Bagian 49

1607 Kata
“Mana es krimnya?” tanya Bitna saat Yo Han datang dengan napas terengah-engah, tapi tak membawa es krim pesannya. “Aku berikan pada anak kecil yang lewat.” Bitna mengerutkan dahi. “Ha? Kau berikan pada anak kecil?” tanya Bitna tak percaya. Dia sudah menunggu Yo Han, tapi pria itu malah memberikan es krim pesanannya pada anak kecil. “Kau memang sengaja mau mengajakku bertengkar ya?” “Kita tak punya waktu, cepat kembalikan sepedanya lalu aku antar pulang!” Alis Bitna berkerut. Ia tak mengerti ucapan Yo Han. “Aku harus ke kantor, ternyata ada satu pertemuan dengan klien yang tak dibatalkan hari ini,” jelas Yo Han. Yo Han akhirnya menuntun sepeda yang mereka sewa untuk di kembalikan ke tempat penyewaan. Sementara Bitna berjalan di belakangnya sambil merengut. Yo Han hari ini benar-benar merusak suasana hatinya. Pertama, Yo Han sudah membuat Bitna memboncengnya. Kedua, Yo Han malah memberikan es krimnya kepada anak kecil. Dan sekarang mereka harus buru-buru pulang karena dia harus segera pergi ke kantor. Padahal jalan-jalan ini adalah ide dari Yo Han, bukan dirinya. “Apa aku tak bisa lebih cepat jalannya?” Yo Han menoleh ke arah Bitna yang berjalan di belakangnya. “Iya-iya!” *** Setelah berganti pakaian dengan setelan jas rapi Yo Han bergegas keluar apartemen menuju basemen tempat mobilnya terparkir. Pria itu lalu melajukan mobilnya menjauhi area apartemennya, tapi Yo Han tak menuju ke kantornya. Melainkan ke bandara. Yo Han menuju bandara Incheon untuk menjemput Soo Jin. Saat membeli es krim tadi, Soo Jin menelepon dan memberitahu bahwa wanita itu sudah sampai di Seoul. Mendengar kedatangan Soo Jin tentu membuat Yo Han senang sekaligus gelagapan. Bagaimana tidak? Soo Jin meneleponnya ketika ia sedang pergi ke luar bersama Bitna. Untungnya dia cukup cerdas memberi alasan akan bertemu dengan seorang klien. Dan untung saja Bitna percaya. Begitu sampai di area bandara Incheon, Yo Han segera memarkirkan mobilnya. Setelah keluar dari mobil, Yo Han bergegas masuk ke dalam bandara untuk mencari Soo Jin. Wanita itu pasti sudah lama menunggunya. “Yo Han!!!” Yo Han melihat seorang wanita sedang melambaikan tangan padanya sembari tersenyum. Itu Soo Jin. Yo Han segera menghampiri Soo Jin. Senyum terus mengembang di wajahnya. Ia tak menyangka akan melihat Soo Jin di Korea. “Kejutan,” ucap Soo Jin ketika Yo Han sudah berdiri di hadapannya. Yo Han lantas menarik Soo Jin dalam pelukannya. “Kenapa tak bilang jika akan ke Korea?” “Jika aku bilang, itu namanya bukan kejutan.” Yo Han melepaskan pelukannya lalu memandang Soo Jin. Meski melewati waktu penerbangan yang lama dan pasti melelahkan wajah Soo Jin tetap terlihat cantik. “Kau pulang untuk liburan?” “Coba tebak.” “Kau pindah ke Korea?” Soo Jin mengangguk semangat. “Akhirnya aku memutuskan untuk tanda tangan kontrak dengan salah satu agensi di sini.” Senyum Yo Han semakin mengembang saat Soo Jin mengatakan akan tinggal di Korea. “Itu artinya....” “Kita tidak perlu menjalani hubungan jarak jauh lagi,” sambung Soo Jin. “Kita bicara di mobil saja, kau pasti lelah.” Yo Han mengambil alih troli berisi koper-koper milik Soo Jin. Sementara wanita itu berjalan di samping Yo Han sambil melingkarkan tangannya ke lengan Yo Han. Keduanya berjalan beriringan sembari melempar senyum ke arah satu sama lain. “Kau sudah ada tempat tinggal?” tanya Yo Han. Mereka sudah berada dalam mobil Yo Han dan meninggalkan area bandara Incheon. “Belum, sementara aku akan tinggal di hotel. Setelah tanda tangan kontrak, agensi baru akan mencarikanku rumah atau apartemen,” jawab Soo Jin. “Kenapa tak tinggal di rumah orang tuamu saja?” “Ayolah, kau tahu betapa cerewetnya mereka. Aku bahkan belum bilang jika pulang ke Korea, hanya kau yang tahu.” “Kenapa?” “Karena kau spesial.” Yo Han melirik Soo Jin sembari tersenyum. Wanita itu selalu saja bisa membuatnya tersipu malu. “Kabar Bitna bagaimana?” “Dia? Baik-baik saja. Kakinya juga sudah sembuh. Minggu depan katanya mulai masuk kuliah lagi.” “Dia akan jadi sibuk kalau begitu.” “Sepertinya begitu.” *** Mobil Yo Han berhenti di depan The Shilla Seoul, hotel bintang 5, yang terletak di pusat kota Seoul. Setelah check in, Yo Han mengantar Soo Jin sampai ke depan kamarnya bersama pramuantar yang membantu mereka membawa koper-koper milik Soo Jin. “Terima kasih,” ucap Yo Han pada pramuantar yang membantunya. “Kau mau langsung pulang?” Soo Jin merangkul tangan Yo Han begitu pramuantar keluar dari kamar. Yo Han melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam 2 siang. Sudah satu jam berlalu sejak ia bilang pada Bitna jika akan pergi menemui klien, padahal ia pergi untuk menjemput Soo Jin. Sejujurnya Yo Han merasa agak tidak tenang telah membohongi Bitna. Selama ini Yo Han memang membohongi gadis itu, tentang orientasi seksualnya dan alasannya menikahi Bitna. Namun, Yo Han tak pernah merasa segelisah ini. Apa memang seperti ini perasaan seseorang yang sedang selingkuh dari pasangannya? Soo Jin memandang Yo Han penuh arti, meminta pria itu untuk tetap tinggal bersamanya. “Kau bisa pulang nanti, seperti saat pulang kerja biasanya. Bitna tak akan curiga.” Yo Han tampak berpikir. Ia memang merindukan Soo Jin dan ingin lebih lama lagi bersama wanita itu, tapi ia juga takut Bitna akan curiga. Dia hanya bilang akan menemui klien, jika terlalu lama Bitna mungkin akan merasa curiga padanya. “Ayolah.” Soo Jin kembali memohon. Kali ini wanita itu juga mengecup singkat bibir Yo Han. Yo Han memandang iris mata Soo Jin yang saat ini tengah tersenyum menatapnya. Wanita itu baru saja melakukan hal yang Yo Han sukai dari Soo Jin. Kecupan singkat tadi membuat tubuh Yo Han mulai berdesir dan meminta hal lebih dari Soo Jin. “Kau yang memulainya.” Yo Han meraih pinggang ramping Soo Jin untuk mendekat padanya. Pria itu lantas mencium bibir Soo Jin. Melumatnya pelan, seakan ia sudah lama mendambakan bibir seksi Soo Jin untuk bersentuhan dengan bibirnya. Ia memang sangat merindukan wanita itu. 7 tahun berpisah dan saling merindukan dalam sepi. Mereka akhirnya kembali bersama setelah jujur dengan perasaan masing-masing, tapi mereka harus kembali menjalani hubungan yang di pisahkan oleh jarak antara Paris dan Korea Selatan. Namun, hari ini mereka tak perlu menempuh jarak yang jauh itu untuk melepas kerinduan. Soo Jin ada dalam dekapannya sekarang. Ia bisa melampiaskan rindu yang terpendam selama ini. Soo Jin mengalungkan kedua tangannya ke leher Yo Han, menikmati lumatan pria itu di bibirnya. Saat Soo Jin membalas ciuman Yo Han, pria itu mulai kehilangan kontrol. Soo Jin melepas bibirnya saat Yo Han hendak melepas jas abu-abu yang ia kenakan. “Aku mau mandi dulu, tubuhku baru keringat.” Yo Han menghela napas menatap Soo Jin. Gairahnya sudah berada di puncak, tapi Soo Jin justru melepas ciuman mereka. “Kau masih tetap harum.” Yo Han berusaha kembali mendekat, tapi Soo Jin mencegahnya. “Jangan merayu, aku naik pesawat selama hampir 9 jam.” “Baiklah, tapi jangan lama-lama.” “Oke.” Soo Jin mengecup singkat bibir Yo Han sebelum berlalu ke kamar mandi. *** Bitna dan Yo Han duduk berhadapan di meja makan. Mereka sedang sarapan. Bitna sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk memasak sarapan. Bitna membuat nasi goreng kimchi spesial untuk Yo Han. Bitna memandang Yo Han yang sibuk mengunyah nasi goreng yang masuk ke dalam mulutnya. Gadis itu berharap Yo Han akan memuji masakannya. Untuk membuat nasi goreng itu Bitna rela bangun pagi-pagi, hal yang ia benci. “Kenapa menatapku?” tanya Yo Han. Bitna mendengus pelan. Dasar laki-laki. “Tidak, makan saja yang banyak.” Bitna memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Percuma ia bangun pagi-pagi dan menyiapkan sarapan untuk Yo Han. Pria itu bahkan tak berterima kasih atau memuji rasa masakannya. “Soo Jin pindah ke Korea,” ucap Yo Han tiba-tiba. Bitna hampir saja tersedak ketika mendengar perkataan Yo Han. “Dia akhirnya akan menandatangani kontrak dengan salah satu agensi model di sini,” sambung Yo Han. Bitna membuka mulutnya lebar. Ini sungguh kabar yang mengejutkan. Dia pikir tak akan pernah bertemu Soo Jin lagi, mengingat gadis itu tinggal dan menetap di Paris. Bitna tak menyangka bahwa Soo Jin memutuskan untuk kembali ke Korea. Bukankah dia sudah sukses menjadi model di sana? Untuk apa wanita itu kembali ke Korea? Mendengar nama Soo Jin membuat Bitna kehilangan selera makannya. Entah kenapa ia tak menyukai wanita itu. Bitna tahu, Soo Jin sudah membantunya ketika tersesat dan menjadi tour guide-nya dan Yo Han. Soo Jin terlalu menempel pada Yo Han selama mereka di Paris. Padahal wanita itu tahu jika Yo Han sudah menikah. Meskipun hanya berstatus teman, bukankah Soo Jin harus menghormatinya sebagai istri Yo Han? “Kau tak mau bilang apa-apa?” Yo Han menatap Bitna. Gadis itu membuang muka lalu menghela napas. “Kau mau aku bereaksi seperti apa? Tertawa bahagia?” “Tidak, bukan begitu. Aku pikir kau cukup dekat dengan Soo Jin karena dia sempat menolongmu.” “Kami tak sedekat itu. Bukankah kau yang dekat dengannya? Dia kan temanmu,” ucap Bitna sambil memberi penekanan di kata teman. Yo Han yang mendengarnya jadi salah tingkah. “Ya kami memang teman,” ucapnya agak tergagap. Yo Han segera meneguk segelas jus jeruk di depannya untuk menenangkan diri. Jika Bitna tahu hubungan sebenarnya antara dia dan Soo Jin, gadis itu pasti akan murka. Dan semua kebohongannya akan terbongkar. “Kau kenapa?” Bitna mengerutkan dahi menatap Yo Han. “Mirip orang yang baru saja tertangkap basah.” “Tidak, hanya tiba-tiba tersedak saja.” Yo Han balik menatap Bitna. Gadis itu sibuk menyantap nasi goreng di hadapannya. Sepertinya Yo Han harus lebih berhati-hati. Ia tak boleh membuat Bitna curiga padanya dan Soo Jin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN