111

1122 Kata

"Jadi, kapan kau akan menikah?" tanyanya dengan suara yang getir. Aku tahu, mendengarkan perkataanku adalah kepahitan yang ingin dia hindari. Dulu dia pernah begitu menghangatkan hariku tapi tiba-tiba dengan garangnya ia pergi demi wanita lain, ironis sekali. "Dua Minggu lagi, di tanggal dua puluh September," jawabku santai. "Oh, saat cuacanya sedang bagus." "Iya, semoga keadaan mendukung. Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu." Membuka pintu mobil dan hendak naik ke atasnya. "Eh, tunggu." "Ada apa lagi?" "Seperti yang kau tahu kalau aku sudah jatuh miskin. Aku mau kehilangan teman-teman dan keluarga, yang kumiliki hanya ibu dan ayah yang kini sama-sama sakit." "Jadi?" "Uhm, Aku sangat malu karena mendengarkan perkataan Dinda dan tidak bertanya lebih dulu padamu, Aku menyesal men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN