Dia Mantanku

1483 Kata
KADO UNTUK IBU MERTUA 11 PoV Ulfa "Ulfa!" Segera aku menutup telinga dengan bantal saat mendengar teriakan mertua yang menggelegar. Dinding kamarku sampai bergetar karena teriakan wanita yang sudah melahirkan suamiku itu. Aku tepuk jidat saat melihat jam bulat yang terpasang di dinding baru menunjukkan pu kul enam pagi, tetapi makhluk bernama mertua sudah mulai banyak tingkah. Meski malas, aku tetap beranjak dari ranjang berukuran besar yang sangat lembut dan nyaman itu. Kulihat Mas Romi--suamiku masih meringkuk di balik selimut. Aku berjalan menuju dapur di mana sang mertua berada sebelum panggilannya kembali menggelegar dan memecahkan gendang telinga. Terdengar suara kompor dinyalakan yang disusul dengan minyak dalam wajan yang gemericik dan tidak lama terdengar bunyi bumbu yang digoreng. Hidungku mencium bau bawang goreng yang sangat harum. "Selamat pagi, Ibu mertuaku sayang," ucapku ramah meski rasanya ingin muntah. Wanita bertubuh subur yang sedang sibuk dengan panci dan sotil itu menoleh ke arahku sambil melotot sehingga membuat nyaliku menciut. "Pagi kamu bilang? Ini sudah jam berapa Ulfa? Masih muda kok sudah pikun, sudah siang masih saja dibilang pagi." Aku memutar bola mata malas. Pu kul enam masih termasuk pagi menurutku jika di hari Minggu seperti ini. Biasanya aku sudah bangun jam lima setelah ibu mertua menggedor pintu kamarku disertai suaranya yang khas. Aku mendesah pelan dan meringis. "Ini hari Minggu, Bu." "Terus?" "Mas Romi libur kerja." "Terus kalau Romi libur kerja, kita juga libur makan?" Aku mengerucutkan bibir. "Sudah, nih lanjutkan buat nasi goreng. Aku mau mandi." Ibu memberikan sotil itu padaku. Seperti biasa wajahnya tidak pernah sedap dipandang mata. "Jangan lupa buatkan Ibu jus mangga campur s**u," ujarnya sambil berlalu. Aku mendengkus sebal. Kupukul-pukulkan sotil ke wajan dengan cukup keras. Sebenarnya aku ini menantu atau pembantu, sih? Aroma nasi goreng yang masih mengepulkan asap sedikit mengurangi rasa kesal yang mendera apalagi saat mencicipinya rasanya sangat lezat. Ulfa yang dulu malas dan jarang terjun ke dapur dipaksa oleh keadaan untuk mengerjakan hal yang sebelumnya hanya tinggal memerintah saja. Aku--Maria Ulfa--anak pertama di keluarga ayah dan ibuku. Orang bilang, anak sulung adalah cinta pertama bagi orang tua. Sudah pasti aku menjadi anak kesayangan. Di rumah, aku dilarang mengerjakan semuanya karena sudah ada Ines yang meng-handle. Aku mendesah lalu mengambil piring untuk menaruh nasi goreng, tidak lupa kutambahkan irisan ketimun, telur ceplok, dan tomat. Kutata sedemikian rupa agar terlihat cantik dan sedap dipandang. Kukeluarkan ponsel untuk mengambil gambar dan mengunggahnya sebagai status WA. [Hari Minggu sarapan nasi goreng spesial buatan mama mertua. Hm, yummi. Duh, senangnya punya mertua yang pengertian. Love you, Mom] Aku tersenyum. Status terkirim, tidak lupa ada beberapa kontak aku kecualikan untuk melihatnya termasuk ibu mertua, Mas Romi, dan kakak ipar. Pasti semua orang yang melihat status WA-ku akan iri dan bilang aku adalah wanita paling beruntung di dunia padahal ini hanya pencitraan saja. "Makasih, ya, Ul. Kamu memang menantu yang baik," kata ibu mertua yang baru saja selesai mandi. Bau harum sampo dan sabun menguar dari tubuhnya. Tanpa basa-basi, wanita yang rambutnya masih basah itu mengambil piring di hadapanku lalu memakannya dengan lahap. "Oh, ya, jusnya mana?" tanya ibu mertua dengan mulut penuh. "Tadi aku sudah bilang mau minum jus, kan?" Tanpa mengucap sepatah kata pun, aku segera membuka kulkas untuk mengambil buah mangga. Suara mixer yang berputar terdengar tidak lama kemudian. Aku bergegas ke kamar untuk melihat Zanna Kirania--anak semata wayangku yang baru berusia tiga tahun--apakah dia sudah bangun atau belum. Tadi malam badannya panas sehingga sebentar-sebentar terjaga. "Mama," kata bocah kecil menggemaskan itu. Aku segera mengangkatnya ke dalam gendongan dan membawanya keluar untuk mandi setelah mencium bau pesing karena diapernya sudah penuh. Kuhela napas perlahan. Aku sangat capek menjadi seorang ibu yang harus mengurus anak seorang diri dan masih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Pernah suatu ketika aku meminta Mas Romi untuk mencarikan asisten rumah tangga agar pekerjaanku ringan, tetapi jawaban lelaki bergelar suami itu sungguh di luar dugaanku. "Kalau punya asisten rumah tangga lalu kamu ngapain?" tanyanya seraya mengunyah roti. "Tapi aku capek, Mas. Rumah sebesar ini dan aku harus mengurusnya sendiri. Aku ini istrimu, kan? Bukan babu?" Aku menggelayut manja di lengannya. "Ya karena kamu hanya di rumah saja. Coba kamu seorang wanita karier seperti Elin. Pasti Romi akan mencarikan asisten. Lah, kamunya aja di rumah sepanjang hari," sahut ibu mertua yang sedang asyik menonton televisi. Kepalaku terasa panas. Dadaku serasa dicabik-cabik hingga luka dan berdarah. Wanita tua itu gemar sekali membandingkan aku dengan menantunya yang lain. Sungguh sakit rasanya hati ini. Perih. *** "Duh, anak Mama udah cantik. Kita makan dulu, yuk." Aku mengangkat Zanna dan mendudukkan di kursi. Lalu aku mengambil nasi dan pelengkapnya berupa naget ayam untuk menyuapinya. Dahiku berkerut saat melihat ibu mertua, Mas Romi, dan Adelia--adik iparku yang tinggal satu atap denganku. Mereka bertiga sudah rapi. "Kalian mau pergi ke mana?" tanyaku. "Kami mau menghadiri acara ulang tahun Ezra," jawab ibu mertua santai. Ezra adalah anak Mbak Elin yang kedua dan ini adalah ulang tahun pertamanya. "Aku kok nggak dikasih tahu?" Ibu mengulas senyum sinis. "Kamu nggak usah ikut. Anakmu yang usil itu pasti akan membuat keributan padahal pesta ulang tahun Ezra akan diadakan meriah. Maklum, dia anak kesayangan Elin dan cucu laki-laki satu-satunya yang kupunya." Aku berdecak sebal mendengar ocehannya yang cukup melukai hati ini. "Ayo, kita berangkat, Bu. Nanti terlambat." Mas Romi menggandeng tangan ibunya dan melenggang meninggalkanku bersama Zanna. Dadaku bergemuruh. Kepalaku terasa panas dan berasap, bahkan seolah mengeluarkan tanduk yang siap melukai ketiga orang tidak punya perasaan itu. Namun, aku hanya bisa menggigit sendok saat mobil Mas Romi mulai meninggalkan halaman rumah. Emosiku meledak. Kulempar piring hingga hancur berkeping-keping dan makanan yang seharusnya untuk Zanna itu tumpah berhamburan di lantai. Penyesalan menyusup dalam sanubari saat Zanna menangis histeris melihat tindakan spontan yang kulakukan. Dengan berurai air mata aku memeluk tubuh kecilnya yang terguncang. Ia pasti shock melihat mamanya ini yang seolah kesetanan tadi. Ini semua karena Mas Romi dan wanita tua yang cerewet itu. Lega saat akhirnya Zanna tertidur pulas. Aku mengambil ponsel untuk berselancar di dunia maya. Iya, hanya ini yang bisa kulakukan di tengah rasa capek yang melanda. Hal yang yang paling aku suka adalah mengupload kegiatanku meski sebenarnya berbanding terbalik dengan keadaan yang sebenarnya. Aku selalu membuat status yang baik. Aku ingin menunjukkan ke semua orang kalau aku bahagia meski hanya pura-pura. Ada kepuasan tersendiri saat orang-orang yang melihat statusku kagum dan mengucapkan selamat berbahagia meski terkadang aku merasa capek. Iya, pura-pura bahagia itu sangat melelahkan. Mataku membulat sempurna saat melihat status WA Ines yang berfoto bersama keluarga mertuanya dan memakai seragam yang sama dengan caption 'Bahagia' Aku tersenyum sinis. Mana mungkin Ines yang hanya punya suami punya tukang bakso bisa bahagia. Dia pasti hanya pencitraan di balik penderitaan yang ia rasakan. Punya suami tukang bakso mana bisa bahagia sedangkan aku yang punya suami kantoran, punya mobil mewah, rumah megah, dan terkadang bisa jalan-jalan saja kebahagiaan itu tidak pernah singgah di hatiku, justru penderitaan yang kurasakan. Hatiku panas saat melihat postingan Ines dengan ibu mertua dan para kakak ipar lengkap dengan pasangan masing-masing. Ada rasa gelenyar aneh di dadaku saat menatap lelaki yang memakai baju warna sama dengan gamis Ines dan bergandengan tangan itu. Raut kebahagiaan tercetak jelas di wajah keduanya. Kuhela napas dalam-dalam saat menatap potret kebahagiaan Ines dan suaminya. Aku akui senyum itu begitu tulus bukan dibuat-buat. Mungkinkah Ines bahagia menikah dengan lelaki sederhana itu? Sedangkan aku? Aku hanya pura-pura bahagia menikah dengan Mas Romi--lelaki kedua yang hadir dalam hidupku. Dulu, sebelum menautkan hati pada lelaki yang bernama Romi yang berakhir di pelaminan itu, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki, tetapi hanya berjalan sebentar saja. Kami sama-sama bekerja di sebuah pabrik pengolahan makanan. Setelah hubungan berjalan selama tiga bulan, dia mengutarakan maksudnya untuk menjalani hubungan yang serius denganku dalam artian menikah. Akan tetapi, aku harus berpikir ulang saat ia mengatakan kalau ibunya punya 4 orang anak. Oh, astaga, itu anak apa ternak? Banyak amat. Aku yang hanya bersaudara dengan Ines saja rasanya menyebalkan saat kumpul bersama. Lah, ini malah empat, ditambah lagi kakaknya yang dua orang sudah menikah. Meski aku belum pernah diajak ke rumahnya dan dia juga belum pernah ke rumahku, aku tidak bisa membayangkan saat berkumpul bersama keluarga besar nanti, pasti seperti di neraka rasanya. Panas. Ditambah lagi, pekerjaannya juga belum jelas. Tentu saja belum jelas, dia seorang perantauan. Kalau pulang kampung mau kerja apa? Dengan alasan itulah, aku menolak dengan tegas lamarannya itu. Aku tidak mau masa depanku suram nantinya. Beruntung, lepas darinya aku mengenal lelaki tampan bernama Romi. Dia seorang manager produksi di pabrik tempat aku bekerja. Tidak perlu menunggu lama, aku menerima pinangannya dan akhirnya menikah. Setelah aku menikah dengan Mas Romi, dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dengan alasan ingin melupakan kenangan bersamaku. Namun, aku tidak peduli. Yang penting aku sudah bahagia dengan lelaki yang sesuai dengan kriteria pria idamanku. Tampan, kaya, dan punya masa depan yang cemerlang. Semua itu adalah kunci kebahagiaan. Dan sekarang aku melihat fotonya yang sedang tersenyum bersama sang istri. Iya, dia--lelaki itu bernama Ramzi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN