Bagian 44

1724 Kata
Sambil di bantu Yo Han dan Ibunya, Bitna berjalan masuk ke dalam apartemen mereka. Pergelangan kaki kiri Bitna dibalut oleh perban. “Hati-hati jalannya,” ucap Seung Ah. Nada bicaranya terdengar khawatir. Tentu saja, menantu kesayangannya mengalami cedera. Bagaimana bisa Seung Ah tidak khawatir. “Ini gara-gara kau!” Seung Ah memukul pelan lengan Yo Han. “Kenapa aku yang salah?” protes Yo Han. “Kalau tidak buru-buru melepaskan pelukanmu tadi, kalian pasti tidak akan jatuh,” Yo Han memutar bola matanya malas. Jelas-jelas bukan hanya dia yang buru-buru melepaskan pelukan, tapi Bitna juga. Kecelakaan ini bukan hanya salahnya, tapi salah Bitna juga. “Sudah-sudah, terus berdebat siapa yang salah tak akan membuat kaki Bitna cepat sembuh.” Yong Bae melerai istri dan putranya. “Sekarang biarkan Bitna istirahat.” “Ini bukan salahnya, aku juga salah tadi.” Bitna ikut menimpali, agak merasa bersalah karenanya Yo Han di omeli oleh ibunya. “Duduk di sini.” Seung Ah membantu Bitna duduk di sofa ruang tamu, wanita paruh baya itu tampak berhati-hati saat meletakkan kaki Bitna di atas meja. Di bawah pergelangan kaki Bitna, Seung Ah meletakkan bantal. “Kau mau apa? Minum? Makan?” tanya Seung Ah. “Dia hanya terkilir, jangan berlebihan.” “Kau ini, kau pikir terkilir itu tidak sakit? Sini ibu tarik kakimu!” Yo Han refleks berjalan mundur. Takut sang ibu benar-benar menarik kakinya. Sepertinya ibunya jauh lebih sayang pada Bitna dibanding dirinya. Jika ibunya tahu kalau saat di Paris Bitna sempat kabur dan berakhir tersesat, pasti riwayatnya akan tamat. Ibunya tak akan memberikan ampun padanya. “Sebentar, aku angkat telepon dulu,” ucap Yo Han lalu masuk ke dalam kamar. Bitna menatap suaminya itu. Dia penasaran siapa yang menelepon Yo Han sampai pria itu harus menjauh dari mereka untuk mengangkatnya. Akhir-akhir ini Yo Han juga begitu. Yo Han selalu menjauh setiap kali mendapat telepon, padahal sebelumnya walau mendapat telepon dari klien atau apa pun itu Yo Han akan menjawabnya di depan Bitna. “Bitna-ya, apa sampai kakimu sembuh ibu menginap saja di sini?” “Ha?” Mata Bitna berkedip-kedip. Ia lalu melirik kamarnya dan kamar Yo Han bergantian. Untuk berjaga-jaga dia dan Yo Han memang sudah menatap kamar pria itu seolah-olah mereka pakai bersama. Padahal sebenarnya mereka tidur di kamar terpisah. “Tidak perlu, aku takut merepotkan ibu.” “No, no, no. Sama sekali tidak merepotkan. Ibu malah merasa tidak tenang meninggalkanmu berdua dengan Yo Han, dia itu super sibuk. Pasti sulit untukmu melakukan semua hal sendiri.” Bitna tersenyum canggung. Otaknya sekarang sedang mencari cara bagaimana dia bisa menolak mertuanya agar tidak menginap di sini. Jika Seung Ah menginap, pasti mertuanya itu akan tahu kalau kamar tamu selama ini masih dia pakai. Dan Seung Ah akan curiga. “Sudah, tak perlu menginap. Yo Han pasti bisa menjaga Bitna dengan baik. Kalau kau menginap justru akan mengganggu mereka.” Bitna menatap Yong Bae. Mertuanya itu sangat bisa diandalkan, seolah dia bisa membaca pikiran Bitna saat ini. “Tapi, aku tidak tega meninggalkan Bitna bersama anak nakal itu. Bitna jadi begini kan juga gara-gara Yo Han,” protes Seung Ah. Rasanya dia tidak tenang meninggalkan Bitna bersama Yo Han dengan keadaan kaki seperti itu. Apa lagi Yo Han yang jarang ada di rumah karena sibuk. “Sudahlah, Yo Han pasti bisa menjaga dan mengurus istrinya dengan baik. Jangan terlalu ikut campur.” Yong Bae menarik tangan istrinya untuk berdiri. Pria itu lalu berpamitan pada Bitna. Semakin lama di sana istrinya pasti tak akan mau pulang nanti. “Bitna, ayah dan ibu pulang dulu. Salam untuk Yo Han ,ya. Jangan terlalu banyak bergerak, kau harus banyak istirahat.” “Iya, terima kasih sudah ikut mengantarku pulang.” Bitna sedikit menganggukkan kepalanya pada Yong Bae. Yong Bae segera menarik Seung Ah keluar dari apartemen putra mereka. Walau sebenarnya. Seung Ah merasa berat meninggalkan Bitna, tapi jika tak segera diajak pulang istrinya itu pasti akan benar-benar menginap di sana. Setelah mertuanya benar-benar pergi. Bitna menatap pintu kamar Yo Han. Gadis itu merasa penasaran dengan siapa Yo Han berbicara. Kenapa sampai harus menjauh darinya? Seperti Yo Han sedang menyembunyikan sesuatu darinya. *** “Halo?” ucap Yo Han setelah menempelkan ponselnya ke telinga. Pria itu lalu melirik ke pintu kamar memastikan pintu itu sudah tertutup dengan benar. “Halo, aku merindukanmu,” kata seorang wanita di seberang telepon. Itu Soo Jin. “Soo Jin-ah, maaf karena tidak sempat menghubungimu. Akhir-akhir ini aku sibuk karena acara tahunan yang di adakan perusahaan. Lalu juga ada produk baru yang akan kami luncurkan bulan depan, jadi aku benar-benar tidak punya waktu untuk menghubungimu.” “Tidak apa-apa, aku tahu kau pasti sibuk. Bagaimana kabar Bitna? Semua baik-baik saja?” “Bitna?” Yo Han mengusap dahinya. Mengingat apa yang terjadi pada Bitna hari ini membuatnya tiba-tiba sakit kepala. “Keadaannya sedang tidak baik-baik saja.” “Kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya Soo Jin khawatir. “Kakinya terkilir tadi, dan itu salahku,” jawab Yo Han kembali mengingat bagaimana kaki Bitna terkilir tadi. “Apakah parah?” “Tidak, kata dokter butuh waktu sekitar 2 minggu sampai kakinya benar-benar sembuh.” “Syukurlah, kau harus menjaganya dengan baik. Ingat kau sudah berjanji pada ayahnya.” Yo Han tersenyum mendengar ucapan Soo Jin. Wanita itu benar-benar dewasa. Setelah tahu alasannya menikahi Bitna, Soo Jin tak pernah merasa cemburu atau kesal setiap kali dia membicarakan gadis itu. “Kau tak cemburu jika aku menjaga Bitna dengan baik?” Soo Jin terkekeh di sebarang sana. “Untuk apa aku cemburu, aku cukup tahu bahwa hanya aku wanita yang kau cintai. Lagi pula kau bersikap baik pada Bitna bukan karena kau menyukai atau memiliki perasaan pada gadis itu, kau bersikap baik karena sudah berjanji pada mendiang ayahnya untuk menjaga Bitna.” “Inilah alasan kenapa aku sangat menyukaimu, kau sangat dewasa dan pengertian.” “Aku tahu.” “Aku tutup teleponnya dulu, ada orang tuaku dini. Nanti akan aku hubungi lagi.” “Baiklah, aku juga harus pergi bekerja. Aku mencintaimu.” “Aku juga.” Setelah sambungan telepon terputus Yo Han meletakkan ponselnya ke atas nakas samping tempat tidur, lalu bergegas keluar. “Yak!!!” teriak Yo Han saat melihat Bitna berusaha berdiri. “Kau mau ibu mengomeliku lagi, bagaimana kalau kau jatuh lagi?” Yo Han bergegas menghampiri Bitna dan menyuruh Bitna kembali duduk ke sofa. “Tapi aku hanya ingin mengambil minum di kulkas,” ucap Bitna. Dia merasa seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Padahal dia hanya mencoba berdiri untuk mengambil minum karena haus. “Kau punya mulut, kan? Harusnya panggil.” Bitna memutar bola matanya malas. Bagaimana dia bisa memanggil Yo Han, jika tadi dia melihat pria itu sedang asyik bertelepon dengan entah siapa. “Kau minum apa? Jus? Cola? Air dingin?” “Air dingin saja.” Yo Han berjalan menuju dapur untuk mengambilkan Bitna minum. Pria itu mengambil gelas di dalam lemari lalu mengisinya dengan air yang ia ambil dari kulkas. “Ini.” Yo Han menyodorkan segelas air dingin pada Bitna. “Ayah dan ibu sudah pulang?” Bitna mengangguk lalu meneguk segelas air pemberian Yo Han . Rasanya sangat menyegarkan saat air itu masuk ke dalam tenggorokannya. “Ibu bilang tadi mau menginap.” “Menginap? Lalu kau bilang apa? Kau mengizinkan ibu untuk menginap? Kamar tamunya kau pakai, ibu pasti curiga.” Yo Han memberondong Bitna dengan pertanyaan membuat telinga gadis itu serasa berdengung karena Yo Han berbicara dengan sangat cepat, mirip laju kereta. “Tentu aku menolaknya, kau pikir aku bodoh?” Yo Han menarik napas. Untung saja ibunya tak jadi menginap. Keadaannya akan jadi rumit jika ibunya sampai menginap dan berakhir curiga pada mereka. “Siapa yang tadi meneleponmu?” Yo Han memandang istrinya dengan kikuk. “Tadi?” Bitna mengangguk sambil memasang raut wajah penasaran. Dia ingin tahu siapa yang menelepon Yo Han. Bola mata Yo Han tampak bergerak-gerak karena gugup. “Klien, ada hal penting yang kami bahas tadi,” jawab Yo Han kemudian. “Oh.” Yo Han lalu kembali melirik Bitna, gadis itu tampak sudah tidak penasaran lagi. Dalam hati Yo Han berpikir apa begini rasanya menjadi suami yang berselingkuh? Pernikahan mereka memang hanya kesepakatan di atas kertas, tapi status mereka tetaplah istri. Lalu dia yang menjalin hubungan lagi dengan Soo Jin bukankah ini juga disebut sebagai perselingkuhan? Yo Han menelan ludah saat tiba-tiba terbayang jika Bitna tahu hubungannya dengan Soo Jin. Meskipun polos, Yo Han tahu Bitna adalah gadis yang cerdas. Gadis itu pasti akan langsung tahu kalau dia selama ini membohonginya. Bitna pasti akan sangat marah, mengingat gadis itu memiliki harga diri yang tinggi. “Kau kenapa?” Bitna menatap Yo Han aneh. Pria itu seperti anak kecil yang takut ketahuan telah memecahkan piring ibunya. “Tidak apa-apa,” sahut Yo Ha cepat. Yo Han kembali menatap Bitna, gadis itu sekarang sedang sibuk dengan ponselnya. Selama Yo Han bisa merahasiakan hubungannya dengan Soo Jin sebaik mungkin, Bitna pasti tidak akan pernah tahu apa alasan sebenarnya dia menikahi gadis itu. *** Yo Han menatap Bitna yang duduk berhadapan dengannya. Mereka sedang sarapan bersama. Biasanya Bitna yang bertugas menyiapkan sarapan, tapi kali ini karena kakinya sedang sakit jadi Yo Han yang harus menyiapkan sarapan. Tak mau repot-repot Yo Han hanya menyiapkan roti panggang dan telur mata sapi dan juga segelas jus jeruk. Menurutnya itu sudah cukup untuk menganjal perut. “Apa?” Yo Han menatap Bitna. Dari cara gadis itu memandangnya Yo Han tahu Bitna pasti minta diambilkan sesuatu. “Bisa kau ambilkan aku saus tomat?” pinta Bitna. Yo Han menarik napas lalu berdiri untuk mengambilkan saus tomat. Sejak kaki Bitna terkilir, dari pada seorang suami Yo Han merasa lebih mirip pesuruhnya Bitna. Entah gadis itu sengaja atau tidak, tapi Bitna terus-terusnya menyuruhnya untuk mengambilkan sesuatu yang mungkin bisa Bitna ambil sendiri jika dia berusaha. Yang parah adalah kemarin. Bitna minta dibelikan cheese cream dari cafe terkenal di dekat kampusnya. Dan Yo Han harus membelikannya saat hujan deras melanda Seoul dan Gangnam kemarin. Setiap mengingat kejadian kemarin Yo Han sangat merasa kesal. “Ini.” Yo Han meletakkan sebotol saus tomat di depan Bitna. “Terima kasih,” ucap Bitna sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi. Yo Han menatap sebal ke arah Bitna. Dia yakin hari ini tak akan jauh berbeda dengan kemarin. Gadis itu pasti akan menyuruh-nyuruhnya. Memanfaatkan kakinya yang sakit untuk mengerjai Yo Han.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN