11. entah dari mana lagi

1018 Kata
Entah dari mana aku akan memulai pencarian, saat ponsel suamiku dimatikan aku kesulitan untuk melacak keberadaannya. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah mengecek sosial media Siapa tahu dia memposting keberadaannya. Biasanya suamiku tipe orang yang suka berbagi ke sosial media tentang kegiatannya dan keseruan dia berkumpul dengan teman-temannya. Sayangnya setelah aku menghentikan motor dan memeriksa sosial media ternyata dia tidak memposting apapun. Kucoba untuk mengecek GPS yang ku pasang di mobilnya tapi benda itu sepertinya tidak berfungsi, entah kehabisan baterai atau kehilangan sinyal atau tidak tahu. Untungnya aku segera teringat untuk memeriksa sosial media dokter Okan dan kudapatkan di Instagramnya dia seperti sedang duduk di klub dan minum-minum. Ada beberapa orang pria dan wanita, serta suamiku ada di sisinya. "Apa hubungan mereka sangat dekat seperti kekasih, apa mereka sungguh tidak bisa dipisahkan dan semakin aku marah semakin menjadi-jadi sikap mereka?" Aku berasumsi dalam hatiku dan mulai berpikir keras. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahanku nanti jika aku memergoki mereka sedang berdua-duaan dan mesra. Aku akan memecahkan botol berdiri di kepala lelaki itu kalau sampai ketahuan dia mencumbu suamiku. Tuhan, semakin aku memacu motor dengan cepat semakin gelisah diri ini. Jantungku makin berdebar kencang dan membuatku nyaris saja menabrak seseorang. Aku sangat gelisah dan gugup, aku takut dengan firasat yang kemudian akan jadi kenyataan di depan mata. Aku tetap berharap mereka hanya teman normal yang sedang menghabiskan air pekan bersama, mengingat gestur dia di lapangan tenis tadi aku jadi makin tidak bisa berpikir positif. Aku takut suamiku benar-benar penyuka sesama jenis, aku takut mereka sudah berhubungan sehingga terjangkit penyakit dan kemudian penyakit itu ditularkan padaku. Bukankah hubungan bebas sesama jenis sangat rentan terhadap penyakit dan infeksi. Nauzubillah, jauhkah aku dari kenyataan itu. Kembali kepada foto di sosial media dokter Okan, Aku tidak tahu di cafe mana Dia sedang duduk tapi aku bisa melakukan pencarian di Google dari foto interior tempat itu. Setelah mengunduh gambarnya aku langsung membuka aplikasi Google lens dan langsung mencari tempat relevan yang sama dengan postingan dokter Okan tersebut. Ternyata itu sebuah klub malam terkenal yang ada di pinggir kota, dekat pantai, banyak wanita dan hiburan di sana, klub malam itu seperti pusat entertainment lagi bagi orang-orang yang sudah sibuk bekerja di kantor seharian untuk melepaskan beban pikiran atau cari teman tidur semalam. Astaga, kenapa mereka harus ke sana. Sesampainya di sana aku perkirakan motorku sembari berpikir keras bagaimana cara aku bisa masuk ke kelab. Aku tidak memakai pakaian yang pantas untuk masuk ke sana, seperti mini dress dan sepatu hak tinggi, aku tidak rapi, aku harus cari cara agar aku bisa mengendap. Untungnya petugas keamanan di sana baik, aku bilang aku sedang ingin meredakan stres dan berjanji akan duduk di sudut tanpa mengalihkan perhatian banyak orang, meski dia bilang aturan dress code harus rapi dan menarik, tapi dengan bayaran yang pantas aku kemudian diizinkan masuk. Aku masuk, menyusuri lorong yang penuh warna-warni sorot lampu, suasana di dalam sangat hingar-bingar dengan musik berdentum, muda-mudi berjingkrak di lantai dansa sambil menegak minuman, cahaya lampu yang terus berputar dan berganti menyilaukan mata dan membuatku pusing. Sungguh, tempat seperti ini bukan tempatku. Mungkin aneh karena melihat seorang wanita berjilbab yang rapi dan santun masuk ke dalam klub orang-orang pada melihatku. Tapi aku tak ambil pusing. Kucoba mencari suamiku dari setiap tempat duduk dan mengedarkan pandanganku meski tempat itu semi remang dan mengganggu mataku. Aku kemudian menyusuri ruang VIP, mencoba menemukan suamiku dari satu persatu ruangan yang kuperiksa. Setiap kali masuk ke ruang yang salah, orang yang duduk di sana menatapku dengan heran, sedang aku langsung minta maaf dan bilang kalau aku salah ruangan. "Maaf, saya salah masuk, ruangan yang warnanya sama membuatku lupa." "Tak masalah." Arti akhirnya setelah bolak-balik mencari kutemukan suamiku di ujung ruangan, aku bisa mendengar suara ia tertawa dari luar bersama teman-temannya. Perlahan kugeser pintu dan terlihat dia sedang minum-minum bersama temannya, aku terbelalak dan tidak percaya kalau pria yang selalu menunjukkan diri sangat agamis itu bisa bahagia dan dan menikmati hiruk pikuk kelab malam. Aku berdiri, terpaku melihat dia yang berjuang lalu minum secepatnya kemudian bersorak, Aku tidak percaya bahwa itu suamiku, dia ada di antara para wanita seksi dan teman temannya, dokter Okan ada di sisinya dan terus merangkul suamiku, ian terus mencekoki dan menantang suamiku untuk menghabiskan minuman itu. "Ayo Wid, Kau pasti bisa habiskan minumanmu! Terlalu deh, kalau sampai muntah." "Jangan salah ya, biar aku pendiam dan taat, tapi aku juga punya sisi gelap," jawab Mas Widi terbahak, Ya kembali menekuk dan merayakan kebahagiaan dengan mengangkat gelas yang tinggi-tinggi. "Kalian tahu, tadi siang istrinya melabrakku dan mencemburui diri ini!" "Benarkah, wahhaha, kau bersaing dengan istrinya!" "Konyol sekali, ga level ya!" ujar lelaki itu dengan gemulai, di rumah sakit dia tidak terlihat peminum tapi di luar dia benar-benar menunjukkan sisi gelapnya. Semua orang seolah menertawai kebodohanku mereka terbahak-bahak dan saling menyoraki, mereka seperti merayakan kebodohan serta kepolosanku yang percaya pada suami. Mereka sepertinya tahu segalanya. "Jadi istrinya Si Widi menganggap kamu dan dia punya hubungan?" "Iya..." Suara mereka tertawa sambil bergemuruh. "Dia ga tahu yang sebenarnya," ucap seorang wanita yang nampak mewah dengan setelan One set dress Dior. Wanita itu sangat cantik dan rambutnya tergerai seperti artis Korea. Kulitnya putih bak porselen, hidungnya mancung serta punya lesung Pipit. "Memangnya apa yang sebenarnya?" tanya yang lain. "Yang benar itu...." Wanita itu tidak melanjutkan perkataannya tapi dia malah mendekat ke suamiku dan langsung memeluknya, mas Widi membalas produk wanita itu sambil berkedip kepada teman-temannya sehingga mereka semua bertepuk tangan. Jeder! Aku seolah melihat kilat petir di mataku. Tubuhku langsung lemas dan oleng.Aku terkejut bukan main, aku ternganga dan terperanjat, aku terpaku tanpa bisa bergerak atau berucap. Air mataku tumpah menahan sakit yang tidak terperika. "Jadi kalian punya hubungan?" Tanya seorang wanita yang pakai gaun hitam. "Seperti yang kau lihat," jawab si seksi tadi lalu tanpa malu malu ia mengecup bibir Mas Widi, suamiku membalasnya dengan merangkul pinggang dan memeluknya erat. "Ya Tuhan... Jadi ini kelakuan suamiku yang sebenarnya." Nafasku sesak aku tidak mampu lagi menahan kesedihan dan kenyataan yang benar-benar tidak kuduga ini. Aku terpukul dan syok sekali. Ternyata dia adalah wanita misterius yang ada di pesan TF bank suamiku. Ya Allah, tega sekali mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN