9-Reuni SMA

1789 Kata
Di dalam keramaian aku masih merasa sepi sendiri memikirkan kamu. Kalian tahu lirik lagu itu? Pernah merasakan? Jika iya kalian sama sepertiku. Sekarang aku merasa sepi meski sekitarku sedang ramai. Aku berdiri, menatap sekeliling di mana teman SMA-ku sedang berbincang dan bertemu kangen. Berbeda denganku yang diam sendiri mematung di tengah halaman sekolah yang disulap menjadi tempat area outdoor acara reuni. Sekolahku tak banyak berubah. Catnya masih sama berwarna merah marun. Bangunan sekolah juga masih sama, masih tiga tingkat yang berdiri kokoh mengelilingi lapangan tempatku berpijak. Alumni siswa SMA juga masih sama, masih tak ada yang menganggapku. Bagiku, hanya ada satu yang berbeda. Kehadiran Ahmar. Andai ada Ahmar di sini mungkin sekarang aku sedang bernostalgia mengingat masa putih abu-abu yang kami lalui bersama. Tapi takdir Tuhan berbeda, kini hanya aku sendiri yang bernostalgia. Memikirkannya membuat mataku berkaca-kaca. Buru-buru aku mendongak agar air mataku tidak turun dan membasahi riasan karya Kak Scarla ini. Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang. Rasa sesak itu kembali menghimpit dan aku berusaha menahan air mata itu agar tidak lolos. Hingga tenggorokanku rasanya tercekat karena rasa sesak yang aku tahan. Tes! Usahaku gagal, nyatanya air mata ini dengan mudah lolos membasahi sudut mataku. Mataku hendak terbuka, tapi aku merasakan ada yang menyentuh kelopak mataku, lantas menghapus sudut mataku. “Jangan nangis.” Saat tak lagi merasakan usapan itu, aku membuka mata dengan pelan. Aku melihat Rafif berdiri dengan senyum manisnya. Buru-buru aku mengalihkan pandang. Aku menghapus air mata setelah itu kembali menatap Rafif. “Jangan alasan kelilipan, Za,” ucap Rafif lebih dulu. Aku menahan tawa. Sepertinya alasan itu tak mempan legi, sepertinya aku harus mencari alasan lain. “Ini minum dulu.” Aku melihat gelas berisi cairan merah yang diulurkan Rafif. Aku mengambil gelas itu lalu menatap Rafif yang berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana itu. “Kamu nggak minum?” “Gue tadi udah minum.” Aku mulai meminum cairan merah itu. Rasa sakit yang sempat menghimpit di tenggorokan kini tak lagi terasa, yang ada malah rasa menggelitik efek dari minuman berwarna merah itu. “Mau ke aula nggak? Temen seangkatan kita banyak yang di sana daripada di sini sendirian.” Aku diam, bingung harus menjawab bagaimana. Sebenarnya sampai saat inipun aku enggan ke acara reuni. Hanya saja aku tak bisa menolak Rafif. Tadi sore dia datang ke rumah dan meminta bantuan Kak Scarla untuk membujukku. Awalnya aku masih bisa menolak, tapi Kak Scarla dan Rafif tepat ngeyel. Bahkan Kak Scarla sempat mengeluarkan air mata karena tidak bisa membujukku. Aku yang tidak suka melihat kakakku bersedih akhirnya menyetujui untuk ikut reuni. “Udah yuk ikut!” Aku tersentak saat tanganku yang bebas ditarik oleh Rafif. Dia menarikku ke aula yang berada di sebelah selatan dari tempatku tadi. Saat memasuki aula, aku melihat Flo dan teman lainnya sedang bergurau di tengah ruangan. “Rif, bentar.” Rafif menoleh, menatapku dengan satu alis terangkat. Aku mengangkat gelas yang masih aku pegang dan aku goyangkan pelan. Rafif mengangguk, seolah mengerti apa yang hendak aku lakukan. Setelah itu aku berjalan ke sudut ruangan yang terdapat meja panjang. Aku sengaja berjalan pelan untuk mengulur waktu. Demi Tuhan aku enggan sekali bertemu dengan Flo dan teman sekelas Ahmar lainnya. “Ah kenapa udah sampai mej,a sih,” gerutuku saat aku telah berdiri di depan meja. Aku meletakkan gelas yang aku bawa lantas berbalik. Terlihat Rafif masih berdiri di posisinya dan menatapku. Aku tahu Rafif mungkin sadar kalau aku mengulur-ulur waktu. “Nggak usah mikir aneh-aneh, Za. Kalau mereka ngapa-ngapain lo kan ada gue,” kata Rafif setelah aku berdiri di depan lelaki itu. Ucapan Rafif tak membuatku tenang, aku tetap merasa gelisah. Rafif lalu menggenggam tanganku lantas menarikku mendekat ke arah Flo dan teman lainnya. Saat tinggal beberapa langkah lagi, Flo dan teman-temannya menoleh. Aku bisa melihat tatapan terkejut dari Flo dan teman lainnya. Tanpa sadar aku meremas tangan Rafif yang menggenggam tanganku untuk menutupi rasa gelisahku. “Hai! Gue bawa anggota baru, nih,” kata Rafif memecah perkumpulan Flo. Flo bertolak pinggang dan menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kedua kakiku bergerak gelisah karena ditatap seperti itu. Aku sadar, penampilanku jauh di bandingkan mereka. Aku mah apa, hanya kerupuk yang tak sebanding dengan mereka yang ibarat keju. “Fif, ngapain sih lo ngajak pembunuh ini?” “Flo, lo ngomong apa, sih?” “Ngapain, sih, lo bela dia?” Aku mendengar perdebatan antara Flo dan Rafif. Tatapanku tertuju ke Flo, lalu memaksakan senyuman. “Kamu ngerasa terganggu, Flo?” “Jelaslah. Bahkan dari dulu lo itu pengganggu!!” “Flo!!” geram Rafif. Perlahan aku melepas genggaman tangan Rafif. Dia menoleh terlihat tak suka dengan tindakanku ini. “Fif, aku pergi aja ya. Daripada mereka nggak nyaman,” bisikku. “Enggak, Za. Nggak ada yang terganggu. Lo nggak usah dengerin Flo.” Aku menoleh ke teman-teman Flo. Mereka menatapku datar, seperti yang mereka lalukan dulu. Seketika aku membuang muka. Melihat mereka yang tak menyukaiku membuat luka lama itu kembali terasa. “Hey, Guys! Kalian tahu nggak, sebenernya yang bikin Ahmar meninggal itu nih cewek. Gara-gara dia ngerengek pulang, Ahmar yang mabuk rela nganter nih cewek pulang. Sampai kecelakaan itu terjadi. Pembunuh tapi masih bisa berkeliaran. Adil nggak tuh!!” Flo berkata cukup kencang. Hingga orang yang berdiri di sudut ruanganpun menoleh ke arahku. “Jadi gara-gara lo Ahmar meninggal?” “Wah parah nih cewek. Keliatannya aja polos, tapi jahat juga.” Aku memejamkan mata menahan rasa sakit mendengar ucapan mereka. Lalu aku merasa ada yang melingkupi tubuhku hingga kepalaku bersandar di sana. “Kalian udah dewasa. Kecelakan itu musibah, takdir yang udah digariskan Tuhan. Bukan malah salah-salahin kayak gini,” kata Rafif. “Tapi tetep aja, Fif. Kalau nih cewek nggak minta pulang kecelakaan itu nggak bakal kejadian,” elak Flo. “Nggak ada yang tahu takdir Tuhan, Flo!!” teriak Rafif. Perlahan aku membuka mata, melihat siswa lulusan lain tengah mendekat ke kerumunanku. Mereka menatapku dengan berbagai ekspresi. Namun, yang lebih dominan ekspresi kaget. Lama-lama aku tidak kuat lagi ditatap seperti ini. Buru-buru aku menyentak lengan Rafif dari tubuhku lantas aku berlari meninggalkan aula. “Za!! Zahya!!” Samar-samar aku mendengar suara teriakan Rafif, tapi aku tidak peduli. “Udahlah, Fif, biarin aja. Lo di sini sama kita,” kata Flo yang masih dapat aku dengar. Aku menutup telinga agar tidak mendengar suara menyakitkan itu. Empat tahun berlalu, nyatanya mereka sama sekali tidak berubah, masih menganggapku sebelah mata.   ***   “Hiks.” Tangisku tak bisa aku bendung lagi. Aku mengeluarkan rasa sakitku di halaman belakang sekolah. Setelah aku keluar dari aula aku memutuskan ke tempat ini. Tempatku menangis saat masih sekolah dulu, dan tempatku berpacaran saat menginginkan suasana tenang. Aku menekuk kedua lutut dan memeluknya erat. Kepalaku aku sandarkan di sana. Mataku terpejam dan aku kembali menangis. Aku tidak peduli rokku akan kotor karena aku duduk di tanah. Aku tidak peduli riasanku luntur karena air mataku. Rasa sesak itu begitu besar dan aku bukan tipe gadis tegar yang bisa menahan air mata agar tidak lolos. Aku adalah Zahya gadis cengeng. “Zahya.” Panggilan itu membuat isakanku tertahan. Aku mendongak dan menemukan Rafif berdiri tidak jauh dari tempatku. Aku menyandarkan kepalaku lagi. Kali ini aku tidak menyembunyikan tangisku, toh percuma juga disembunyikan. “Gue yakin kalau lo bakal lari ke sini.” Aku merasakan ada pergerakan di sebelahku. Perlahan aku menoleh dan mendapati Rafif duduk di sebelahku. “Rif, kotor.” “Biarin. Biar sama kayak lo.” Aku diam saja tak ingin terlalu mendebatnya. “Jangan dengerin omongan anak-anak, ya. Mereka cuma kemakan omongan Flo.” “Gimana aku gak dengerin, aku punya telinga.” Rafif terkekeh karena jawabanku. Sebenarnya aku tak berniat melucu. Aku hanya bicara apa adanya. “Tapi jangan diambil hati. Jangan jawab kalau gimana gak ngambil hati aku punya hati.” Mendengar ucapan Rafif, giliran aku yang terkekeh. Lelaki itu mencoba melucu sepertinya. Aku mengangkat kepala lantas menoleh ke Rafif. Dia tengah menyandarkan kepalanya di batang pohon. “Za, gue mohon lo jangan dengerin omongan anak-anak, ya. Lo nggak salah sama sekali.” “Kadang aku ngerasa emang pembunuh Ahmar.” “Zahya!!” Rafif menyela ucapanku. Dia menoleh sambil menggeleng, tak setuju dengan ucapanku barusan. Kedua tangan Rafif lalu menarik tanganku dan menggenggamnya erat. “Ahmar di surga pasti sedih kalau gadis yang dia cinta nyalahin diri sendiri kayak gini. Lo nggak mau kan Rafif sedih?” Aku menggeleng. Mana mungkin aku tega membuat lelaki yang aku cintai sedih. “Makanya itu jangan mikir aneh-aneh. Oke?” “Akan aku coba.” Senyum Rafif mengembang mendengar ucapanku. Hingga perhatianku tertuju ke anak daun yang menyelip di antara rambutnya. Aku melepas genggaman tangan Rafif lantas mengambil daun itu. “Ada daun, nih.” Rafif melihat daun yang aku tunjukkan. Dia mengambil daun itu dan membuangnya ke belakang tubuh. “Daunnya nafsu banget sama gue.” “Haha mana ada daun nafsu?” “Ya siapa tahu.” “Hahaha!” Aku terbahak dengan candaan itu. Lalu aku menatap Rafif yang memakai kemeja hitam dan jas hitam dengan motif vertikal itu. Dari penerangan yang minim, aku bisa melihat pipi Rafif yang bersemu. Melihat itu aku terkekeh, sedikit aneh karena ada lelaki yang bersemu seperti itu. “Za, ngetawain apa, sih?” “Hemp..” Aku menutup mulut agar tawaku tidak terdengar kencang. Rafif menatapku penuh tanya sambil mengangguk tengkuknya yang tak gatal. “Pipimu merah Fif, kenapa?” Mendengar ucapanku Rafif buru-buru mengalihkan pandang. Tindakan itu membuatku semakin berteriak. Rafif ternyata bisa salah tingkah juga. Dulu lelaki itu terkenal cool dan nggak peka dikalangan cewek-cewek. “Gue seneng lo bisa ketawa karena gue.” Tawaku seketika terhenti mendengar kalimatnya. Rafif menatapku dengan tatapan lembut. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tatapan itu. “Udah yuk, kita pulang aja! Mumpung Mbak kunti belum keluar,” ajaknya tiba-tiba. “Rafif!!” Aku menjerit saat lelaki itu menyebut salah satu jenis hantu. Buru-buru aku berdiri dan membersihkan dress selututku dengan kedua tangan. Rafif ikut berdiri dan membersihkan celananya. “Telat banget takutnya. Harusnya dari tadi takut.” “Tadi nggak inget Fif.” “Ada-ada aja, sih.” Aku berjalan lebih dulu dan menjauh dari halaman belakang. Baru dua langkah aku merasakan tangan Rafif menarikku membuatku menoleh ke belakang. Aku mendapati Rafif tersenyum lembut ke arahku. “Jangan nangis lagi, ya. Air mata lo terlalu berharga buat nangisin hal yang nggak penting.” Mendengar ucapannya aku sedikit tenang. Benar yang dibilang Rafif. Air mataku harus aku gunakan untuk menangisi orang yang berarti di dalam hidupku, bukan untuk orang yang tidak menganggap kehadiranku. “Makasih ya, Fif.” “Anytime.” Aku dan Rafif berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Diam-diam aku menatap Rafif dari samping. Aku mulai nyaman dengan sahabat Ahmar yang satu ini. Rafif terlihat tulus dan peduli kepadaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN