Pergi Ke Kota

2801 Kata
"....ie." " ..Fie." " Fie!" panggil Gale sedikit meninggikan suaranya. Sejak tadi Gale memperhatikan Fie, pemuda itu tetap asik mengamati jendela dengan tatapan yang begitu serius. Gale telah memanggilnya untuk beberapa kali, namun masih tidak ada respon yang berarti dari pemuda tersebut. Setelah dia meninggikan suaranya, Fie akhirnya mendengar suaranya dan segera bersujud karena terkejut. "Ma-maafkan Saya atas kelancangannya Yang Mu-mulia" ujar Fie terbata-bata. Jantungnya berdebar begitu keras, saat berhadapan dengan suara Gale yang belum pernah meninggi kepadanya. Gale segera panik melihatnya. Dokter selalu mengingatkannya untuk tidak membuat Fie terlalu takut, atau penyakitnya mungkin bisa kambuh kapanpun dia lengah. "Bangun lah Fie.... Aku tidak bermaksud mengejutkanmu... Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gale sambil membantu Fie duduk di kursi yang sekarang menjadi tempat favorit Fie, kursi panjang ruang kerja Gale yang biasa ia duduki sambil membaca buku. Fie mengangguk pelan. Mungkin kepalanya hanya sedikit sakit karena terantuk lantai saat bersujud tadi. Tapi tidak mungkin ia mengatakannya, itu terlalu konyol untuk dikatakan. "Keningmu merah, apa aku harus memanggilkan Dokter Fie?" tanya Gale khawatir. Fie buru-buru menolak, ini hanya memar karena terantuk, bahkan luka dalam sekalipun hanya dibiarkan begitu saja saat dia masih menjadi b***k dulu. Bagaimana bisa sekarang luka sekecil itu harus dibesar-besarkan sampai memanggil Dokter? Gale buru-buru kembali ke mejanya, mengambil salep yang telah dipersiapkan Dokter jika Fie membutuhkannya dan mengoleskan salep itu perlahan pada dahi Fie. Jade sudah dianggap sebagai patung disini, tidak dipedulikan jika Fie sudah terluka. Lagi-lagi semburat merah menjalar di kedua pipi putih Fie. Pangeran memang sudah sering menunjukan perhatiannya. Namun tetap saja dia masih belum terbiasa jika Pangeran menyentuhnya dengan wajah yang begitu dekat. "Wajahmu memerah? Sudah kubilang seharusnya aku memanggil Dokter Fie!" sungut Gale kesal. Dia baru saja akan melangkah keluar untuk meminta penjaga memanggil Dokter sebelum sepasang tangan kecil dengan takut-takut menahan ujung pakaiannya. "Sa-saya baik-baik saja Yang Mulia..... Itu..... Ini akan segera menghilang" ujar Fie malu-malu. Gale tidak mau terlalu memaksa Fie, sehingga akhirnya dia menyerah dan kembali duduk di dekat Fie. "Tapi kamu benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Pangeran lagi-lagi khawatir. Perhatian seperti ini, jelas-jelas ada sesuatu diantara mereka. Jade berusaha sibuk dengan dokumen yang ia kerjakan, berusaha mengalihkan matanya dari pemandangan yang begitu romantis terjadi di depannya. Jika saja dia bukan Kepala Administrasi Negara yang diwajibkan seruangan dengan Pangeran setiap hari, maka wanita itu pasti dengan senang hati rela untuk dipindahkan. Siapa yang ingin terus-menerus pura-pura tidak ada saat ada dinding invisible yang muncul jika Gale sudah mulai menunjukan perhatiannya? Fie lagi-lagi mengangguk, dengan obat dari Dokter, sebuah memar pasti tidak akan bertaham lama ditubuhnya sekarang. Gale menyerah, tangannya yang besar bergerak untuk menyisir rambut Fie yang begitu halus dan kini terawat. Dia selalu suka melakukannya, terasa lebih lembut dari rambut manapun yang pernah ia pegang sebelumnya. " Jadi apa yang kamu lamunkan tadi hmm?" tanya Gale pelan. Fie ragu untuk menjawab, namun akhirnya bergerak untuk membuka suaranya. "Saya melihat pemandangan kota Yang Mulia. Kegiatan di kota begitu ramai pada waktu seperti ini, Saya hanya merindukan saat-saat dimana Saya bisa beraktifitas seperti mereka," ujar Fie jujur. "Namun itu bukan berarti Saya benci berada disini Yang Mulia. Hanya saja..... Saya....." "Aku tahu apa yang kamu pikirkan Fie. Tidak apa, aku tidak akan marah padamu," balas Gale lembut. Dia juga tahu apa saja yang dialami Fie berkat informasi yang ia terima dari para bawahannya. Hidup Fie begitu kelam dalam lingkaran yang disebut 'b***k'. Gale yakin, pelariannya adalah kali pertama Fie kembali keluar setelah sekian lama, dan semenjak tinggal di istanapun, belum pernah sekalipun Fie keluar selain pergi ketaman depan kamarnya. Gale melirik Jade penuh arti, membuat wanita berusia 23 tahun itu merasakan perasaan tidak enak yang biasa ia rasakan jika Pangerannya merencanakan sesuatu. Mata teduh itu kembali memandang Fie yang bergerak gelisah takut salah bicara. Perlahan Gale mengangkat dagu Fie untuk bertatap muka dengannya, muka yang selalu dipenuhi kelembutan dan rasa sayang yang tidak mudah untuk diungkapkan. "Lihat aku Fie. Sebenarnya, aku juga memiliki rencana untuk berkeliling Ibukota untuk mengecek segala pertumbuhan yang ada. Selagi hari ini cerah, bagaimana kalau kita berangkat hari ini saja?" tawar Gale manis. Jade sudah menebak, dan hanya bisa menertawakan nasibnya yang mendadak sial sekarang. Jika Pangeran pergi sekarang, maka sudah pasti bahwa- Mata Gale akan memandangnya dengan penuh 'senyum indah' kemudian berkata dengan manis, "Lagipula ada Jade yang selalu siap mengurus urusan istana hari ini, bukankah itu benar Jade?" Lihat saja, ini juga sama seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Mau tidak mau Jade mengangguk formal. Terpuji lah perempuan itu dengan segala gila kerjanya, sehingga tugas sebesar ini tidak akan terlalu sulit ia lakukan karena terbiasa. Belum sembuh kebingungan Fie, Gale dengan semangat segera menarik tangan Fie untuk keluar dari ruangan terkutuk itu. **** "Kalian, segera menyebar dan jangan terlalu dekat dengan kami berdua. Aku akan melakukan observasi yang cukup dengan Fie berada disisiku. Bersembunyilah dan jangan buat keributan di kota ini" ancam Gale dingin pada deretan pengawal yang berbaris rapih untuk mengawal mereka. Keduanya memakai pakaian rakyat biasa, dengan rambut palsu yang menempel di kepala mereka. Tema kunjungan kali ini memang observasi secara diam-diam. Para pengawal juga, mereka telah menerima intruksi dari Gale untuk memakai pakian rakyat biasa untuk mencegah kepanikan. Kereta kuda biasa berangkat dari istana, dan berhenti begitu mereka sampai di pusat kota. Pandangan Fie sedari tadi tidak lepas dari jendela kereta kuda, kagum dengan pemandangan yang kini tersaji didepannya. Saat waktu itu dia di kota, Fie terlalu sibuk memikirkan hidup kecilnya sehingga tidak sempat melihat lemandangan kota yang begitu menawan ini. Gale menarik kepalanya untuk kembali masuk dengan lembut. "Hati-hati, kepalamu bisa terbentur kereta lain nanti" peringat Gale. Fie mengangguk patuh. Matanya bersinar terang melihat pemandangan kota sekali lagi. Gale di lain sisi, begitu terpesona melihat sosok Fie saat ini. Dengam baju lolita manis, dicampur wig hitam panjang seperti perempuan, ia bahkan jauh lebih cantik daripada wanita manapun yang pernah ia temui. Gale sedikit memaksa untuk memakaikan Fie pakaian itu, karena satu-satunya wig yang tersisa untuknya hanyalah wig hitam panjang yang akhirnya dipadukam dengan baju lolita cantik koleksi penata pakaiannya. Awalnya Fie terlihat malu saat memakainya, namun setelah melihat pemandangan kota yang begitu indah, tampaknya Gale tidak perlu mengkhawatirkan hal ini lagi. Kereta kuda telah berhenti, sementara Gale adalah yang pertama turun diikuti oleh Fie. Kereta kuda pengawal lainnya menyebar di beberapa tempat, pergi ke posnya masing-masing untuk mengawasi keselamatan oangerannya. " Waaa...." tanpa sadar Fie mengeluarkan suara yang begitu imut saking senangnya melihat keramaian Ibukota dari dekat. Dia mengabaikan, bahwa faktanya Gale melihatnya seperti berniat memakan Fie bulat-bulat saat itu juga. Menahan nafsunya, Gale meraih tangan Fie lembut lalu mulai membawanya berkeliling. Beberapa orang terlihat menyapa mereka, bukan sebagai bangsawan, namun sebagai rakyat biasa seperti yang lainnya. Tanpa terasa, Fie sudah tidak akan mampu memendam rasa dendam pada orang-orang yang nyatanya ramah. Sepanjang jalan Gale menjelaskan, bahwa rakyat Ibukota memang selalu diteror para pedagang b***k sehingga tidak ada yang berani menyelamatkan Fie waktu itu. Tidak masalah, sejak kecil Fie memang punya masalah dengan kata 'dendam' sehingga tidak sulit baginya untuk mulai menyukai kota ini. Mereka tidak diijinkan membeli makanan diluar istana, protokol istana memerintahkannya begitu kecuali toko itu sudah memiliki lisensi khusus dari istana. Dan dari ratusan toko yang tersebar diseluruh Ibukota, ada satu toko elegan yang berhasil mendapatkan lencana itu. Itu ada toko D'Ye, toko kue terenak se-Ibukota yang kebetulan pemiliknya masih memiliki hubungan dengan Gale. Deen, pemilik kafe itu merupakan teman sekolah Gale, anak bangsawan hebat yang lebih memilih membuka kafe sejak muda dan meninggalkan keluarga Ayahnya. Mereka berdua masuk dengan biasa, namun Gale segera berjalan ke kasir untuk menunjukan kartu hitam khusus yang Fie tidak tahu gunanya apa. Kasir itu segera membungkuk hormat dan mengantar mereka ke lantai atas yang sepi pengunjung. Pemandangam kota terlihat jauh lebih indah dari atas sini, disiapkan khusus jika keluarga istana berkunjung secara diam-diam. Tidak lama setelah pelayan itu pergi, muncul seorang lelaki cantik berambut panjang yang melambai akrab pada Pangeran. Fie yang sedang sibuk mengangumi segalanya kembali fokus pada lelaki itu. Tersenyum simpul sambil membungkuk kecil. "Gale, siapa kucing manis yang kau bawa kali ini? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya" tanya lelaki cantik itu akrab. Dia bahkan dengan berani memanggil Pangeran dengan namanya, membuat Fie dalam hati bertanya-tanya tentang hubungan mereka yang sebenarnya. "Dia Fie, asisten baru milikku Deen." Mungkin hanya perasaan Fie, saat ia mendengar Gale menekankan kata milikku pada perkenalannya. Lelaki cantik bernama Deen itu tertawa, menampakan senyuman manis yang memukau hati Fie. "Akhirnya aku mengenalnya Gale. Hei, namaku Deen, teman sekelas Gale sewaktu sekolah. Salam kenal kucing manis" ujar Deen sambil mengulurkan tangannya. Fie membalasnya dengan malu, yang segera dipisahkan oleh Gale saat tahu Deen tidak mau melepaskan pegangannya. Deen tertawa kecil. "Aku hanya bercanda kecil Gale. Hei, bawakan kami satu set teh terbaik dengan camilan dan satu s**u hangat untuk kucing manis ini." Pelayan dibelakang mereka mengangguk, segera turun kebawah untuk menyiapkan pesanan. Kini di lantai itu hanya ada mereka bertiga. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan sampai pelayan kembali naik tidak lama kemudian. Mereka menyiapkan segala hidangan di meja dengan elegan, sebelum kembali pergi untuk memberi privasi. Keluarga istana bukanlah pegangan mereka, satu kesalahan saja bisa menghilangkan kepala mereka di sini. Gale mengambil segelas s**u hangat untuk Fie lalu diberikan kepadanya setelah memastikan keamanannya. Fie baru saja hendak mengambil gelas itu sebelum Gale kembali menjauhkannya. "Wig mu, kau bisa melepasnya disini. Rambut panjang itu pasti membuatmu mudah kepanasan," ucap Gale khawatir. Dengan telaten dia membantu Fie melepas wig tersebut, menampak rambut silver terang yang begitu menarik untuk dilihat. "Wow Gale, dia benar-benar indah dilihat dari sisi manapun," puji Deen sungguh-sungguh. Dia bukan lah tipe orang yang mudah memuji seseorang. Namun melihat Fie hari ini, bibirnya tidak bisa menahan untuk terus mengucapkan kata pujian dari sana. Gale memandang Deen dengan sengit, tatapan mata yang Deen begitu hafal jika Gale diganggu 'kepemilikannya'. "Dia milikmu Gale. Berhenti melihatku seolah kau akan menghukum gantungku sekarang juga," canda Deen kecil. Keduanya berhenti berdebat, apalagi saat melihat Fie dengan imut meminum perlahan s**u hangat itu. Perlahan dia menjulurkan lidahnya, mengukur suhu s**u sebelum meminumnya secara perlahan. Dilihat darimanapun, semua orang setuju bahwa Fie terlihat seperti kucing manis yang kelaparan saat tengah melakukannya. Keduanya meneguk ludah, terbuai dengan tampilan makan imut dari lelaki polos itu. Bahkan mereka hanya sedikit makan karena sudah terlalu 'kenyang' melihat sesi makan Fie. Setelah makan pun, Gale masih dengan telaten membersihkan sisa s**u pada sela-sela bibir Fie, sukses membuat wajah imut itu memerah malu. Gale mengeluarkan beberapa obat dari botol yang ia simpan disakunya, menyerahkan itu pada Fie untuk segera ia minum. Bahkan untuk Deen sekali pun, ini adalah kali pertamanya ia melihat Gale mau melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh Pelayannya. Perhatian seperti ini, jelas-jelas merupakan perasaan cinta. Namun obat yang dikonsumsi Fie terlalu banyak sehingga membuat Deen bertanya-tanya penyakit macam apakah yang membuatnya harus bergantung pada obat seperti ini? Kekasih Putra Mahkota adalah orang yang penyakitan. Bukankah itu akan terlihat aneh? Apalagi jika kekasihnya itu adalah seorang laki-laki. Pernikahan sesama lelaki dikalangan bangsawan memang bukan hal yang aneh dalam negara ini. Namun pernikahan itu biasanya dilakukan oleh dua bangsawan hebat untuk saling mendukung kedepannya. Penikahan politik, mungkin itu lebih tepatnya. Deen belum pernah melihat pasangan laki-laki sedekat ini walau berbeda strata, apalagi jika lelaki yang satunya tergolong lemah. Menjadi pasangan seseorang yang nantinya akan menjadi Raja bukanlah hal yang mudah. Tidak peduli pria di depannya adalah keindahan alami, dengan kondisi tubuhnya jelas-jelas akan banyak pihak yang menentang hubungan mereka. Gale dengan sabar mengelus rambut Fie sebelum kembali memasangkan wig hitam itu dikepalanya. Fie diam saja menerima semua perlakuan manis Gale, takut membuat malu Tuannya itu didepan teman satu sekolahnya. Gale tidak tahan lagi melihat wajah Fie yang memerah malu. Dia sedikit tertawa lalu mengelus pelan pipi Fie yang memerah. "Kembalilah ke kereta dahulu Fie. Aku akan menyusulmu nanti," titah Gale singkat. Fie mengangguk ragu, menundukan badannya untuk memberikan Denn salam perpisahan lalu perlahan berjalan menuju tangga lantai satu. Sepeninggal Fie, baru lah wajah Gale berubah dan memandang tajam Deen yang juga menyadari perubahannya. " Apa maksudmu dengan padangan menyebalkan itu Deen?" tanya Gale dingin. Deen tahu dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi sekecil apapun dari Gale, apalagi jika itu menyangkut 'malaikat kecil'nya. "Kamu yakin akan menyimpannya disisimu Gale? Dia akan banyak mengalami kesusahan dengan tubuh lemahnya itu" ucap Deen jujur. Brak " Dia akan sembuh Deen! Jangan pernah kamu berani menyebut calon ratuku sebagai orang yang lemah!" bentak Gale frustasi. Entah kenapa, dadanya selalu sesak saat mendengar seseorang mengatakan Fie bertubuh lemah selain dirinya. Dia adalah penyebab kenapa Fie berakhir seperti ini, bukan salah Fie, dan dia belum bisa memperbaikinya. Deen cukup terkejut melihat Gale yang terkenal tenang dan berkepala dingin dimanapun kehilangan kendalinya karena satu pemuda. Hal ini membuktikan, bahwa Gale benar-benar serius terhadap Fie, apalagi sampai menyebutnya sebagai calon ratu. Gale menghela nafas panjang saat tahu dia telah kehilangan kendali didepan Deen. Deen sebenarnya tidak salah, sebagai teman yang baik dia memang selalu ada untuk menasihati Gale. Gale kembali duduk, memijat hidungnya frustasi. "Aku tidak tahan membayangkan betapa bodohnya aku dulu sampai membuatnya seperti ini. Dia akan selalu bersamaku mulai sekarang, namun tetap terasa sakit saat melihatnya menderita karenaku. Aku menyayanginya Deen, namun akulah penyebab mengapa dia menderita sampai sekarang." Deen tahu apa yang terjadi antara Gale dan Fie di masa lalu. Deen tahu bagaimana perjuangan Gle semenjak itu, dan sedikit tahu bagaimana sakitnya Pangeran tersebut saat mendengar bahwa Fie yang ia cari selama ini hidup di kawasan p********n. Deen tahu bagaimana sayangnya Gale terhadap pemuda itu dari tatapan matanya. Tidak ada harapan lagi untuknya, dia hanya bisa melihat Gale bahagia bersama orang lain sekarang. Dulu, Deen selalu membenci sosok yang telah menyita seluruh perhatian Gale sejak ia masih sekolah. Seakan hidupnya hanya didedikasikan untuk orang bernama 'Fie' ini. Namun melihatnya sekarang, rasa benci itu seolah menguap entah kemana, setelah ia bayangkan betapa banyak yang anak itu korbankan hanya untuk Gale. "Jangan terlalu menyalahkan dirimu Gale. Aku yakin dia juga tidak akan senang melihatmu seperti ini. Dan...... Jikapun dia akan menemui masalah kedepannya, aku janji akan menjadi orang pertama yang akan mendukungmu dengannya." Gale sedikit tenang setelahnya. Ia ingat bahwa Fie masih menunggunya di kereta, segera bangkit untuk memeluk Deen dengan hangat. " Terimakasih Deen. Kau memang teman terbaikku." Teman terbaik, Deen seharusnya puas dengan ikatan ini. **** Begitu Gale keluar dari kafe, dia begitu terkejut ketika melihat Fie masih berdiri didepan kafe dengan pipi yang mulai memerah. Cuaca sudah mulai dingin, karena hari mulai menjelang sore. Gale segera berlari menghampiri Fie, dan mmnemukan bahwa suhu tubuhnya memang telah naik dengan tangan yang begitu dingin. Panik, Gale segera membawa Fie kembali ke kereta dan kembali ke istana secepat mungkin. Dia bahkan tidak memiliki waktu untuk memarahi Fie karena begitu ceroboh malah menunggunya ditengah cuaca dingin seperti tadi. Baru lah, setelah Dokter memberinya obat dan kembali makan walau pertamanya Fie menolak, Gale mulai memarahinya. "Apa kamu tidak mendengar perintahku? Aku memintamu untuk menungguku didalam kereta, bukan malah menungguku didepan kafe bodoh!" omel Gale kesal. Fie menatap selimutnya sendiri, tidak berani menatap wajah Gale yang tengah marah. "Aku pikir...... Tidak sopan seorang pelayan menaiki kereta sebelum Tuannya. Aku tidak menyangka bahwa daya tahanku selemah ini," lirih Fie takut-takut. Percuma. Saat Fie sudah memakai alasan naif ini pada Gale, Pangeran itu hanya bisa menghela nafas berat dan mengalah demi kebaikan Fie. Lelaki itu tidak boleh terlalu banyak berfikir, apalagi sekarang ia tengah demam. Ah, ngomong-ngomong, Gale baru mengingat sesuatu dan dengan semangat merogoh kantong bajunya untuk mengeluarkan sebuah kotak. Kotak itu terlihat sangat indah. Dari tampilannyapun, semua orang dapat menebak bahwa kotak itu bukanlah barang murah yang mereka bisa temukan dimana saja. Kotak itu dibuka, diperlihatkan kepada Fie yang kagum melihat sebuah cincin indah yang terdapat di dalamnya. Cincinnya tidak terlihat feminim namun dibuat dari bahan kualitas terbaik, ditempa oleh pandai besi terbaik dan diukir dengan untaian kalimat yang begitu indah. "Aku adalah malaikat penjagamu," baca Fie pelan. Tulisan singkat itu mengandung makna yang begitu kompleks bagi Gale. "Pakai cincin ini untukku Fie," pinta Gale lembut. Tidak menunggu persetujuan dari Fie, dia segera memakaikannya cincin itu dengan lembut. "Aku tadi membelinya, dari toko yang biasa aku kunjungi," jelas Gale. Sebenarnya cincin ini telah Gale pesan sejak lama, namun dia memang telah berjanji hanya mengambil cincin itu setelah dia menemukan Fie. Sekalian tadi di Ibukota, dia memutuskan untuk mengambilnya disaat waktu telah begitu tepat. "Tapi ini...." "Aku memerintahkanmu memakainya Fie. Tidak ada bantahan, mengerti?" potong Gale seperti biasa. Fie menyerah, hanya merasa tidak enak diberi hadiah semewah ini oleh Pangerannya. "Sekarang waktunya kau untuk tidur Fie. Selamat malam." "Se-selamat......" Cup " ...... Malam." Ucapan Fie terhenti saat Gale dengan berani mencium keningnya sayang disaat ia masih sadar. Wajah Fie memerah sempurna, namun tidak mampu mengucapkan apapun saking kagetnya. Gale keluar dengan senyum penuh kemenangan. Ciuman semacam itu, hanya itu yang bisa membuatnya tidur nyenyak semenjak Fie datang dalam hidupnya. Pintu tertutup, meninggalkan Fie dengan jantungnya yang terus melompat. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN