64. Seblak Tengah Malam

1044 Kata

Danar datang dua puluh menit kemudian ketika kepalaku sedang pusing-pusingnya. Pria itu datang dengan wajah panik, dan langsung masuk unit saat aku membuka pintu. Giko dan Tama masih duduk di sofa yang sama dengan posisi saling memunggungi. Keduanya persis seperti anak kecil yang sedang berantem memperebutkan permen. "Kalian pulang sana. Jangan ganggu Wina istirahat," ujar Danar sesampainya di depan mereka. Aku pikir dia akan mengatakan hal penting apa. Ya, semacam nasehat atau apa, nggak tahunya cuma mengusir mereka. "Lo usir aja dia. Dia membawa pengaruh buruk buat Wina," seru Giko masih terdengar kesal. "Dih, lo aja kali. Yang udah njebak Wina main pacar-pacaran buat bohongin keluarga lo." Giko menggeram. Dia lantas beranjak berdiri dan berkacak pinggang. "Sadar dong, Tam. Lo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN