Ia merindukan kedua orang tua dan juga adiknya. Jona pulang ke rumah orang tuanya hari ini. Tapi, saat ia masuk ke dalam rumah, ia menemukan dua orangt ua yang mengaku sebagai Kakek dan Nenek kandungnya.
Seperti biasa. Dua orang tua itu menatap angkuh Mama dan papanya. Kata-kata yang keluar dari mulut Kakek dan neneknya benar-benar menyakitkan. Untung saja papanya orang yang sabar. Kalau mamanya sih, kelihatan pengin nyakar aja.
Jona mendengarkan obrolan ke empat orang itu di ruang tamu. Kakek dan neneknya terus menanyakan dirinya dan mengatakan akan mengajak Jona tinggal di rumah mewah mereka. Kata si Kakek, rumah orang tua angkat Jona hanya setengah dari rumahnya. Rumah yang ditempati Jona sejak kecil itu dianggap sempit dan pengap.
Jona meringis. Memangnya rumah Kakek dan neneknya sebesar apa sampai rumah orang tua angkatnya di hina begitu? Apa sudah semewah rumah kerajaan di Inggris? Ini yang di hina keluarga Alexander lho, yang punya perusahaan besar dan anak perusahan di mana-mana.
Berkali-kali Leo menahan Ryani agar tidak membalas ucapan Nenek Jona yang pedas dan menyakitkan hati. Leo melirik Ryani, satu matanya ia kedipkan agar istrinya itu tetap duduk dengan tenang di sampingnya. Leo tahu kalau keluarga kandung Jona memang terkenal sombong dan suka menghina orang-orang yang menurutnya kecil. Ah, kalau saja Leo bisa menyombongkan semua harta keluarga Alexander, apa mereka masih bisa menghinanya?
Kalau menurut mereka rumah ini kecil, tidak apa-apa. Leo tidak akan marah. Tapi, perlu mereka tahu, kalau rumah yang mereka hina-hina ini adalah tempat yang paling hangat. Di rumah ini, ia hidup bersama istri dan anak-anaknya. Tempat anak-anaknya tinggal, tempat anak-anaknya yang paling nyaman dan hangat.
Leo berani bertaruh, kalau Jona disuruh memilih tinggal di sini, di rumah—yang
kata mereka kecil dan sempit—dengan rumah mewah Kakek dan Nenek Jona, pasti putranya itu akan memilih tinggal di sini bersamanya.
Leo menghela napas. Kata-kata mereka menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan kalau ia dituduh memanfaatkan Jona demi harta warisan yang Jona miliki. Mereka gila!?
Sejak kecil Leo hidup berkecukupan. Sangat. Cukup. Leo saja tidak akan bisa menghabiskan hartanya sendiri. Kenapa harus merampas milik orang lain? Dia menyayangi Jona dengan tulus. Tidak ada niat jelek sedikit pun. Apalagi demi harta!
Jona mendengarkan Kakek dan neneknya yang menghina Mama dan papanya. Jona menggeram, ia kira, setelah ia tinggal di tempat lain, Kakek dan neneknya akan berhenti meneror kedua orangtuanya. Tetapi, semakin lama makin keterlaluan.
“Kalau saya ketemu sama Jona, saya akan ajak dia tinggal di rumah kami yang besar!” Mulut Nenek Jona sudah hampir berbusa mengulang-ngulang kata, 'rumah besar kami'. Ryani bosan mendengar ocehan orang tua ini.
“Benar,” sahut si Kakek. “Jona satu-satunya cucu kandung kami, kami akan mempertahankan Jona!”
Ryani tergelak. Membuat dua wajah orang tua di depannya menggeram marah. Bisa-bisanya perempuan ini menertawainya. Apa ada yang lucu?
“Kamu kenapa ketawa!?” seru Nenek Jona marah. Urat-urat di lehernya sampai kelihatan. “Punya sopan nggak kamu!” cetusnya marah.
Ryani meredakan tawanya. Ia berdeham dibuat-buat. “Tante sama Om juga nggak punya sopan. Dateng ke rumah orang marah-marah! Salam dulu kek!”
“Kamu yang nggak sopan umpetin cucu saya!” Nenek Jona maju selangkah.
Ryani tidak takut. Kalau dia tidak sopan, sudah sejak tadi ia mendorong Nenek Jona sampai jumpalitan.
“Umpetin cucu Anda?” Mata Leo menajam. Tiga kata itu, 'umpetin cucu saya' terasa tidak pantas untuk diucapkan. “Apa Anda tidak ingat saat di rumah sakit? Anda menolak cucu Anda sendiri? Apa perlu saya ingatkan? Mungkin saja Anda mulai kehilangan daya ingat Anda.”
“Jangan kurang ajar kamu!” seloroh Kakek Jona tidak terima istrinya di pojokan.
“Saya tidak berniat kurang ajar, tapi, saya mengingatkan bagaimana Anda menolak cucu Anda sendiri di masa lalu,” kata Leo tajam.
Kakek dan Nenek Jona sontak terdiam menahan suara di tenggorokkan. Tentu saja mereka tidak lupa, hanya saja, mereka tidak mau mengakuinya.
***
Sekolah sedang heboh!
Seorang wanita dengan dandanan ala sosialita itu tiba-tiba datang dan menampar Anka di depan murid-murid lain. Pelajaran belum di mulai karena guru mereka terlambat datang karena urusan keluarga. Wanita itu datang sambil menenteng tas tangannya yang super mahal lalu menghantam wajah Anka dengan tasnya dengan keras.
Sontak suasana jadi tegang. Apalagi Anka yang tiba-tiba mendapat perlakuan kasar pun syok berat. Ujung bibir Anka berdarah, sebelah pipinya membiru begitu wajahnya dihantam tas berat wanita itu. Anka mengenal wanita itu dengan baik.
“Tante,” Anka mendesis menahan rasa perih di sudut bibirnya.
“Masih berani kamu manggil saya, Tante!?” Wanita itu berteriak kalap.
Kelas Anka sudah penuh dengan para penghuni sekolah. Bukan hanya teman-teman sekelasnya. Tapi murid-murid dari kelas lain pun berbondong-bondong datang ke kelasnya dengan wajah penasaran. Anka jadi tontonan seisi sekolah.
“Ayo bicara di luar, Tante,” Anka hendak berdiri, tapi bahunya ditahan tantenya.
“Duduk kamu!” sergah tantenya kasar. “Kenapa harus di luar? Kenapa nggak di sini aja? Kamu malu? Kamu malu kalau sampai teman-teman sekolah kamu tahu kalau kamu sudah diperkosa sama anak saya?!”
Anka menelan ludahnya susah payah. Kepalanya tertoleh ke setiap sudut yang telah dipenuh oleh teman-teman sekolahnya. Ekspresi mereka hampir sama, terkejut. Anka menahan ringisannya, rasa perih di sudut bibir dan pipinya yang panas terasa menghilang dalam hitungan detik saja, dan digantikan rasa sakit di dadanya.
“Kenapa kamu diem?” tanya wanita itu melirik Anka tajam. “Kamu malu mereka semua tahu?” tunjuknya kepada teman-teman sekolah Anka yang mengerubungi mereka berdua.
Kelas yang semula lenggang berubah menjadi sesak. Sesesak d**a Anka. Hampir saja Anka jatuh pingsan karena kesulitan bernapas. Tatapan teman-teman sekolahnya seolah mengintimidasinya, bahkan cara mereka berbisik seolah membenarkan kalau yang dibilang tantenya memang benar.
Anka memejamkan mata sesaat. Ia berusaha tenang, ini tidak benar. Apa yang dibilang tantenya itu tidak benar!
“Kamu sengaja bilang ke suami saya kalau Jafa perkosa kamu, kan!?” Wanita itu tidak hanya memaki Anka dengan kata-kata kasarnya. Tetapi juga main fisik. “Saya kenal sama anak saya, mana mungkin Jafa melakukan itu sama kamu! Kamu itu buruk rupa, nggak sebanding sama anak saya yang tampan dan mapan!” Ia menghina Anka di depan banyak orang. Bibir tipis perempuan itu tersungging senyuman sinis. “Kamu sengaja nyebarin berita itu supaya Jafa nikahin kamu? Iya?” Matanya bergerak menyeramkan. Membuat Anka tidak bisa mendapatkan udara di sekitarnya.
Anka meremas ujung roknya kuat-kuat. Ia tidak sanggup berada di sini. Di sini, ia merasa jadi orang yang paling bersalah. Dan orang-orang yang mengerubuninya seolah ikut menghakiminya dengan tatapan-tatapan mencemooh mereka. Anka menggeleng, ia berusaha menguatkan diri dan mematahkan kata-kata tantenya. Ia ingin berteriak, itu salah! Itu semua salah! Tapi lidahnya sulit untuk digerakkan.
“Tante, saya...,” kalimat Anka berhenti ditengah-tengah ditenggorokkan. Matanya tiba-tiba berkabut sampai-sampai ia tidak bisa memandang orang-orang di sekelilingnya dengan jelas.
“Kalian harus tahu kalau teman sekolah kalian ini MURAHAN!” Wanita itu menunjuk Anka berulang-ulang. “Demi mendapat anak saya yang sudah mapan, dia melakukan banyak cara! Kalian harus hati-hati sama gadis macam Anka!” kelas Anka pun makin riuh dengan suara teman-teman sekolah Anka.
“Nggak. Itu nggak bener...,” air mata Anka pun pecah juga. Ia membangun benteng itu sudah sejak lama, dan sekarang terpaksa ia hancurkan sendiri setelah mendengar hinaan serta makian tantenya sendiri.
Anka menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya berjatuhan ke rok abu-abunya membentuk bulatan-bulatan kecil. Anka tidak berani mengangkat kepalanya lalu berteriak kalau apa yang dibilang tantenya itu salah.
Anka tersentak. Ia merasakan seseorang menarik tangannya sampai membuatnya refleks berdiri. Dengan takut-takut Anka mendongakkan kepalanya menatap orang itu. “Jo...” Anka susah payah memanggil nama Jona. Ia ditarik begitu saja menerobos teman-teman sekolahnya yang memenuhi kelas.
Dia sekarang menjadi sorotan banyak pasang mata. Karena ia dihina bahkan ditampar di depan banyak teman-teman sekolahnya. Dan sekarang, Jona yang tiba-tiba datang lalu menariknya keluar dari kelas mereka.
Tante Anka berteriak memerintahkan dua remaja itu untuk berhenti meninggalkan kelas. Jona tidak merespons panggilan serta kata-k********r yang keluar dari mulut wanita itu. Jona terus menggenggam tangan Anka seolah tidak mendengar bisikan-bisikan mahluk di kelasnya.
To be continue---