Mas, nanti jadi makan siang di rumah kan? Ali tersenyum saat membaca SMS dari Sisi. Dia memang berjanji akan makan siang di rumah. Pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak. Hanya meeting dengan salah satu investor dari Hongkong. Selebihnya pekerjaan bisa dihandle oleh Mario, tangan kanannya di perusahaan. Ali ingin segera pulang ke rumah untuk makan siang dengan keluarganya. Apalagi mama dan papanya sudah pulang dari luar negeri semalam. Jadi pastilah suasana rumah akan semakin ramai dan menyenangkan. Dan Ali tidak mau melewatkan itu. Sekarang ini bagi Ali, Sisi dan Aisha adalah hal terpenting di dunia. Mereka adalah semangat hidup Ali. Pasti, dong. Nanti aku jemput Aisha di sekolah. Kamu nggak usah jemput ya! Iya, Mas. Nggak usah diingetin terus! Aku belum pikun. Ali terkek

