Masuk ke dalam kamar setelah kepergian Rizal dari rumahnya, Aya terduduk lemas di atas ranjangnya sendiri. Ranjang yang sudah tidak lagi sering ditempatinya sejak setahun lebih belakangan. Hanya sesekali, dan itu pun dalam keadaan darurat biasanya. Tapi mulai malam itu, mulai hari itu, Aya akan menempatinya lagi. Aya akan mengisi dan memulai juga mengakhiri harinya dari kamar itu lagi, dari ranjang itu lagi. Saat tengah termenung lama, pintu kamarnya di ketuk, tidak lebih dari sepersekian detik berikutnya pintu kamar itu terbuka sedikit, menampakan sosok sang Ibu yang muncul di balik pintu dengan senyum tipis lembut miliknya. “Ibu boleh masuk?” Aya membalasnya dengan senyum tipis serupa, lantas mengangguk kecil mempersilakan sang Ibu untuk masuk ke kamarnya. Ibu masuk dan duduk di samp

