My Husband 42 - Rahasia

1882 Kata
Flash back Apartemen Soo Jin Soo Jin menatap Yo Han bingung. Kedua alisnya mengernyit. Rahasia? Apa rahasia di balik pernikahan Yo Han dan Bitna? “Kau ingat cerita di mana aku pernah hampir mati karena terjebak di dalam rumahku yang terbakar?” “Ya.” Soo Jin ingat dulu Yo Han pernah bercerita bahwa pria itu hampir mati terjebak dalam ruamhnya yang terbakar. “Saat itu usiaku 10 tahu, ayahku baru memulai merintis bisnisnya dan itu sangat sulit. Ayah Bitna banyak membantu kami, saran hingga investasi dana, semuanya beliau lakukan. Beliau sama sekali tak peduli apakah bisnis ayahku akan berjalan lancar atau sebaliknya. Yang ia lakukan hanya mendukung ayahku sepenuh hati.” “Hingga suatu hari rumah kami terbakar, ayah, ibu, dan Yoo Rin berhasil menyelamatkan diri. Sedangkan aku masih terjebak di dalam. Ayah berusha kembali masuk tapi tak bisa, karena terlalu berbahaya. Kau tahu siapa yang akhirnya menyelamatkanku?” Yo Han menatap Soo Jin. “Ayah Bitna?” tebak Soo Jin. Yo Han mengangguk. “Beliau dengan berani masuk ke dalam rumah dan menerobos kobaran api untuk menyelamatkanku. Jika hari itu beliau tidak ada mungkin aku tidak akan selamat.” Soo Jin terdiam mendengarkan cerita Yo Han. Ia sedikit demi sedikit mulai memahami alasan kenapa Yo Han menikahi Bitna. Mungkin pria itu ingin membalas budi pada ayah Bitna. “Kau menikahinya untuk balas budi?” “Lebih dari itu, ayah Bitna memang sangat berjasa dalam kesuksesan perusahaan ayahku, dan juga telah menyelamatkan hidupku. Jauh sebelum beliau menghilang, beliau adalah orang yang paling aku hormati setelah ayah dan ibu.” Soo Jin mengerutkan dahi. “Ayah Bitna menghilang?” “Kau pernah mendengar tentang JM Company?” “Ya, itu adalah perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang, kan? Hotel, pusat perbelajaan, bahkan makanan dan minuman. Bukankah perusahaan itu sudah bangkrut 5 tahun lalu?” Semua orang di Korea pasti tahu tentang JM Company. Itu adalah perusahaan besar yang bergerak dalam berbagai bidang. Namun sayang sekali perusahaan itu bangkrut 5 tahun lalu. “Itu perusaan milik ayah Bitna.” Soo Jin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pantas saja saat pertama kali bertemu Bitna, Soo Jin merasakan aura yang berbeda dari gadis itu. Walaupun pakaian Bitna terkesan sederhana dan jauh dari kata mewah, tapi gadis itu tidak bisa menyembunyikan aura konglomerat dalam dirinya. “Sejak perusahaan milik ayahnya bangkrut Bitna dan seluruh keluarganya menghilang. Ayahku sudah berusaha mencari di mana keberadaan mereka, tapi semua usaha itu tak membuahkan hasil. Hingga setelah 5 tahun berlalu aku akhirnya menemukan beliau.” Yo Han ingat saat ia berhasil menemukan Kim Chul Sik di akhir musim panas tahun lalu. Dia merasa hangat bahagia setelah berhasil menemukan sosok ayah keduanya, tapi Chul Sik menolak saat Yo Han mengajak pria itu bertemu ayahnya. Dia bilang tak mau merepotkan ayah Yo Han, ia juga menolak semua bantuan yang Yo Han berikan. Chul Sik hanya meminta Yo Han untuk menjaga dan memastikan Bitna hidup dengan layak dan bahagia. Selama ini Bitna sudah hidup menderita karena dirinya yang selalu berhutang pada rentenir. Sebulan setelah pertemuan itu Yo Han mendengar bahwa Chul Sik telah meninggal dunia karena serangan jantung. Saat mendengarnya Yo Han bergegas pergi ke pemakaman pria itu, dan di sanalah ia pertama kali bertemu Bitna dewasa. Tatapan kosong gadis itu pada setiap pelayat yang datang sungguh mengiris hatinya. Meskipun Bitna tak terlihat menangis di pemakaman Yo han tahu gadis itu pasti merasa sangat kehilangan atas kepergian ayahnya. Sejak saat itu Yo Han berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Bitna, memastikan gadis itu hidup dengan layak dan bahagia. Seperti permintaan mendiang ayah Bitna padanya. Itulah alasan kenapa Yo Han menikahi Bitna. “Jadi alasanmu menikahi Bitna adalah untuk menjaganya?” Yo Han mengangguk. “Dia hidup sebatang kara, ibunya menghilang sejak perusahaan ayahnya bangkrut. Selain itu, mendiang ayahnya juga meninggalkan hutang yang tak sedikit. Gadis itu hidup dalam kejaran rentenir, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.” “Apa Bitna juga tahu alasan kenapa kau menikahinya? Maksudku kau bilang jika Bitna juga tidak mencintaimu, kan? Kalian menikah karena kesepakatan.” Yo Han menggeleng. “Jika dia tahu tentu gadis itu akan menolakku mentah-mentah. Meskipun terlihat lembut dan penurut, gadis itu punya harga diri yang tinggi.” “Lalu apa yang kau lakukan sampai akhirnya dia mau menikah denganmu?” tanya Soo Jin penasaran. Jika Bitna punya harga diri yang tinggi, tentu akan sulit meyakinkan gadis itu untuk menikah dengan Yo Han. “Aku bilang kalau aku ini gay.” Soo Jin hampir saja menyembur Yo Han dengan kopi yang baru saja dia minum. Gay? Soo Jin tak percaya Yo Han rela mengaku sebagai gay hanya untuk membujuk Bitna agar mau menikah dengan pria itu. Soo Jin lantas mmemukul dadanya. Kopi yang ia minum rasanya masih tersangkut di tenggorokan. “Kau tidak apa-apa?” tanya Yo Han khawatir. Soo Jin menggeleng, lalu menyuruh Yo Han melanjutkan ceritanya. “Lalu setelah itu bagaimana?” “Aku bilang jika dia mau menikah denganku untuk menutupi fakta bahwa aku ini seorang gay, aku akan melunasi seluruh hutang mendiang ayahnya.” “Dan Bitna setuju?” Soo Jin menebak Bitna adalah gadis yang materialistis jika gadis itu langsung setuju dengan tawaran Yo Han. Yo Han tersenyum lalu menggeleng. “Tidak, pertama dia menganggapku sebagai penipu kedua dia bilang tak mau menjual dirinya hanya demi uang.” Mengingat kembali bagaimana Bitna menolaknya dan menyebutnya sebagai penipu membuat Yo Han ingin tertawa. Untuk pertama kalinya seseorang menolaknya dan menyebutnya sebagai seorang penipu. Bagaimana bisa pria dengan penampilan seperti dirinya disebut penipu? “Lalu bagaimana akhirnya dia setuju menikah denganmu?’” “Apa kau tahu cara paling cepat mendapatkan simpati dari seorang wanita?” Soo Jin mengerutkan dahinya. “Bagaimana caranya?” “Meraih tangannya ketika dia sedang terpuruk.” Soo Jin tertawa. Sejak kapan Yo Han tahu trik-trik semacam itu. Setahu Soo Jin Yo Han adalah pria kaku yang sama sekali tak mengerti soal wanita. “Siapa yang mengajarimu?” “Suho sunbae, kau ingat seniorku di kampus dulu.” “Suho?” Soo Jin berusaha mengingat pria bernama Suho. “Ahh... aku ingat,” seru wanita itu setelah berhasil mengingat siapa pria bernama Suho. Soo Jin ingat Suho adalah playboy yang sangat terkenal di kampus mereka dulu. Bahkan pria itu sempat mendekatinya dulu. “Dan terbukti cara itu berhasil, Bitna akhirnya mau menikah denganku lalu aku melunasi hutang ayahnya setelah kami menandatangi kontrak.” “Kontrak?” “Ya, karena setahunya pernikahan ini hanya untuk menutupi orientasi seksualku jadi kami membuat kontrak tentang hubungan pernikahan ini. Mulai apa saja yang harus kami lalukan sebagai pasangan suami istri, apa yang dia dapatkan dari pernikahan ini dan larangan untuk kami.” Soo Jin mengangguk mengerti. Bitna rupanya gadis yang cerdas. Jika Soo Jin menjadi Bitna, dia juga akan melakukan hal sama. Soo Jin tidak mau menyesal nantinya. “Kami juga sudah sepakat bahwa pernikahan ini akan berakhir 5 tahun lagi setelah Bitna lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang mapan,” lanjut Yo Han. “5 tahun?” “Aku tak mungkin terus mengikat Bitna dalam hubungan pernikahan ini, dia berhak hidup bebas dan bisa bertemu pria baik yang ia cintai nantinya.” Soo Jin memandang Yo Han. Mendengar pernikahan pria itu hanya akan bertahan selama 5 membuatnya merasa senang. Karena itu artinya setelah 5 tahun, Yo Han bisa menjadi miliknya seutuhnya. “Jadi kalian akan berpisah selama 5 tahun?” tanya Soo Jin. Yo Han mengangguk. “Kami sudah sepakat untuk hidup dengan akur selama 5 tahun, yah walaupun aku tak yakin kami bisa benar-benar akur.” Soo Jin menyungging senyum menatap Yo Han. Dia sudah menunggu Yo Han kembali selama 7 tahun terakhir. Tak masalah baginya jika harus menunggu Yo Han lagi selama 5 tahun, asalkan pria itu akan menjadi miliknya seutuhnya. Flash back end. *** “Bitna, kau harus makan yang banyak. Selama kalian di Paris pasti sulit untuk menemukan masakan Korea bukan?” Seung Ah menyodorkan berbagai macam lauk ke dekat Bitna. Ia ingin menantunya itu bisa menikmati masakan yang spesial ia masak hari itu. “Apa ibu ingin mengubahnya menjadi babi? Bagaimana bisa dia makan semua itu?” cibir Yo Han melihat ibunya yang menyodorkan semua makanan yang ada di meja makan pada Bitna. Plak... Seung Ah memukul lengan putranya. “Ibu!!! Kenapa memukulku?” protes Yo Han sambil mengusap lengannya. Seung Ah memukulnya dengan keras. “Bagaimana bisa kau menyebut istrimu sebagai babi?” omel Seung Ah. “Coba saja kau bilang Yoo Rin mirip babi, ibu jamin dia akan menjadikanmu samsak tinjunya." Yo Han melirik kakak perempuannya yang sejak tadi hanya diam menikmati makanan di meja. Ia menelan ludah saat Yoo Rin balik menatapnya tajam, wanita yang 2 tahun lebih tua darinya itu terlihat sangat menyeramkan. “Sudah-sudah.” Yong Bae berusaha melerai istrinya. “Biarkan kita makan dengan tenang, tidak baik berdebat di depan makanan.” Seung Ah kemudian menjatuhkan pantatnya di kursi di samping menantunya. Terlihat sekali Seung Ah sangan memperhatikan dan menyayangi Bitna. Bahkan Bitna tidak terlihat seperti seorang menantu, melainkan seperti putri Seung Ah sendiri. Diam-diam Yo Han melirik interaksi ibunya dan Bitna. Melihat keduanya begitu akrab membuatnya sedikit merasa lega. Karena akhirnya dia sedikit demi sedikit bisa menepati janjinya pada mendiang ayah Bitna, untuk membuat Bitna hidup bahagia. Dan seperti yang terlihat Bitna terlihat bahagia sekarang. Yoo Rin yang sejak tadi memilih diam dan fokus dengan makanannya, mulai memperhatikan Yo Han dan Bitna. Wanita yang saat ini menjadi pimpinan KL Cosmetics itu tampak memikirkan sesuatu selagi mengamati Yo Han dan Bitna. “Kau tahu festival olahraga tahunan yang perusahaan kita lakukan?” tanya Yoo Rin menatap Yoo Han. “Tahu, Seung Min sudah mengurus semua persiapannya,” jawab Yo Han tanpa menatap Yoo Rin. “Bagaimana kalau kau dan Bitna ikut berpartisipasi dalam festival itu sebagai pasangan?” “Uhuk-uhukk!!!” Yo Han hampir saja tersedak daging yang ia makan. Pria itu lalu menatap Yoo Rin. “Aku dan Bitna ikut? Untuk apa? Bukankah itu acara khusus untuk para karyawan?” “Benar, tapi bukankah ini waktu yang tepat untuk memperkenalkan Bitna sebagai istrimu? Sejujurnya sejak kalian menikah kau belum pernah sekalipun secara resmi mengenalkan Bitna sebagai istrimu pada karyawan.” Yoo Rin menatap kedua orang tuanya untuk meminta pendapat. Dia pikir jika Yo Han dan Bitna berpartisipasi dalam festival olahraga tahunan di perusahaan mereka mungkin itu akan membuat ikatan yang terjalin antara pimpinan dan karyawan menjadi semakin baik. “Itu ide yang bagus,” sahut Yong Bae dibarengi dengan anggukan Seung Ah. “Tapi, aku tidak terlalu pandai dalam hal olahraga,” sela Bitna. Sebenarnya dia hanya merasa canggung jika harus berpartisipasi dalam acara tersebut. “Kau dengar? Bitna bilang tidak pandai dalam olahraga,” sambung Yo Han. Yo Han juga merasa canggung jika harus berpartisipasi dalam acara ini. Mengingat Bitna sepertinya sedang menjaga jarak karena kejadian di ruang makan kemarin. Gadis itu pasti masih berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya. “Tak masalah, justru itu lebih bagus. Para karyawan pasti merasa senang jika bisa mengalahkan kalian dalam festival itu, lagi pula akan ada banyak lomba berpasangan. Anggap saja ini perintah dari atasan, aku juga akan ikut bergabung.” Yo Han menatap Yoo Rin. Kakaknya itu selalu menggunakan alasan perintah atasan untuk menyuruhnya melakukan sesuatu. Padahal, Yo Han yakin Yoo Rin hanya tidak mau menjadi satu-satunya yang berpartisipasi dalam festival, makanya dia menyeretnya dan Bitna untuk bergabung. Dasar licik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN