Dia Pacar Gue

1054 Kata
Anka menjadi tontonan banyak orang. Di sepanjang koridor sekolah ia diperhatikan sesekali menertawainya. Anka mengernyitkan keningnya memandangi dari kaki sampai meraba-raba pipinya. Apa ada yang salah dengannya hari ini? Seragamnya rapi seperti biasa. Dia juga tidak mengenakan make up seperti teman-temannya yang lain. Ia hanya menggunakan bedak tabur dan lip balm. Itu pun tipis-tipis. Kalau tidak diperhatikan dengan baik, Anka seperti tidak memakai riasan apa pun di wajahnya. Anka semakin tidak nyaman saat murid laki-laki menggodanya. Berusaha menjawil lengan atau pipinya. Anka menjauh ke sisi kanan, tapi murid laki-laki dari sisi kiri malah menggodanya lebih gila. Mereka bersiul keras-keras sambil menyerukan kata-kata yang tidak pantas. “Semalem berapa sih?” Anka mempercepat langkahnya. Tidak mempedulikan godaan serta ejekan murid-murid di sekolahnya. Sampai ke dalam kelas pun Anka masih jadi tontonan. Anka terkejut mendapati mejanya penuh coretan dan sampah makanan. Anka menghela napas berusaha menahan dirinya agar tidak terpancing. Semakin lama mereka makin keterlaluan. Memangnya apa salah Anka? Apa Anka pernah mengganggu kehidupan mereka? Anka terpaksa membersihkan mejanya sendirian. Tanpa bicara apa pun, cewek itu memunguti sampah di mejanya lalu membuangnya ke dalam keranjang sampah yang ada di dalam kelas. Saking banyaknya sampah di meja, kerangnya tidak muat. Anka menghela napas lalu duduk di kursinya. Bisik-bisik teman kelasnya bisa Anka dengar. Dari kata-kata biasa sampai yang paling kasar pun ia mendengarnya. Anka mengusap-ngusap dadanya berusaha sabar. Kelas tiba-tiba saja hening setelah kemunculan tiga orang murid perempuan dari kelas sebelah. Ketiga cewek itu mampir ke meja Anka lalu menggebrak meja Anka keras-keras. Ketiga cewek itu adalah murid populer di sekolah ini. Cewek paling tinggi dan punya rambut sepunggung itu namanya Jela. Cewek paling cantik, juga Kapten Cheersleader. Jela menarik lengan Anka dibantu dua temannya Nola dan Casella. Nggak tahu ada urusan apa ketiga cewek itu mencari Anka yang selama ini nggak pernah mencari keributan. Jela dan dua temannya itu menggeret Anka keluar kelas. Entah mau dibawa ke mana. Tapi yang jelas, Anka nggak akan selamat. Bisa jadi bulan-bulanan Jela sama dua temannya yang punya hobi membully. *** Jela membawa Anka ke gudang sekolah yang gelap dan pengap. Jela dan Nola masuk ke dalam, sedangkan Casella menjaga di luar pintu. Mereka muak dengan wajah tanpa ekspresi Anka. Kelihatannya aja dingin, tapi nggak tahunya murahan. Tubuh Anka didorong sampai menabrak dinding kusam gudang sekolah. Anka meringis, punggungnya terasa ngilu. Nola menangkup pipi Anka kasar. Cewek berambut sebahu itu tertawa mengerikan lalu menarik rambut Anka kuat-kuat. Anka bertanya berulangkali kepada Nola mau pun Jela. Kenapa ketiga cewek itu menariknya keluar dari kelas dan membawanya ke gudang ini? Anka sama sekali tidak merasa pernah membuat masalah dengan Jela atau pun teman-temannya. “Murahan lo ya.” Jela mendekatkan wajahnya. “Udah ngaku-ngaku diperkosa, sekarang kegatelan sama cowok-cowok di sekolah. Udah ngerasa cantik lo?” Jela mencengkram lengan Anka. “Gue kasih tahu ya. Lo itu buruk rupa. Nggak akan sepadan bersaing sama gue.” “Bersaing?” Anka mendesis. Ia tidak bisa bergerak karena kedua tangannya yang ditahan Nola. “Maksud lo apa?” tanya Anka pelan. Ia meringis kesakitan. Jela memberi kode kepada Nola untuk mengeluarkan sesuatu dari kantong seragamnya. Jela membuang lembaran foto ke depan wajah Anka. Anka hanya bisa menundukkan kepalanya memperhatikan foto-foto yang berserakkan di lantai. Itu foto diambil di depan rumah Gino, kan? Anka mendongak. Ia hendak bertanya, tapi Jela sudah lebih dulu marah-marah. “Punya hubungan apa lo sama Jona sampai bisa keluar-masuk tiap hari di sana?” tanya Jela. “Yang gue tahu Jona tinggal sama dua temen kakaknya. Sama-sama cowok juga,” gumam Jela tersenyum sinis. “Lo jual diri di sana?” Nola ikut tertawa di samping Jela. Anka menggeleng, ia refleks. “Gue kerja di sana!” “Kerja apa?” Nola menyahut. “Kerjaan lo bobo-bobo bareng sama temen-temen Jona? Gatel ya, lo!” “Gue kerja jadi pembantu di sana,” sahut Anka. Ia merasa kesakitan saat Nola mencengkram lengannya. “Kalau lo nggak percaya, lo tanya Dirana.” “Halah! Lo sama Dirana juga sama!” Coba saja Jela bicara seperti itu di depan Dirana secara langsung. Apa masih berani? Jelas dia menarik Anka, bukan Dirana. Karena tahu kalau Jela tidak akan bisa mengalahkan Dirana biarpun dia bertiga. “Gue kasih tahu lo ya,” Jela mendekat lalu berbisik. “Jangan pernah deketin Jona,” bisik Jela. “Kalau sampai gue lihat lo masih keluar-masuk di sana, gue bakal abisin—” Gudang yang gelap mendadak jadi terang karena sorotan cahaya matahari dari pintu yang terbuka lebar. Jona berdiri di ambang pintu dengan wajah yang marah. Rahangnya mengeras memandang Nola dan Jela tajam. Sontak Nola melepaskan tangan Anka dan bergerak mundur. Jela masih di tempatnya. Cewek itu malah tersenyum sambil manggut-manggut. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Jona. Anka sudah duduk lemas di lantai dengan keringat membasahi keningnya. Jona mendekati Anka dan membantu cewek itu berdiri. Jela tertawa mendengus melihat Jona terlihat perhatian pada Anka. Cewek itu merasa harga dirinya sebagai murid paling cantik dan populer diinjak-injak. Apa mata Jona sedang bermasalah? Di sini ada Jela yang jauh lebih cantik dari Anka, tapi Jona tidak pernah meliriknya. Sudah ia lama ia menyimpan rasa kepada cowok itu. Ia sering memperlihatkan sinyalnya secara terang-terangan. Tapi Jona terlihat nggak peduli. “Punya hubungan apa lo berdua!” teriak Jela tidak terima. Anka tidak bisa berdiri. Kedua kakinya lemas. Matanya hampir tertutup, semuanya terasa berat. Jona menggendong Anka. Cowok itu benar-benar tidak membuka suaranya sedikit pun. Membuat Jela tambah frustrasi. Bagaimana bisa ada cowok seperti Jona? “Jo! Jona!” Jela menjerit keras-keras. Ia merasa dipermainkan. “Gue tanya hubungan lo apa sama Anka!” Jona masih tidak merespons. “Je,” Nola menarik Jela. Tapi ditepis dengan kasar. “Diem lo!” sentak Jela. Jona sudah hampir di ambang pintu. Ia sama sekali tidak tertarik dengan cewek gila seperti Jela. Jangan karena dia disanjung-sanjung banyak cowok di sekolah dia jadi merasa paling cantik dan dengan kejam menindas teman-temannya yang dianggap tidak populer seperti dirinya. “Kalian pacaran?” Jela menebak-nebak. “Lo pacaran sama Anka?” tanya Jela dengan satu tarikan napas. Jona berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang menatap Jela. “Anka pacar gue.” Jela nggak terima. Jela nggak rela kalau cowok yang disukai malah pacaran dengan si upik abu sekolah! Jela berteriak seperti orang gila memanggil Jona. Tapi cowok itu seolah tidak peduli. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN