Aku kembali berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Kali ini berhasil. Setelahnya aku buru-buru menggapai gelas minumku dan menyeruputnya seraya memalingkan wajah. Aku merasa tubuhku memanas, dan sangat yakin kalau wajahku sudah memerah. Tama membuat jantungku rasanya mau lepas. Organ sebesar kepalan tangan itu berdenyut kencang seolah mau lompat keluar. Aku terselamatkan dari situasi ini ketika ponsel Tama berdering. Dia tampak merogoh saku celananya dan mengecek benda pipih yang sedang mengeluarkan suara itu. "Tunggu sebentar, ya. Ada telepon masuk," ucapnya lantas menyingkir. Fiuh! Aku melepaskan napas lega begitu lelaki jangkung itu pergi. Ya Tuhan, aku bahkan masih bisa merasakan tanganku yang bergetar. Tama mengajakku kembali ke unit setelah menerima telepon entah dar

