Bel kamar Rizal dan Aya berbunyi tepat ketika Aya menyelesaikan shalat dzuhurnya. Masih berbekal mukena wanita itu langsung berjalan untuk membuka pintu kamar, yang ketika Aya tanya lewat seruan tadi katanya merupakan layanan kamar. Benar saja, ketika dibuka memang benar-benar layanan kamar, dan itu adalah layanan yang mengantarkan makan siang khusus untuk yang memesannya. "Eh? Saya belum pesen apa-apa kok, Mas. Mas mungkin salah—" "Aku yang pesen, Ay." Suara lain hadir membuat Aya melongok keluar dan mendapati suaminya yang berjalan dari arah lift menghampiri. “Mas yang pesan?” Rizal mengangguk, mengalihkan pandangannya ke arah pelayan hotel dan mempersilakan sosok itu untuk masuk ke dalam kamar dengan membuka pintu kamar mereka lebih lebar. Aya tentu saja menyingkir, bahkan ikut mas

