Tiga hari setelah pemakaman ayahnya, Bitna langsung kembali bekerja. Orang-orang mungkin akan menganggapnya sebagai anak tidak berbakti karena kembali bekerja secepat ini setelah pemakaman ayahnya. Tapi Bitna tidak peduli. Tidak ada waktu baginya untuk terus berkabung atau meratapi kematian ayahnya. Baginya yang terpenting adalah bertahan hidup. Lagi pula jika dia melakukan hal-hal itu tak akan ada yang mau menggantikannya melunasi hutang-hutang ayahnya.
Dalam sehari Bitna biasa melakukan dua hingga tiga pekerjaan paruh waktu. Dia bahkan juga bekerja di akhir pekan. Dalam kamusnya Bitna tak mengenal hari libur. Sehari sangat berharga bagi dia yang harus berjuang bertahan hidup dan melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan mendiang ayahnya.
Bitna sedang membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan seorang pengunjung Cafe. Setelah membawa piring dan gelas kotor ke dapur Bitna kembali untuk mengelap meja tadi. Beberapa pegawai di Cafe tempatnya bekerja menatapnya sambil berbisik. Bitna tahu mereka pasti menganggapnya gila karena langsung kembali bekerja setelah pemakaman ayahnya. Bitna tak memedulikan mereka, yang terpenting baginya adalah bertahan hidup.
“Eonni, kau tidak apa-apa?” tanya Minah, salah satu pegawai di Cafe tempat Bitna bekerja.
“Ya,” jawab Bitna singkat. Tak ada alasan baginya untuk merasa tidak baik-baik saja.
“Mereka....”
Bitna melirik ke arah para pegawai yang sejak tadi menatapnya sambil berbisik.
“Biarkan saja, jika lelah mereka akan berhenti.”
“Biar aku bantu.” Minah mengambil alih kain lap yang di bawa Bitna. “Eonni ke dapur saja, biar aku yang membersihkan meja.”
“Terima kasih.”
Bitna beranjak menuju dapur kemudian mencuci gelas dan piring kotor di sana. Di Cafe itu yang peduli padanya hanya Minah. Bitna cukup pendiam, jadi dia tak begitu akrab dengan pegawai lain. Mereka juga enggan mendekati Bitna lebih dulu, mereka hanya bicara pada Bitna jika memang dibutuhkan. Tapi, Minah berbeda gadis itu mendekati Bitna lebih dulu. Dia juga sering membantu Bitna. Minah adalah seorang mahasiswi tahun kedua di Universitas Hankuk. Dia bekerja paruh waktu di Cafe itu untuk mencari tambahan uang saku.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur Bitna kembali ke meja counter. Tangannya yang ramping tampak begitu lihai meracik minuman pesanan para pelanggan.
“Eonni, jika lelah kau bisa istirahat dulu,” ucap Minah. Sejak tadi Bitna terus sibuk bekerja.
Bitna menggeleng. Lebih baik menjadi sangat sibuk, karena dengan begitu dia tidak akan memikirkan hutang-hutang yang di tinggalkan ayahnya.
Minah hanya bisa menghela napas sambil mengamati Bitna yang terlihat sibuk membuat minuman. Meskipun baru mengenal Bitna selama setahun terakhir, tapi Minah tahu jika Bitna sangat bekerja keras untuk bertahan hidup dan melunasi hutang-hutang mendiang sang ayah. Melihat betapa kerasnya perjuangan Bitna, membuat Minah sadar jika dunia ini tak seindah yang terlihat. Di luar sana banyak orang seperti Bitna yang bekerja begitu keras hanya untuk bertahan hidup.
Bitna selesai bekerja di Cafe pukul 2 siang. Setelah itu dia beralih bekerja paruh waktu di restoran barbeque. Bitna bekerja di sana hingga malam. Gadis berusia 25 tahun tampak sibuk bolak-balik dari dapur ke meja pengunjung restoran. Setiap malam restoran tempatnya bekerja tak pernah sepi dari pengunjung. Banyak pegawai kantor yang datang untuk makan malam bersama seusai bekerja. Banyak juga mahasiswa yang datang untuk makan dan minum bersama. Restoran barbeque tempat Bitna bekerja memang cukup dekat letaknya dengan beberapa universitas dan perkantoran.
Tanpa Bitna sadari ada seorang pria yang mengamatinya saat ia bekerja. Pria berpakaian serba hitam itu telah mengikutinya sejak pagi dan mengamati setiap gerak-gerik dan apa yang Bitna lakukan. Ia bahkan juga memotret Bitna.
***
Nam Yo Han, duduk di balik meja kerjanya. Matanya fokus membaca sebuah dokumen yang ada di tangannya. Nam Yo Han adalah direktur dari KL Cosmetics, salah satu perusahaan produk kecantikan terbesar di Korea Selatan. Yo Han juga merupakan putra kedua dari Nam Yong Bae, pendiri KL Cosmetics. Saat ini KL Cosmetics di pimpin oleh Nam Yoo Rin, kakak perempuan Yo Han. Ayah Yo Han memutuskan untuk mundur dari jabatannya setahun lalu dengan alasan ingin beristirahat di hari tuanya.
Tok tok tok
Yo Han melirik ke arah pintu ruang kerjanya. Dilihatnya Kang Seung Min, sekretarisnya masuk sambil membawa sebuah amplop berwarna cokelat.
“Aku sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu,” kata Seung Min saat sampai di depan meja atasannya.
Yo Han meletakkan dokumen yang sejak tadi dipegangnya. Ia kemudian beralih mengambil amplop cokelat yang diserahkan Seung Min. Yo Han membuka amplop itu dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dan foto yang ada di dalamnya. Yo Han fokus membaca informasi yang tertera di lembaran kertas tersebut.
“Namanya Kim Bitna, usianya 25 tahun. Sejak bisnis ayahnya bangkrut 5 tahun lalu dia terpaksa berhenti kuliah untuk bekerja dan menjadi tulang punggung keluarganya. Ibunya menghilang setahun setalah bisnis mereka bangkrut,” jelas Seung Min.
“Hanya ini?”
“Setiap hari dia bekerja di dua atau tiga tempat. Dia bekerja dari jam 8 pagi hingga 10 malam. Terkadang dia juga menjadi sopir pengganti di malam hari,” lanjut Seung Min.
“Bagaimana dengan hutang yang tinggalkan mendiang ayahnya?”
“Total hutang mendiang Kim Chul Sik mencapai 100 Juta Won.”
Yo Han meletakkan kedua sikunya ke atas meja lalu menautkan jari jemarinya. Ia sedang memikirkan sesuatu.
“Meskipun Bitna bekerja siang dan malam, gadis itu mungkin tak akan bisa melunasi hutang ayahnya kecuali jika dia tiba-tiba memenangkan sebuah lotre,” gumam Yo Han.
“Dari informasi yang aku dapatkan, ayah Bitna juga berhutang pada rentenir dengan bunga yang besar,” sahut Seung Min.
Setelah menghadiri upacara pemakaman Kim Chul Sik, Yo Han menyuruhnya mencari tahu tentang putri mendiang. Seung Min tidak tahu apa yang sedang direncanakan Yo Han, hanya saja menurutnya Yo Han sangat aneh. Sebelumnya Yo Han tak pernah terlihat tertarik pada wanita, tapi tiba-tiba saja atasannya itu memintanya menyelidiki seorang wanita.
Yo Han mengambil foto-foto Bitna yang ada bersama lembaran informasi tadi. Matanya tampak fokus mengamati paras gadis di foto itu. Meskipun terlihat lusuh saat bekerja, Bitna masih tampak cantik di sana.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Yo Han sambil memperlihatkan foto Bitna.
“Nde?” Seung Min menatap bingung atasannya.
“Cantik atau tidak?”
Seung Min mengamati foto Bitna lalu menjawab, “Dia lumayan cantik.”
“Jika aku menikah dengannya tak akan tampak buruk, kan?”
“Nde?”
Mata Seung Min melebar mendengar ucapan Yo Han. Atasannya itu baru saja menyebut soal menikah?
“Menurutmu, jika aku bilang akan melunasi semua hutangnya apakah Kim Bitna mau menikah denganku?”
Mata Seung Min kembali melebar. “Menikah?”
Atasannya itu tak berencana menikahi Kim Bitna, kan?
***
Pagi yang cerah di musim gugur. Musim gugur mulai menyapa Korea Selatan di bulan September hingga November. Di musim ini kita dapat melihat indahnya dedaunan yang berubah warna menjadi kuning dan merah. Pohon Gingko dan pohon Maple daunnya akan berubah warna menjadi kuning dan merah di seluruh Korea, dan itu akan tampak sangat cantik.
Pagi itu Bitna memulai harinya dengan bekerja di Cafe. Ia tampak sibuk menata meja dan kursi lalu beralih mengelap jendela. Dia harus memastikan Cafe itu bersih dan rapi sebelum buka.
“Selamat datang,” sapa Bitna dengan ramah pada setiap pengunjung yang datang. Ia juga tersenyum ramah kepada mereka. Tapi, senyum yang selalu Bitna tunjukkan adalah palsu. Dia tak ingat bagaimana rasanya tersenyum karena bahagia. Kata bahagia telah menghilang dari kehidupannya sejak lima tahun yang lalu.
“Selamat datang,” ucap Bitna pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam Cafe.
Pengunjung pria itu berdiri di depan meja counter. Matanya fokus membaca daftar menu yang ada di sana. Bitna melirik pria itu sekilas. Penampilannya sangat rapi dan mewah. Dalam hati Bitna mendesah, lima tahun lalu dia juga mengenakan pakaian-pakaian mewah seperti pria itu.
“Kapan kau selesai bekerja?” tanya pria itu menatap Bitna.
“Nde?” Bitna menatap bingung pria yang berdiri di depannya.
“Kapan kau selesai bekerja? Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Apa kau mengenalku?” tanya Bitna.
Pria itu mengangguk. “Aku pesan satu hot latte, aku akan menunggu di sana sampai kau selesai bekerja.”
Tiga puluh menit kemudian, Bitna keluar dari ruang ganti. Jam kerjanya selesai lima menit yang lalu. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang tadi menunggunya. Bitna menemukan pria itu duduk manis di sudut ruangan. Pria itu sungguh menunggunya sampai selesai bekerja.
Dengan ragu Bitna menghampiri pria yang duduk di sudut ruangan itu.
“Permisi.”
“Oh, duduklah.” Pria itu menunjuk kursi kosong di depannya.
Bitna menjatuhkan pantatnya di kursi itu. Matanya tak lepas mengamati pria yang saat ini duduk di depannya. Penampilannya terlihat rapi dan mewah. Dari penampilannya Bitna tahu dia adalah pria kaya.
“Apa kau adalah Kim Bitna, putri mendiang Kim Chul Sik?” tanya pria tersebut.
“Nde,” jawab Bitna sambil mengangguk. Ia sedikit terkejut pria di depannya tahu nama ayahnya.
Sesaat kemudian Bitna mengerjapkan matanya. Pria yang duduk di depannya ini bukan seorang rentenir, kan? Tapi melihat penampilannya, pria itu lebih tepat disebut sebagai konglomerat dari pada seorang rentenir.
“Apa ayahku juga berhutang padamu?” tanya Bitna hati-hati. Jika benar, Bitna tak akan terlalu kaget. Dia sudah sering bertemu orang yang ingin menagih hutang ayahnya.
“Tidak.”
Bitna mengerutkan dahinya.
“Lalu?”
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, itu sebuah kartu nama. Ia kemudian menyerahkan kartu nama itu pada Bitna.
Bitna tampak serius membaca nama yang tertera di atas benda tipis berbentuk persegi panjang itu.
“Nam Yo Han KL Cosmetics?”
Bitna membuka mulutnya lebar. Pria yang saat ini duduk di hadapannya adalah direktur KL Cosmetics? Tapi untuk apa pria itu menemuinya.
Setelah mencari informasi tentang Bitna dan mengawasi gadis itu selama beberapa hari terakhir, Yo Han memutuskan untuk menemui Bitna secara langsung. Menurutnya bertemu Bitna lebih cepat, lebih baik untuk rencananya.
“Aku tahu ayahmu meninggalkan hutang yang tak sedikit. Aku ingin membantu melunasi hutang-hutang ayahmu.”
Melunasi? Tapi untuk apa? Batin Bitna.
“Tentu itu tidak gratis. Aku bisa melunasi semua hutang ayahmu jika kau bersedia menikah denganku,” jelas Yo Han. Dia tidak suka berbasa-basi.
Untuk sesaat Bitna kehilangan kesadarannya setelah mendengar ucapan Yo Han. Bitna kemudian mendecih sambil melempar kartu nama Yo Han ke atas meja.
“Apa ini modus penipuan terbaru? Jika iya, maaf kau salah orang. Aku tak punya banyak uang, yang aku punya adalah banyak hutang,” ucap Bitna.
Yo Han menatap serius ke arah Bitna. “Apa aku terlihat seperti seorang penipu?”
Bitna mengangguk. Jaman sekarang banyak penipu berpakaian mewah agar bisa menjerat korbannya dengan mudah.
“Nde, kau sangat mirip dengan seorang penipu.”
Yo Han menggaruk batang hidungnya yang tak gatal lalu tertawa. Bagaimana bisa Bitna menganggapnya sebagai penipu?
“Apa kau pernah lihat penipu dengan penampilan semewah ini? Asal kau tahu semua yang aku kenakan adalah barang-barang bermerek—”
Bitna kembali mendecih.
“Terima kasih karena sudah membuang waktuku, semoga kau dapat mangsa yang lebih kaya dariku,” ucap Bitna lalu berdiri dari kursinya meninggalkan Yo Han yang melongo karena baru saja di sebut sebagai penipu.
“Aku bukan penipu!” teriak Yo Han.
“Hei!”
“Hei!!!”
Bitna sama sekali tak menggubris teriakan itu. Sial, harusnya tadi dia tidak perlu meladeni Yo Han. Pria itu membuang 30 menitnya yang berharga.