41. Wawancara

1055 Kata

Aku ingin mengusir Tama, tapi jelas itu nggak mungkin. Ibu dan Dean sudah menangkap keberadaannya yang sama sekali nggak aku duga. Jadi, lelaki yang kini mengenakan outfit semi formal itu duduk di salah satu sofa single seater berseberangan dengan Ibu dan Dean. Sementara aku diberi tugas membuatkan minum bagi tamu tak diundang tersebut. Hanya satu cangkir teh, nggak membutuhkan waktu lama. Kurang dari lima menit aku sudah menyuguhkan teh hangat ke depan Tama. "Jadi, namanya siapa?" tanya Ibu yang aku perhatikan terus memandangi Tama dengan tatapan kagum. "Sebelumnya saya minta maaf sudah lancang datang ke sini. Saya Tama, teman Wina. Kami dulu pernah satu sekolah," terang Tama seraya memperkenalkan diri. Aku yang berdiri di belakang Ibu sambil memeluk nampan hanya bisa mengerutkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN