14-Mimpi yang Kembali Datang

1420 Kata

“Senjanya indah ya, Ca!” Aku menoleh ke tempat Panca duduk. Seketika tubuhku menegang melihat siapa yang duduk di sebelahku. Aku menatap lekat lelaki yang menatapku itu. Wajahnya terlihat putih bercahaya. Semakin tampan sejak terakhir aku melihatnya. “Ahmar,” panggilku lirih. Ahmar tersenyum miring, senyum andalannya tapi mampu membuatku terpana. Air mataku tak bisa aku bendung lagi. Aku menangis. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu dengannya. “Kenapa nangis, Sayang?” Mendengar pertanyaannya malah membuat tangisku semakin pecah. Aku rindu suaranya. Aku rindu cara dia memanggilku dengan panggilan sayangnya. Dengan cepat aku mendekat dan memeluk Ahmar erat. “Aku merindukanmu, Mar.” Aku merasakan kehangatan dalam dekapan Ahmar. Lalu aku menyandarkan kepala di dadanya. Kedua t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN