Bagian 40

1819 Kata
Bitna berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali gadis itu tampak menggigit buku jarinya. Bitna melirik jam dinding, sudah jam 11 malam dan Yo Han belum kembali. “Sebenarnya dia pergi ke mana dan bertemu siapa?” gumam Bitna. Entahlah Bitna hanya takut sesuatu terjadi pada pria itu. Yo Han pergi dengan ekspresi wajah hang sulit ia artikan. Terlihat marah dan khawatir. Bitna segera menoleh ke arah pintu begitu mendengar seseorang mendorong handle pintu. Di lihatnya Yo Han masuk ke dalam kamar. Bitna mengamati raut wajah suaminya. Melihat suaminya baik-baik saja, Bitna menarik napas lega. “Belum tidur?” tanya Yo Han. Pria itu melepas jasnya dan menggantungnya di dekat lemari. “Belum,” jawab Bitna singkat. “Apa—“ “Tidurlah, besok kita berangkat pagi.” Yo Han melangkah menuju kamar mandi. Meninggalkan Bitna dengan segala rasa penasarannya. Apa yang terjadi? Kau bertemu siapa? Kau baik-baik saja? Itu adalah pertanyaan yang ingin Bitna tanyakan. Tapi Yo Han berlalu begitu saja sebelum Bitna bisa mengucapkannya. Sesuai perintah Yo Han, Bitna berbaring di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Meskipun merasa penasaran, dia hanya akan mengubur pertanyaan-pertanyaan tadi. Dia ingat di dalam kontrak mereka tertulis jelas bahwa mereka tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Bitna harus sadar bahwa dirinya tidak boleh melewati batas. Hanya karena Yo Han menjadi semakin perhatian selama mereka di Paris, bukan berarti Bitna bisa membiarkan perasaannya terus tumbuh. Dia harus ingat, bahwa dia dan Yo Han ada di dunia yang berbeda. Yo Han adalah penolongnya dan dia tidak boleh mencintai pria itu. Ia harus menahan dan menyembunyikan perasaannya dengan baik sampai saatnya mereka berpisah tiba. *** Yo Ham membasuh wajahnya dengan air. Ia lalu menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia mengingat bagaimana dirinya berciuman dengan Soo Jin tadi. Yo Han menarik napas dalam. Susah payah ia menyembunyikan perasaannya agar tak goyah di depan wanita itu. Malam ini Soo Jin mengacaukan semua pertahanan yang dia buat, dan dia kalah. Yo Han kalah dengan perasaan cintanya pada Soo Jin. Flash back 1 jam yang lalu... Yo Han melepas bibirnya perlahan, saat merasa napasnya mulai habis. Ia menatap wajah Soo Jin yang berada dalam rengkuhan tangannya. “Kau menang,” ujar Yo Han kemudian. Ia lalu mengusap pipi Soo Jin dengan lembut, seperti yang selalu ia lakukan dulu. “Kau tahu? Kau mungkin bisa membohongi semua orang, tapi tidak denganku. Hanya dengan menatap matamu saja aku tahu kau berbohong atau tidak.” Yo Han tersenyum lalu kembali mengusap sebelah wajah Soo Jin, merapikan rambut-rambut halus milik wanita itu. Memang dirinya tidak akan bisa membohongi Soo Jin. Wanita itu jauh lebih memahami dirinya dari pada diri Yo Han sendiri. “Aku antar pulang?” Soo Jin mengangguk. Sebuah taksi akhirnya berhenti di depan mereka. Yo Han membukakan pintu untuk Soo Jin. Setelah Soo Jin masuk dan duduk di kursi belakang, Yo Han ikut masuk dan duduk di samping gadis itu. Soo Jin memberi tahu sopir alamatnya, taksi itu kemudian melaju membelah jalanan kota Paris. Soo Jin melirik Yo Han yang duduk di sampingnya. Tangannya masih ada di dalam genggaman Yo Han. Meski Yo Han menggenggam tangannya, tapi raut wajah pria itu terlihat khawatir. “Kau memikirkan Bitna?” Yo Han menoleh menatap Soo Jin. “Iya.” Raut wajah Soo Jin berubah kecewa. Yo Han sedang bersamanya, tapi pria itu justru sedang memikirkan istrinya. “Besok aku akan kembali ke Seoul.” Soo Jin menoleh kaget ke arah Yo Han. “Besok?” tanya Soo Jin tak percaya. Yo Han mengangguk. “Aku akan sering menghubungimu nantinya.” Raut wajah Soo Jin terlihat semakin kecewa. Mereka baru saja kembali bersama, tapi malah akan berpisah secepat ini. Dia belum siap menjalani hubungan jarak jauh dengan Yo Han. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Yo Han. “Kau bisa mengertikan?” Yo Han mengulurkan tangannya menyentuh dagu Soo Jin, meminta wanita itu untuk menatapnya. “Kenapa cepat sekali? Aku masih ingin bersamamu di sini,” rajuk Soo Jin. “Bagaimana lagi, aku tidak bisa membatalkan penerbangan besok, Bitna akan curiga nantinya.” “Kalau begitu biarkan saja dia kembali ke Seoul sendiri.” “Ibuku bisa membunuhku jika aku membiarkan Bitna kembali sendirian ke Seoul.” Soo Jin menghela napas. Meskipun ingin protes dan meminta Yo Han tetap berada di Paris, Soo Jin tahu itu tak akan berhasil. Jika sudah menyangkut sang Ibu, Yo Han tak bisa berbuat apa-apa. Soo Jin hanya bisa pasrah, jika Yo Han harus kembali besok. Taksi yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan kawasan apartemen mewah. Yo Han dan Soo Jin keluar dari taksi. Mereka saling memandang beberapa detik. Lalu sama-sama tersenyum. Yo Han mengelus kepala Soo Jin. “Masuklah.” “Tak bisakah kau tinggal lebih lama?” “Bitna pasti khawatir nanti.” Soo Jin kembali merengut. Lagi-lagi Yo Han mengkhawatirkan istrinya. “Aku akan menghubungimu besok sebelum berangkat.” “Masuklah, sebentar saja.” Soo Jin menatap Yo Han memohon. Dia hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama pria itu sebelum Yo Han akhirnya kembali ke Seoul. “Baiklah, tapi hanya sebentar, tidak lebih.” Karena tak tega melihat Soo Jin, Yo Han setuju untuk tinggal lebih lama. “Ayo!” Dengan senyum yang merekah Soo Jin menarik Yo Han untuk masuk ke dalam gedung apartemen. Mereka masuk ke dalam lift, menuju lantai 3, tempat unit apartemen milik Soo Jin berada. Begitu pintu lift terbuka, Soo Jin segera menarik Yo Han keluar menuju unit apartemennya. “Selamat datang di apartemenku,” ujar Soo Jin setelah membuka pintu apartemennya. Yo Han tersenyum melihat tingkah Soo Jin. Wanita itu terlihat manis. Yo Han mengedarkan pandangannya menatap ke sekitar ruangan dalam apartemen Soo Jin. Apartemen wanita itu terlihat rapi dan wangi. Ruang tamu yang didominasi warna putih, perabotan bernuansa klasik, membuat ruangan ini mirip rumah di abad pertengahan. “Duduklah.” Soo Jin menarik Yo Han untuk duduk di sofa. “Mau minim bir?” Yo Han menggeleng. “Kopi saja.” “Baiklah.” Soo Jin dengan cepat berlalu menuju dapur. Selang beberapa menit kemudian wanita itu kembali dengan dua cangkir kopi. Setelah meletakkan dua cangkir kopi itu ke atas meja, Soo Jin menjatuhkan tubuhnya di samping Yo Han, lalu memeluk pria itu dari samping. “Kau menginap saja ya.” “Ayolah, tadi kau sudah setuju kalau kau hanya mampir sebentar.” Soo Jin menekuk wajahnya. “Baiklah.” “Bersabarlah, setelah kembali ke Seoul aku akan mencari cara agar bisa lebih sering mengunjungimu. Atau kau mau kembali ke Korea?” Soo Jin menyadarkan kepalanya di d**a bidang Yo Han. Sudah lama sekali sejak ia melakukan ini. Rasanya masih sama, dekapan pria itu adalah yang paling nyaman di dunia. “Maunya seperti itu, aku juga mendapat tawaran untuk bergabung dengan salah satu agensi besar di sana, tapi kontrak dengan agensiku di sini belum berakhir.” “Harusnya berakhir akhir bulan ini, tapi aku masih memikirkan akan perpanjang kontrak atau tidak, juga jika ingin kembali ke Korea aku harus mencari tempat tinggal baru, aku tidak mau tinggal bersama orang tuaku. Tinggal sendirian dan menjadi mandiri jauh lebih menantang.” Yo Han tersenyum memandang Soo Jin. Wanita itu tak pernah berubah. Meski berasal dari keluarga kaya Soo Jin selalu melakukan semua dengan usahanya sendiri. Untuk menjadi model papan atas seperti sekarang Soo Jin tak pernah sekalipun meminta bantuan orang tuanya. Padahal jika mau, orang tua Soo Jin dapat membuat perjalanan karier wanita itu lebih mulus dan mudah. Tapi Soo Jin menyukai tantangan, dan suka melakukan semua dengan usahanya sendiri. Sifat wanita itulah yang membuat Yo Han akhirnya jatuh cinta pada Soo Jin. “Yo Han-ah.” Soo Jin mendongak menatap Yo Han. “Ya?” “Boleh aku tahu alasan kau menikah dengan Bitna?” Yo Han terdiam. Dia tidak yakin harus memberitahu alasannya menikahi Bitna dan tentang pernikahan mereka. “Aku tidak peduli sebenarnya, tapi aku hanya merasa penasaran. Kau tidak mencintainya, jika kalian di jodohkan itu juga hal yang tidak mungkin. Aku tahu kau membenci hal-hal kuno seperti itu.” Yo Han memandang Soo Jin. “Kami tidak dijodohkan,” jawab Yo Han kemudian. “Aku menikahinya atas kemauanku sendiri.” Kedua alis Soo Jin mengernyit. “Tapi kau tak mencintainya, jadi kenapa kalian menikah?” “Ada alasan kenapa aku harus menikahi Bitna. Aku sudah berjanji pada ayahnya untuk menjaga Bitna.” Mata Soo Jin melebar tak percaya. “Jadi kau menikahi Bitna hanya untuk menjaga gadis itu? Apa Bitna juga tahu?” Yo Han menggeleng. “Dia tidak tahu.” Pria itu lalu menarik napas. “Jika aku memberitahumu bisakah kau merahasiakan ini?” Soo Jin mengerutkan dahi. Rahasia? “Rahasia tentang pernikahanku dengan Bitna.” *** Bitna memejamkan matanya, berusaha agar segera terlelap dalam tidurnya, tapi sama sekali tak berhasil. Rasa penasaran tentang ke mana Yo Han pergi tadi masih mengganggunya. Di tambah lagi Yo Han yang juga tak bisa tidur dan terus mengubah posisinya membuat Bitna semakin sulit untuk terlelap. Perlahan Bitna membuka matanya. Di lihatnya Yo Han tidur memunggunginya. Tubuh pria itu terus bergerak membuat Bitna berpikir apa yang mengganggu pikiran suaminya hingga membuat pria itu tak bisa tidur. Saat Bitna sibuk dengan pikirannya dan berbagai asumsi di kepalanya, Yo Han tiba-tiba saja berbalik. Mereka saling menatap beberapa detik. Saling menatap dengan jarak sedekat ini membuat jantung Bitna maraton. Mereka hanya dipisahkan oleh guling yang menjadi batas di tengah ranjang. Bitna kemudian berkedip beberapa kali karena gugup. “Belum tidur?” tanyanya kemudian. “Belum, kau sendiri?” “Aku tidak bisa tidur.” “Begitu ya, aku juga.” Yo Han lalu menarik napas, kemudian mengubah posisinya menjadi terlentang. “Biasanya apa yang kau lakukan jika tidak bisa tidur?” Bitna berpikir sejenak. “Mendengarkan musik? Itu cukup membantuku untuk segera tidur,” jawab Bitna kemudian. “Kalau begitu apa lagu favoritmu? Biar aku nyanyikan.” “Kau mau menyanyi?” ucap Bitna tak percaya. “Iya, kau pikir aku tidak bisa menyanyi?” Tidak. Bukannya Bitna pikir Yo Han tak bisa menyanyi, dia hanya kaget karena pria itu menyanyi untuknya. “Kau mungkin tak akan tahu lagunya, nyanyikan saja aku lagu pengantar tidur untuk anak-anak.” “Baiklah.” Yo Han menarik napas sebelum mulai bernyanyi. Pria itu lantas menyanyikan ‘Three Bears Song’. Hanya itu lagu anak-anak yang terlintas di kepalanya Yo Han. Binta memandang pria yang saat ini menyanyikannya lagu. Berbeda dengan penampilannya yang terlihat gagah, suara Yo Han terdengar sangat lembut saat menyanyi. Membuat Bitna semakin terpesona pada Yo Han. Kecuali sifat menyebalkan dan cerewet pria itu, di mata Bitna, Yo Han adalah sosok pria yang sempurna. Satu menit berlalu, Bitna mulai merasa mengantuk. Mendengar suara Yo Han bernyanyi ternyata dapat membuat rasa kantuk menghampirinya. Perlahan Bitna memejamkan matanya hingga akhirnya gadis itu tertidur lelap. Setelah tak terdengar suara Bitna, Yo Han menghentikan nyanyiannya. Ia lalu mengubah posisinya menghadap Bitna. Tangannya kemudian terulur lalu mengusap lembut kepala gadis itu. Kim Bitna, aku benar-benar minta maaf. Tolong bertahanlah selama 5 tahun, aku pasti akan melepaskanmu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN