bibirmu!!" batin Yura tidak tahan. Sejujurnya Yura hanya menahan diri. "Kenapa? Mulai panas??" tanya nya dengan mengangkat sebelah alisnya. "PARAH!! Ganteng banget Huaaa!!" Yura membatin. Yura menahan napas, pesona itu bagaimana bisa sekuat ini, ketika lelaki itu semakin mendekat, tubuhnya ia rendahkan dan menatap wajah Yura, maksud ia menunduk untuk apa coba? Mau mencium?? Silahkan aku menerima dan akan membalas! Yura memejamkan matanya ketika lelaki didepannya semakin mendekat, jujur ia tak sabar!! Hanya saja tak ada kelanjutannya sama sekali. Buku itu terlepas dari genggamannya, ahhh hilang sudah harapannya. Yura menghela napas berat, menggigit bibir tanda bahwa ia sudah tidak ada hal lagi untuk membuat lelaki ini tinggal, mendekat untuk sekedar mengobrol "Kakak kak Akseyna kan?" tanya Yura membuat lelaki itu hanya menatapnya datar. "Akseyna Alexander" jawab lelaki itu, sembari duduk di bangku putih. namun Yura tetap mengikutinya dan juga duduk disampingnya. "Bel telah berbunyi, apa kau tak ingin masuk?" "Masuk dimana?" tanya Yura dengan senyum manis di bibirnya. melihat itu, lelaki menggeleng "Kelas" jawabnya tanpa menatap Yura. "Ah kupikir di hatimu" Lelaki itu berdecak seakan enggan berbicara lagi. Setidaknya kan merespon dirinya atau bilang "gombal" ahhh Yura mimpi jika mengharapkan itu. "Aku akan membolos seperti kakak deh" "Saya tidak ada kelas." jawabnya tanpa menatap Yura. Sedangkan lihat lah Yura bahkan untuk berkedip saja gadis itu enggan dilakukannya. "kakak sekelas dengan kak Dimas kan?" tanya Yura namun lelaki itu tak menjawab, hanya fokus pada buku itu saja, menelan kekecewaan. Ini kali pertama ada seseorang mengacuhkanku.. tak memperhatikan dan tak tertarik. bukan tidak suka. tapi aku tertantang. sampai dimana ia  akan menyerah. "Kau tahu kakak itu sangat misterius" gemes Yura, "Lalu kenapa tak pergi saja!" "Tidak.. Aku menyukainya kok" "Kau akan menyesal mengatakannya" Yura menggeleng, "kakak salah, aku sangat senang mengenal kakak" Lelaki itu menggeleng-geleng mendengarnya, dan itu membuatnya semakin tampan. Yura benar-benar sudah gila sekarang. "kak nomor kakak dong, supaya bisa ngobrol gitu" kata Yura masih belum menyerah. "Apa setelah nya kau bisa meninggalkan saya sendiri?" "Yahh.. Apa kau terganggu dengan keberadaan ku" Dan Yura menggigit bibirnya ketika sorot itu menatapnya. Aku bisa mati, jika seperti ini. Kenapa aku baru tahu ada siswa setampan ini Damitry. Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan berpacaran dengan kak Dimas. "Sangat-sangat tergganggu" Yura berdecak, hanya saja perbedaan dia dengan kak Dimas adalah jika kak Dimas sangat ramah dan bersahabat, lelaki ini menghabiskan waktunya dengan menyendiri dan arrogant. "Atau kakak tinggal di sekitar sini ya?" tanya Yura lagi belum menyerah "Setidaknya katakan satu petunjuk kak" "kenapa mau tahu Yura? bukankah kamu pacar Dimas" Yura mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban lelaki itu. "Iya tapi namanya manusia kita ga bisa nahan perasaan kita kan kak" lelaki itu tampak tidak setuju "namanya manusia yang baik harus punya kesetiaan bukan? sifat konsisten hanya pada satu orang"jawabnya. Yura tersenyum tipis mendengarnya, "sebelum ada cincin melingkar di jari manis kanan aku, aku masih bebas memilih cowok mana yang cocok denganku kak" "Dasar" Yura mendekat pada Akseyna, "Dan aku suka sama kakak, kakak ditakdirkan sama aku, jika bertemu lagi hari ini maka benar seperti itu. Jadi jangan menghindar ya, maksudku kalau lihat aku dan aku ga lihat kakak. gapapa kok aku disapa hehehe" kata Yura dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, sedang matanya berbinar menatap lelaki itu. Akseyna.. Dari dia aku tahu bagaimana jatuh cinta itu seperti ini rasanya, dan bagaimana pdkt itu menyenangkan. Selama ini aku hanya diterima, tak pernah tertolak. namun darinya aku tahu beginikah rasanya mengharapkan seseorang yang belum satu perasaan. "Yura pamit kak" katanya dan meskipun terlihat enggan gadis itu tetap saja berlalu. Seperginya, Akseyna menutup bukunya lalu menatap kedepannya dengan tatapan datar. "Dunia sudah banyak berubah ya, apa ini karenamu? Ayura Rosetta?" katanya tanpa menoleh sama sekali. Tak ada ekspresi diwajahnya, hanya menatap pada langit yang luas di atasnya dan Damitry yang sudah banyak mengalami perubahan. Bahkan tanpaku, semuanya masih berjalan dengan seharusnya.. lagi? apa ini ada kaitannya dengan mu? Pintu terbuka, menunjukan tiga orang yang datang dengan ributnya. "Gara gara pak Jaya nih, kita ga bisa habisin bekal kita" seru seseorang dari mereka. Tak jelas kemana Akseyna, lelaki itu menghilang tiba-tiba. ketiga orang itu menatap sekitarnya, lalu mengambil tempat di bangku putih itu. "wahhh memang ya suasana di rooftop memang beda, sejuk bangett" katanya. dan apa benar yang ditemui Yura memanglah manusia. Akseyna Alexander, apa kah itu dia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN