8. Cemburu

962 Kata
KADO UNTUK IBU MERTUA 8 "Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau pernah punya pacar yang bernama Ririn, Mas?" Mas Ramzi yang baru saja datang dan masih berdiri di depan pintu kamar itu tersedak. "Pacar?" "Iya, kamu pernah punya pacar bernama Ririn, kan?" Lelaki yang memakai kemeja warna sama denganku itu melepas peci dan meletakkan di dinding yang sudah ditancapkan paku. Lalu berbalik menatapku. "Emangnya kamu pernah tanya pacarku siapa saja? Enggak, kan?" "Siapa saja?" Aku mendongak. "Apakah itu artinya punya pacar lebin dari satu?" Mas Ramzi tertawa lebar. Lalu tangannya mengusap pipiku yang masih basah. "Ini kenapa? Nangis karena merasa dibohongi? Nggak nyangka suami yang hanya terlihat tampan di matamu ini juga pernah disukai wanita lain?" Aku mengerucutkan bibir. Kusilangkan tangan di d**a dan menggeser duduk. "Ya ya ya, baiklah aku akan memberi tahu siapa pacarku. Awalnya aku ingin merahasiakan ini semua, tetapi aku tidak mau membuatmu terus penasaran." Mas Ramzi duduk di ranjang dan merangkulku. "Waktu masih SD aku pernah suka dengan teman perempuan bernama__ "Mas__" Aku menatapnya. "Aku tidak tanya siapa pacar kamu saat SD?" "Aku hanya ingin ngasih tahu siapa saja teman wanitaku dulu." Aku menghela napas. "Aku nggak peduli pacar kamu itu siapa saja. Aku hanya ingin tahu seperti apa Ririn itu sehingga ibunya bilang kalau ia berlian dan aku beling." Mataku membola saat tiba-tiba ia mengecup pipiku dengan lembut. "Walaupun kamu beling, aku tetap cinta," ucapnya berbisik di telingaku. "Ih, bau petai, Mas." Aku mengibaskan tangan dan menutup hidung, tetapi lelaki yang sudah sah menjadi suamiku itu malah tertawa. "Ririn itu cantik dan seksi," kata Mas Ramzi yang sukses membuat darahku mendidih. Siapa yang kesal jika mendengar suaminya memuji wanita lain. Akan tetapi, ia malah kembali tertawa kegirangan. "Ririn itu nggak penting. Dia hanya masa laluku. Yang penting sekarang aku sudah menjadi milikmu. Kamu adalah bidadariku. Eh, tapi kata orang bidadari itu punya sayap sedangkan kamu tidak ada. Bagaimana caranya kamu bisa turun ke bumi?" Aku beringsut mundur saat tiba-tiba ia mendekat sambil membuka bajunya. "Mau ngapain, Mas? Ini masih siang." Mas Ramzi memencet hidungku. "Memangnya mau ngapain? Aku hanya mau ganti baju dengan kaus oblong. Gerah." *** Acara pengajian tadi selesai pada pukul 11. Para kakak ipar akan kembali ke kota nanti sore karena besok harus bekerja. Mereka baru akan datang lagi saat lebaran nanti. Mataku mengembun melihat mereka sudah mulai berkemas padahal baru kemarin datang. Ingin rasanya aku menahan mereka agar tidak pergi, tetapi apalah daya. Sebelum pulang, Mbak Divya request bakso pada Mas Ramzi. Jadilah kami siang ini berkumpul sambil menikmati makanan olahan daging sapi dan ayam ini. "Aku takut ngiler kalau nggak kesampaian makan bakso buatan Ramzi dan ternyata rasanya memang enak," kata Mbak Divya dengan bibir merah karena kepedasan. "Terima kasih, Mbak. Aku senang kalau kalian suka." Aku tersenyum. "Bakso ini enak. Pertahankan rasanya seperti ini, Zi. InsyaAllah kamu akan sukses di masa mendatang." Mas Faris mengacungkan jempol. Mereka yang terbiasa makan di tempat mewah, kali ini tanpa sungkan makan di lesehan dengan menu yang sederhana, tetapi kulihat mereka begitu menikmatinya. Aku berdehem. "Maaf, aku mau membuat pengakuan," ucapku saat semua orang sedang menikmati bakso dalam keheningan dan hanya terdengar suara sendok dan mangkuk yang beradu serta celoteh dari Alisa dan Fara. Semua orang menatapku. "Pengakuan apa?" tanya Mas Akbar. "Sebenarnya aku nggak pernah memberi ibu bakso karena takut ibu nggak suka padahal kenyataannya bakso adalah makanan favorit ibu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini aku mau minta maaf pada ibu dan kakak ipar. Selama ini aku belum bisa menjadi menantu yang baik." Aku menghela napas lega saat kalimat yang begitu panjang itu dapat kuucapkan dengan lancar. Tidak sia-sia tadi aku belajar bicara sendiri di depan cermin. "Setelah ini aku janji akan memberi ibu bakso setiap hari," lanjutku. Ibu tertawa kecil sehingga aku mendongak. "Ines. Bakso memang makanan favorit ibu, tetapi nggak harus makan setiap hari juga, kan? Lagi pula Ramzi setiap hari nawarin ibu bakso, tetapi Ibu tolak. Bukan apa, tetapi akhir-akhir ini gigi ibu bermasalah. Setiap kali makan panas, rasanya nyeri padahal mana enak bakso yang sudah dingin." "Sebenarnya aku merasa minder saat hanya menjadi tukang bakso sedangkan Mbak Divya dan Mas Akbar pekerjaannya keren." Mataku berkedip-kedip untuk menahan gumpalan gumpalan air mata yang siap meluncur. Ibu tersenyum. "Nes, dalam bekerja itu jangan hanya mengejar banyaknya, tetapi kejarlah berkahnya." Ibu beranjak dari duduknya dan mendekatiku. "Sedikit kalau kita terima dengan rasa syukur pasti akan terasa cukup. Itu yang namanya rezeki berkah. Banyak, tetapi tidak bersyukur bisa jadi merasa kurang terus. Uang berlimpah dan jabatan tinggi bukan menjadi tolok ukur kebahagiaan seseorang. Oleh karena itu berdo'alah minta rezeki yang halal dan berkah bukan rezeki banyak. Rezeki banyak kalau tidak berkah buat apa?" "Jangan pernah merasa iri dengan orang lain. Buang rasa itu jauh-jauh dari sini." Ibu meraih tanganku dan meletakkan di d**a. "Rasa iri hanya akan membuat kita malas. Fokus saja dengan apa yang kita kerjakan. InsyaAllah pasti akan berhasil." Aku memejamkan mata dan memeluk erat wanita berhati lembut ini. Kata orang, pelukan seorang ibu itu hangat dan menenangkan. Sekarang aku percaya kata-kata itu bukan hanya isapan jempol belaka. Akhirnya aku bisa merasakan apa yang selama ini kuimpikan. Pelukan hangat seorang ibu. Terima kasih, ya, Rabb. "Oh, aku jadi iri pingin dipeluk ibu juga." Nella mengusap matanya dan beranjak ikut memelukku yang diikuti oleh Mbak Divya dan Mbak Nirma. Setelah acara peluk yang membuat hatiku damai itu, aku berniat untuk mengambil foto sebagai kenangan meski tanpa foto pun apa yang aku alami saat ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Di mana aku mendapat pelukan hangat dari ibu mertua dan juga kakak ipar. Mataku membola saat membuka ponsel dan mendapati ada 19 panggilan tidak terjawab dan 10 pesan yang belum dibaca dari Mbak Ulfa. Aku memang sengaja memasang mode silent setelah dia mengirim pesan berisi hinaan dan menuduhku pencitraan waktu itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN